Ntvnews.id, Berlin - Pemerintah Jerman mengungkapkan keprihatinannya atas meningkatnya jumlah kematian akibat penyalahgunaan narkoba, terutama di kalangan anak muda. Komisaris Narkoba Federal Jerman Hendrik Streeck menyebut pengumuman data kematian terkait narkoba telah menjadi semacam "ritual tahunan", namun tahun ini ia mengaku terkejut dengan lonjakan korban berusia muda.
Dilansir dari DW, Sabtu, 11 Juli 2206, Sepanjang 2025, tercatat 2.150 orang meninggal dunia akibat penyalahgunaan narkoba di Jerman. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan 2.137 kematian pada 2024 dan hanya terpaut tipis dari rekor tertinggi sebanyak 2.227 kematian yang terjadi pada 2023.
Dari total korban, sekitar seperempat atau 528 orang berusia di bawah 30 tahun, meningkat 53 persen dibandingkan 2021. Sementara itu, korban berusia di bawah 20 tahun mencapai 106 orang atau hampir dua kali lipat dibandingkan empat tahun sebelumnya. Rata-rata usia korban tercatat 40,6 tahun.
"Banyak dari anak-anak muda ini belum mampu memahami sepenuhnya risiko yang mereka hadapi," ujar Streeck.
Streeck, yang juga berprofesi sebagai dokter dan anggota parlemen Bundestag dari Partai Kristen Demokrat (CDU), menilai tekanan psikologis, krisis dalam masa transisi kehidupan, rasa ingin tahu, serta sikap sembrono menjadi sejumlah faktor yang mendorong meningkatnya penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda.
Data terbaru menunjukkan 81,5 persen kasus kematian berkaitan dengan penggunaan beberapa jenis narkoba secara bersamaan. Selain itu, kematian yang berhubungan dengan penggunaan crack dan bubuk kokain melonjak hingga 110,7 persen sejak 2021.
Di Berlin, kepolisian baru-baru ini memperingatkan masyarakat mengenai modus baru para pengedar yang membagikan paket sampel narkoba gratis melalui kotak surat warga.
Paket plastik berwarna-warni itu berisi berbagai jenis narkoba seperti kokain, ekstasi, ketamin, dan ganja, lengkap dengan nomor kontak pengedar. Polisi juga menemukan stiker berkode QR yang mengarahkan pengguna kepada jaringan pengedar di sekitar klub malam dan kawasan hiburan, serta kartu nama berisi informasi saluran WhatsApp dan Telegram.
Baca Juga: Prabowo Berduka Atas Gugurnya Tiga Polisi Saat Operasi Narkoba di Katingan
Laporan Kantor Polisi Kriminal Federal Jerman (BKA) juga menunjukkan peningkatan signifikan pada kematian yang berkaitan dengan obat-obatan resep.
Meski obat resep umumnya bukan penyebab tunggal kematian, zat seperti benzodiazepin, obat penghilang rasa sakit berbasis opioid, dan obat psikoaktif lainnya kerap berkontribusi terhadap kematian korban.
Jumlah kematian yang berkaitan dengan obat-obatan tersebut meningkat dari 365 kasus pada 2021 menjadi 769 kasus pada 2025.
Pada periode yang sama, penyebaran opioid sintetis juga terus meningkat. Sedikitnya 118 kematian tercatat melibatkan fentanyl, atau naik lebih dari 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Streeck sebelumnya telah mengingatkan bahwa pasar narkoba kini semakin sulit dipantau dan zat-zat yang beredar menjadi semakin berbahaya.
Menurut laporan, opioid sintetis buatan laboratorium mulai menggantikan narkotika berbahan opium dari Afganistan setelah Taliban melarang produksi opium.
Untuk mengatasi situasi tersebut, pemerintah Jerman akan memperkuat sistem pemantauan dan peringatan dini guna mengidentifikasi zat berbahaya yang beredar di pasaran. Selain itu, pelatihan bagi tenaga kesehatan dan pekerja sosial serta layanan pencegahan dan pendampingan bagi kaum muda juga akan ditingkatkan.
"Narkoba, obat palsu, dan campuran berisiko tinggi saat ini sering kali hanya berjarak beberapa klik saja," kata Streeck.
Ia menambahkan bahwa "pengedar di sudut-sudut jalan" bukan lagi satu-satunya ancaman dalam peredaran narkoba saat ini.
Streeck juga menyoroti minimnya dukungan terhadap sistem penanganan kecanduan narkoba. Menurutnya, pemerintah daerah semakin terbebani dalam menghadapi persoalan tersebut.
"Sistem ini berada di bawah tekanan," katanya. "Bantuan sulit ditemukan di banyak tempat, datang terlalu lambat, dan sangat kekurangan dana."
Di Klinik Patrida di Berlin, yang menyediakan terapi diamorfin atau heroin medis bagi pecandu kronis, sejumlah pasien membagikan kisah perjuangan mereka.
Robert, pasien berusia 62 tahun, mengaku kemungkinan besar tidak akan bertahan hidup tanpa perawatan di klinik tersebut.
Ilustrasi narkoba (Freepik/ azerbaijan_stockers)
"Itulah hal yang menyedihkan. Saya pasti sudah mati," ujarnya.
Ia menyebut penggunaan heroin sebagai bentuk upaya mengobati dirinya sendiri.
"Mengapa kamu menggunakannya? Mengapa kamu menginginkannya? Seseorang bisa minum bir dan merasa tenang, sementara orang lain mengisap satu kantong [narkoba]," ujarnya.
Pasien lain bernama Lorant juga menceritakan sebagian besar teman-temannya meninggal akibat kecanduan heroin.
"Kami adalah orang-orang terakhir yang masih hidup," ujar pasien Patrida lainnya, Lorant, ketika menceritakan banyak temannya yang terenggut nyawanya akibat kecanduan heroin.
Lorant mengungkapkan dirinya mulai terjerumus ke narkoba setelah menjalani hukuman penjara saat berusia 19 tahun.
"Saya masuk penjara sebagai pengisap ganja dan keluar penjara sebagai pecandu ganja," paparnya.
Kini berusia 46 tahun, ia mengatakan narkoba menjadi pelarian untuk menghadapi depresi dan keinginan mengakhiri hidup.
Klinik Patrida saat ini menangani sekitar 180 pasien, dengan sekitar 120 di antaranya menerima suntikan diamorfin dua kali sehari. Klinik tersebut juga menyediakan layanan psikoterapi serta pendampingan sosial untuk membantu pasien menjalani kehidupan sehari-hari.
Direktur Klinik Patrida, Thomas Peschel, mengatakan tingginya permintaan membuat banyak calon pasien terpaksa ditolak karena keterbatasan tenaga medis.
"Tidak cukup jumlah dokternya," ujar Peschel.
Ia menambahkan bahwa banyak dokter yang dahulu aktif menangani pasien pecandu dan krisis HIV/AIDS kini mulai memasuki masa pensiun.
Sementara itu, pemerintah Jerman bersama Prancis tengah mengembangkan proyek penelitian bersama guna mencari terapi pengganti bagi para pecandu narkoba sebagai bagian dari upaya jangka panjang menekan angka kematian akibat penyalahgunaan zat adiktif.
Ilustrasi narkoba (Freepik)