Perundingan AS-Iran Dilanjut Digelar Usai Pemakaman Ali Khamenei

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Jul 2026, 10:40
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Ilustrasi - Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran. (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Perundingan tidak langsung antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung di Doha, Qatar, pada Selasa, 30 Juni 2026, dilaporkan menghasilkan perkembangan signifikan. Pemerintah Qatar selaku mediator menyatakan bahwa pembicaraan berjalan positif dan akan dilanjutkan setelah pelaksanaan pemakaman pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, menyampaikan bahwa mediator dari Qatar dan Pakistan telah menyelesaikan serangkaian pertemuan terpisah dengan delegasi AS dan Iran.

"Mediator dari Qatar dan Pakistan telah menyelesaikan pertemuan terpisah dengan negosiator AS dan Iran di Doha hari ini. Kemajuannya mencakup nota kesepahaman (MoU) Islamabad yang dibangun berdasarkan hasil KTT Lake Lucerne," kata Majed Al Ansari melalui akun X.

Ia menambahkan bahwa kedua pihak sepakat untuk melanjutkan pembahasan dalam waktu dekat.

"Kedua pihak sepakat untuk melanjutkan pembahasan dalam beberapa waktu ke depan. Ini akan dilaksanakan sesegera mungkin setelah pemakaman mendiang pemimpin tertinggi," pada pekan depan, tambahnya.

Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei diperkirakan akan dihadiri perwakilan dari sekitar 30 negara. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dijadwalkan hadir secara langsung, sementara India hanya akan mengirimkan wakil menteri luar negerinya, sebagaimana dilaporkan Reuters.

Prosesi pemakaman direncanakan melewati sejumlah lokasi yang memiliki nilai simbolis bagi Republik Islam Iran. Rute perjalanan akan dimulai dari pusat pemerintahan di Teheran, kemudian menuju kota-kota suci umat Syiah seperti Qom, Karbala, dan Najaf, sebelum berakhir di Mashhad.

Khamenei, yang selama ini menjadi figur spiritual penting bagi umat Syiah, meninggal dunia pada usia 86 tahun di kediamannya di pusat Teheran pada 28 Februari, bertepatan dengan hari pertama serangan yang dilancarkan AS dan Israel.

Iran Tegaskan Tidak Akan Berunding Langsung dengan AS

Sebelumnya, Iran dan Amerika Serikat memulai pembicaraan tidak langsung pada Rabu (1/7) di Doha dengan fasilitasi Qatar dan Pakistan. Pertemuan tersebut bertujuan mendorong kemajuan negosiasi serta meredakan ketegangan yang meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan dalam beberapa waktu terakhir.

Kedua negara sebelumnya telah menyatakan akan mengirimkan pejabat untuk membahas nota kesepahaman (MoU) yang diharapkan dapat menjadi landasan penghentian konflik di Timur Tengah. Namun, Iran kembali menegaskan bahwa mereka tidak akan melakukan negosiasi secara langsung dengan Amerika Serikat.

Seorang diplomat yang identitasnya dirahasiakan mengungkapkan bahwa pembicaraan antara kedua pihak saat ini masih berlangsung. Sebelumnya, diplomat tersebut menyebut AS dan Iran akan menjalani "pembicaraan teknis tak langsung pada Rabu di Doha dengan dimediasi Qatar dan Pakistan".

Baca Juga: Trump Sebut Pertemuan AS-Iran di Qatar Berlangsung Positif

Menurut sumber diplomatik tersebut, pembahasan lebih banyak berfokus pada aspek teknis dan implementasi kesepakatan yang telah dicapai sebelumnya. Selain itu, kedua pihak juga "melanjutkan kemajuan yang telah dicapai dalam KTT Lake Lucerne".

Sebagai informasi, nota kesepahaman tersebut disepakati dalam pertemuan tingkat tinggi di Lucerne, Swiss, pada bulan lalu. Kesepakatan itu mencakup gencatan senjata selama 60 hari, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta penetapan tenggat waktu menuju kesepakatan permanen terkait penyelesaian konflik dan program nuklir Iran.

Pesan Berbeda ke Publik

Kepada AFP, diplomat yang sama menjelaskan bahwa utusan Amerika Serikat, Jared Kushner dan Steve Witkoff, tidak terlibat dalam pembicaraan teknis di Doha. Keduanya sebelumnya bertemu dengan Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani pada Selasa (30/6).

Kementerian Luar Negeri Qatar menyebut pertemuan tersebut membahas perkembangan nota kesepahaman antara AS dan Iran, termasuk dinamika terbaru di Lebanon.

Peneliti nonresiden Arab Gulf States Institute, Anna Jacobs, menilai proses negosiasi masih berada pada tahap awal dan persaingan kepentingan masih berlangsung, baik secara terbuka maupun tertutup.

"Salah satu hal positifnya adalah mereka tetap melanjutkan dialog setelah bentrokan pekan lalu," ujarnya.

Sementara itu, analis dari Royal United Services Institute di London, H.A. Hellyer, menyoroti minimnya keterbukaan dalam proses perundingan tersebut. Menurutnya, kedua pihak saat ini "menyampaikan pesan yang sangat berbeda kepada publik".

Sejak penandatanganan kesepakatan AS-Iran pada 17 Juni lalu, kedua negara sempat kembali terlibat dalam aksi saling serang di kawasan Teluk. Iran menyerang sebuah kapal dagang di Selat Hormuz, sementara Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim telah menyerang 10 target militer Iran pada akhir pekan lalu.

Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain. Kedua negara tersebut mengecam tindakan Iran.

Tantangan Implementasi Kesepakatan

Ilustrasi - Kesepakatan damai negara Iran dan Amerika Serikat. <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Kesepakatan damai negara Iran dan Amerika Serikat. (Antara)

Kepala negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengakui bahwa implementasi kesepakatan akan menghadapi berbagai tantangan.

"ketika perang sebesar ini berakhir, tantangan dalam pelaksanaan, berbagai insiden, dan perbedaan pendapat akan tetap ada. Terutama jika melibatkan pihak seperti rezim Israel."

Ia menyebut delegasi Iran di Doha akan memfokuskan pembahasan pada implementasi kesepakatan terkait Selat Hormuz dan konflik di Lebanon.

"Republik Islam berkomitmen memastikan kesepakatan ini dijalankan, dan pihak lawan, yaitu Amerika Serikat beserta sekutunya, juga harus memenuhi komitmen mereka," katanya.

Menjelang dimulainya pembicaraan di Qatar, intensitas bentrokan antara kedua pihak dilaporkan mulai menurun. Di Lebanon, konflik antara Israel dan Hizbullah juga menunjukkan tanda-tanda mereda.

Iran menegaskan bahwa setiap kesepakatan yang dicapai harus mencakup penghentian konflik di Lebanon serta penarikan pasukan Israel dari wilayah selatan negara tersebut.

Ghalibaf juga mengungkapkan bahwa ekspor minyak Iran mengalami peningkatan signifikan setelah Amerika Serikat mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, yang sebelumnya diberlakukan sebagai respons atas penutupan Selat Hormuz oleh Teheran.

"Sejak blokade dicabut, kami telah mengekspor lebih dari 40 juta barel minyak," katanya kepada televisi pemerintah.

"Sebaliknya, selama 50 hingga hampir 60 hari sebelumnya, kami benar-benar tidak mampu mengekspor satu barel minyak pun." jelasnya.

x|close