Sekjen NATO Sebut Serangan AS ke Iran "Sangat Diperlukan"

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Jul 2026, 04:45
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte. Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte. (AP)

Ntvnews.id, Ankara - Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menilai serangan terbaru Amerika Serikat (AS) terhadap Iran merupakan langkah yang diperlukan menyusul dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Teheran.

Militer AS melancarkan gelombang serangan terhadap sejumlah target di Iran pada Selasa, 7 Juli 2026, waktu setempat. Washington juga mencabut izin penjualan minyak Iran setelah tiga kapal tanker diserang di kawasan Selat Hormuz.

Perkembangan tersebut semakin memperburuk situasi gencatan senjata yang sebelumnya sudah berada dalam kondisi rapuh.

"Saya pikir itu mutlak diperlukan karena ketika ada gencatan senjata, dan Iran pada dasarnya melanggar gencatan senjata tersebut -- kita melihat apa yang terjadi kemarin dengan adanya serangan terhadap kapal-kapal -- menurut saya, sangatlah penting bagi AS untuk bereaksi dengan tegas," kata Rutte saat berbicara kepada wartawan menjelang pertemuan puncak para pemimpin NATO di Ankara, Turki, seperti dilansir dari Reuters, Kamis, 9 Juli 2026.

Dalam KTT NATO tersebut, para pemimpin Eropa berupaya meyakinkan Presiden AS Donald Trump agar tetap berkomitmen terhadap aliansi pertahanan itu. Upaya tersebut dilakukan setelah hubungan Trump dengan sejumlah sekutu NATO memanas akibat perbedaan pandangan mengenai konflik Iran dan isu Greenland.

Rutte menegaskan tidak ada alasan untuk meragukan komitmen Amerika Serikat terhadap NATO.

"Namun, ada juga harapan agar negara-negara Eropa dan Kanada akan menyetarakan tingkat pengeluaran mereka dengan Amerika Serikat, yang menurut saya sangatlah wajar," ucapnya.

Baca Juga: Iran Nilai Serangan AS Melanggar Kesepakatan Gencatan Senjata

"Kabar baiknya adalah hal ini merupakan kemenangan besar hari ini. Ini adalah kekalahan bagi (Presiden Rusia Vladimir) Putin, dan kemenangan bagi Presiden Trump, bahwa negara-negara Eropa dan Kanada benar-benar melakukan hal tersebut," ujarnya.

Sementara itu, ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah Iran dituduh menyerang tiga kapal komersial yang melintasi jalur pelayaran tersebut, termasuk kapal milik Qatar dan Arab Saudi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei membantah tuduhan tersebut. Ia menegaskan Teheran tetap berkomitmen menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Namun, Baghaei juga mengingatkan bahwa "kapal-kapal yang menggunakan rute (di Selat Hormuz) tanpa koordinasi dengan otoritas Iran, telah mengekspose diri mereka pada risiko".

Ilustrasi - Miniatur bendera Amerika Serikat dan Iran. <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Miniatur bendera Amerika Serikat dan Iran. (Antara)

Di sisi lain, lembaga penyiaran pemerintah Iran, IRIB, mengutip sumber anonim yang menyebut kapal tanker Qatar menjadi sasaran setelah mengabaikan peringatan berulang dari pasukan Iran saat melintasi Selat Hormuz dengan pengawalan Angkatan Laut AS.

Sebagai respons atas insiden tersebut, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melancarkan serangan terhadap lebih dari 80 target yang berkaitan dengan Iran. Sasaran operasi meliputi sistem pertahanan udara, radar pesisir, hingga lebih dari 60 kapal cepat milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

IRGC kemudian mengklaim membalas serangan tersebut dengan menggempur pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait.

"Angkatan Laut dan Angkatan Udara IRGC melakukan operasi gabungan rudal dan drone, menyerang 85 fasilitas militer utama AS" di kedua negara itu dan menembak jatuh sebuah drone MQ-9.

x|close