Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Melambat Usai Eskalasi AS-Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Jul 2026, 20:41
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Kapal kargo komersial dan kapal tanker minyak mentah yang berlabuh di Teluk Oman, lepas pantai Muscat, Oman, pada Sabtu, 21 Juni 2026, saat mereka bersiap untuk melintasi Selat Hormuz yang sangat penting. Lalu lintas maritim di sepanjang koridor perdagangan global yang vital ini mengalami gangguan serius menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang meningkat pada awal Februari. Kapal kargo komersial dan kapal tanker minyak mentah yang berlabuh di Teluk Oman, lepas pantai Muscat, Oman, pada Sabtu, 21 Juni 2026, saat mereka bersiap untuk melintasi Selat Hormuz yang sangat penting. Lalu lintas maritim di sepanjang koridor perdagangan global yang vital ini mengalami gangguan serius menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang meningkat pada awal Februari. (Antara)

Ntvnews.id, IstanbulHarga minyak dunia kembali mengalami kenaikan, sementara aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz melambat setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi tersebut memicu kekhawatiran terhadap keamanan salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia.

Pada Minggu, 12 Juli 2026, harga minyak mentah Brent naik sekitar 3,5 persen hingga mendekati 79 dolar AS per barel. Nilai tersebut sekitar sembilan persen lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik terbaru pecah.

Data perusahaan analisis maritim Kpler menunjukkan hanya 22 kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Kamis. Sebelum eskalasi terjadi, lebih dari 130 kapal per hari biasanya melewati jalur pelayaran strategis tersebut.

Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sekitar 140 sasaran di Iran sebagai respons atas serangan Teheran terhadap sebuah kapal kontainer di Selat Hormuz.

Baca JugaSelat Hormuz Memanas, Airlangga Wanti-wanti Harga Minyak Bisa Bergejolak

Iran kemudian menyatakan telah membalas serangan tersebut dengan menyerang posisi Amerika Serikat di kawasan.

Kepala Riset Timur Tengah Kpler, Amena Bakr, mengatakan eskalasi terbaru telah mengguncang kepercayaan perusahaan pelayaran komersial. Pernyataan itu dikutip dalam laporan The New York Times.

"Kepercayaan itu terkikis sangat, sangat cepat. Kami kembali ke titik awal dalam situasi ini," kata Bakr.

Dalam laporan yang dirilis pada Jumat, 10 Juli 2026, Badan Energi Internasional (IEA) menyebut pemulihan ekspor minyak dari kawasan Teluk setelah gencatan senjata awal antara Amerika Serikat dan Iran sempat mendorong peningkatan pasokan minyak global.

Baca JugaIMF Prediksi Harga Minyak Belum Kembali ke Level Pra-Konflik AS-Iran

Meski demikian, IEA mengingatkan bahwa pemulihan yang lebih luas masih sangat bergantung pada meredanya kembali konflik dalam waktu dekat.

Bakr menilai pasar energi mulai beradaptasi dengan kondisi ketegangan yang berulang di kawasan Timur Tengah.

"Pasar telah menyesuaikan diri dengan kondisi normal baru. Pergerakan harga belum sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya maupun tingkat risiko geopolitik," ujarnya.

(Sumber: Antara)

x|close