Ntvnews.id, Taheran - Jutaan warga Iran bersama delegasi dari sekitar 30 negara diperkirakan akan menghadiri rangkaian upacara pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di Teheran. Namun, di tengah besarnya kehadiran internasional tersebut, delegasi dari Amerika Serikat dan negara-negara Barat dipastikan tidak akan ikut hadir.
Dilansir dari Al Jazeera, Sabtu, 4 Juli 2026, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan sedikitnya delapan kepala pemerintahan, kepala negara, dan pimpinan parlemen dari 12 negara telah mengonfirmasi kehadiran mereka. Sementara itu, delegasi dari Irak, Afghanistan, dan Pakistan dilaporkan sudah tiba di Teheran.
Baghaei menegaskan bahwa Iran tidak mengirimkan undangan resmi kepada negara-negara Eropa. Menurut dia, negara-negara yang hadir dalam prosesi tersebut merupakan pihak yang "berada di sisi sejarah yang benar". Ia juga menuding sejumlah pemerintah Eropa mengambil sikap yang "memalukan" terkait tindakan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Rusia mengutus mantan Presiden sekaligus Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, sebagai perwakilan khusus Presiden Vladimir Putin.
China juga mengirimkan delegasi tingkat tinggi yang dipimpin oleh Wakil Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional. Sementara itu, pemerintahan Taliban Afghanistan diwakili oleh Pelaksana Tugas Menteri Luar Negeri Amir Khan Muttaqi.
Baca Juga: Seruan Anti-Amerika Menggema Saat Ribuan Pelayat Padati Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran
Dari Irak, delegasi dipimpin oleh Presiden Nizar Amidi dan Ketua Parlemen Haibet al-Halboosi. Perdana Menteri Wilayah Kurdistan, Nechirvan Barzani, turut hadir dalam rombongan tersebut.
Selain itu, sejumlah negara lain yang dipastikan mengirimkan delegasi antara lain Pakistan, India, Turki, Azerbaijan, Armenia, Georgia, Tajikistan, Kazakhstan, Turkmenistan, Bangladesh, Malaysia, Oman, Qatar, Belarus, Kirgizstan, Uzbekistan, Mesir, Ghana, Nikaragua, Republik Demokratik Kongo, Serbia, dan Kuba.
Delegasi juga akan hadir dari Tunisia, Lebanon, Namibia, Sri Lanka, Myanmar, Gambia, Thailand, serta perwakilan organisasi internasional seperti Shanghai Cooperation Organisation dan Economic Cooperation Organisation.
Ayatollah Ali Khamenei, yang wafat pada usia 86 tahun akibat serangan terhadap kediamannya di Teheran pada Februari lalu, disemayamkan selama tiga hari di kompleks ibadah Grand Mosalla Teheran, salah satu pusat keagamaan terbesar di Iran.
Sebelumnya, upacara berkabung telah dilaksanakan pada Kamis malam dengan dihadiri ribuan pelayat yang mengenakan pakaian serba hitam. Media pemerintah Iran menyebut para pelayat terdiri dari keluarga korban yang kehilangan anggota keluarganya dalam konflik selama 12 hari pada 2025 serta perang Iran yang baru-baru ini terjadi.
Dalam prosesi penghormatan, sejumlah pelayat tampak melemparkan syal dan berbagai barang pribadi agar dapat menyentuh peti jenazah, sebuah tradisi yang umum dilakukan di Iran sebagai simbol memperoleh berkah.
Peti jenazah Ali Khamenei sendiri dibalut bendera merah bertuliskan kaligrafi putih "Ya Hussein", ungkapan yang memiliki makna penting dalam tradisi Syiah untuk mengenang kemartiran cucu Nabi Muhammad SAW pada abad ke-7.
Rangkaian penghormatan publik dimulai di Grand Mosalla Teheran pada Sabtu dan Minggu, kemudian dilanjutkan dengan upacara di Kota Qom pada Senin. Prosesi terakhir berupa pemakaman dan penguburan dijadwalkan berlangsung di Kota Mashhad pada Rabu mendatang.
Seorang warga memberikan penghormatan bunga mawar saat unjuk rasa untuk berkabung untuk pemimpin tertinggi Iran yang telah meninggal, Ali Khamenei, dan menyatakan kesetiaan kepada Pemimpin Tertinggi yang sedang menjabat, Mojtaba Khamenei, di Teheran, (Antara)