Ntvnews.id, Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan bahwa status WHO-Listed Authority (WLA) yang kini dimiliki Indonesia menjadi peluang besar untuk mendorong ekspor produk kosmetik dalam negeri. Pengakuan tersebut dinilai mampu meningkatkan kepercayaan dunia terhadap sistem pengawasan yang diterapkan regulator nasional.
Mengacu pada laman resmi WHO, Indonesia menjadi negara berpendapatan menengah pertama yang berhasil memperoleh status WLA. Pengakuan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas komitmen Indonesia dalam memperkuat sistem pengawasan, khususnya di sektor vaksin.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan bahwa pencapaian tersebut membawa dampak positif bagi industri kosmetik nasional.
"Nah tentu reputasi ini berdampak. Pada umumnya kosmetik di berbagai belahan dunia itu masuk sebagian menjadi evaluasi obat atau medis," kata Kepala BPOM Taruna Ikrar di Jakarta, Senin, dalam wawancara bersama ANTARA.
Baca Juga: BPOM Temukan 14 Kosmetik Mengandung Bahan Berbahaya, Mayoritas Produk Lokal
Menurut Taruna, salah satu manfaat dari status tersebut adalah adanya mekanisme product reliance, yakni produk yang telah melalui proses penilaian BPOM memiliki peluang lebih besar untuk diterima regulator di 39 negara yang juga memiliki otoritas berstatus WHO-Listed Authority (WLA).
Ia menilai, pengakuan internasional tersebut menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing sekaligus memperkuat perkembangan industri kosmetik Indonesia.
Mengenai peluang ekspor, Taruna menyebut pertumbuhan jumlah penduduk dunia membuka pasar baru yang sangat potensial. Ia mengatakan populasi global diperkirakan mencapai 9,3 miliar jiwa pada 2045, meningkat lebih dari 1 miliar orang dibandingkan jumlah penduduk dunia saat ini yang sekitar 8 miliar.
Untuk memanfaatkan pasar baru maupun pasar yang sudah ada, Indonesia harus memiliki daya saing yang kuat serta mampu membuktikan bahwa produk kosmetiknya benar-benar memiliki manfaat sesuai klaim yang diberikan.
"Dan saya optimis produk-produk Indonesia bisa bersaing di dunia internasional karena sebetulnya bahan baku kita. Kita bisa mandiri di bidang kosmetik," katanya.
Baca Juga: BPOM Temukan 2,1 Juta Produk Kosmetik Ilegal Bernilai Rp35,8 Miliar
Taruna juga menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah sebagai bahan baku kosmetik. Tercatat terdapat lebih dari 31 ribu jenis tumbuhan yang dapat diekstrak menjadi bahan kosmetik, selain kekayaan mineral dan sumber protein dari fauna.
Ia menambahkan, industri kosmetik saat ini menjadi salah satu sektor yang berkembang pesat. Berdasarkan data Lembaga Konsumen Indonesia, nilai ekonomi industri kosmetik mencapai sekitar 10 miliar dolar AS atau lebih dari Rp180 triliun setiap tahun.
"Jadi sangat besar, itu per tahun. Karena besarnya maka tentu kita berharap masyarakat pelaku usaha atau industri yang kosmetik ini bisa dibantu oleh BPOM untuk semakin berkembang, semakin tumbuh," ujarnya.
Selain itu, Taruna menyebut sektor kosmetika juga terus menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan sekitar 6,7 persen setiap tahunnya.
(Sumber: Antara)
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar dalam wawancara bersama ANTARA di Jakarta (Antara)