Mencekam! Houthi Yaman Serang Bandara Abha Arab Saudi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 15 Jul 2026, 07:45
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip foto - Seorang pengunjuk rasa memegang model rudal Houthi selama protes terhadap serangan Israel yang terus berlanjut di Jalur Gaza serta sanksi yang dipimpin AS terhadap kelompok Houthi di Sanaa, Yaman (16/2/2024). ANTARA/Xinhua/Mohammed Moham Arsip foto - Seorang pengunjuk rasa memegang model rudal Houthi selama protes terhadap serangan Israel yang terus berlanjut di Jalur Gaza serta sanksi yang dipimpin AS terhadap kelompok Houthi di Sanaa, Yaman (16/2/2024). ANTARA/Xinhua/Mohammed Moham (Antara)

Ntvnews.id, Riyadh - Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim telah meluncurkan rudal balistik dan pesawat nirawak ke Bandara Internasional Abha, Arab Saudi. Serangan itu disebut sebagai balasan atas serangan udara yang menghantam Bandara Internasional Sanaa beberapa jam sebelumnya.

Hingga kini belum ada laporan mengenai korban jiwa maupun korban luka akibat insiden tersebut. Namun, serangan ini dinilai sebagai eskalasi paling signifikan antara Houthi dan Arab Saudi sejak konflik kedua pihak mereda dalam beberapa tahun terakhir.

Dikutip dari AsiaOne, Rabu, 15 Juli 2026, pemerintah Arab Saudi belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan Houthi yang menyebut Riyadh berada di balik serangan terhadap Bandara Sanaa.

Juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, melalui pernyataan video yang diunggah di Telegram, memperingatkan seluruh maskapai penerbangan agar menghindari wilayah udara Arab Saudi.

Ia menegaskan bahwa peringatan tersebut tetap berlaku hingga blokade terhadap Bandara Internasional Sanaa dicabut.

Baca Juga: Houthi Buka Front Baru Serang Israel, Ancam Jalur Perdagangan Laut Merah

Sebelumnya, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menyatakan serangan terhadap landasan pacu Bandara Sanaa dilakukan untuk mencegah sebuah pesawat asal Iran mendarat di wilayah tersebut.

Houthi kemudian berjanji akan membalas serangan itu, yang mereka anggap sebagai eskalasi besar pertama setelah periode ketegangan yang relatif mereda.

PBB Khawatir Konflik Meluas

Dalam sidang darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin, para pejabat PBB menyampaikan kekhawatiran bahwa situasi tersebut dapat memicu konflik yang lebih luas di kawasan.

"Yaman dan kawasan yang lebih luas tidak mampu menghadapi siklus eskalasi baru," kata Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Politik, Khaled Khiari, di hadapan Dewan Keamanan.

Ia mengajak seluruh pihak untuk kembali menempuh jalur perundingan di bawah mediasi PBB guna mencegah memburuknya kondisi keamanan.

Selama bertahun-tahun, koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi terlibat konflik dengan Houthi, yang menguasai ibu kota Sanaa serta sebagian besar wilayah utara Yaman.

Yahya Saree sebelumnya menuding Arab Saudi telah mengakhiri masa deeskalasi melalui serangan udara terhadap Bandara Sanaa.

"Agresi ini tidak akan dibiarkan tanpa balasan atau hukuman," ujarnya.

Dalam pernyataan terpisah, Saree juga menuduh serangan tersebut bertujuan menghentikan penerbangan kemanusiaan yang mengangkut pasien serta warga sipil yang hendak keluar maupun masuk ke ibu kota Yaman.

Konflik Yaman Kembali Memanas

SANAA, 28 Februari (Xinhua) -- Pemimpin Houthi, Abdulmalik al-Houthi, pada Sabtu, 28 Maret 2026 malam waktu setempat mengatakan kelompoknya menyatakan solidaritas penuh dengan Iran dan  <b>(Antara)</b> SANAA, 28 Februari (Xinhua) -- Pemimpin Houthi, Abdulmalik al-Houthi, pada Sabtu, 28 Maret 2026 malam waktu setempat mengatakan kelompoknya menyatakan solidaritas penuh dengan Iran dan (Antara)

Perang saudara di Yaman pecah pada 2014 setelah Houthi merebut Sanaa dan sebagian besar wilayah utara negara tersebut, sehingga memaksa pemerintah yang sah mengasingkan diri.

Pada 2015, Arab Saudi bersama Uni Emirat Arab dan sejumlah negara lainnya membentuk koalisi militer untuk mendukung pemulihan pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional.

Dalam beberapa pekan terakhir, hubungan Houthi dan Arab Saudi kembali memanas setelah kelompok tersebut menuduh pesawat tempur Saudi melanggar wilayah udara Yaman untuk menghalangi perjalanan delegasi Houthi menuju Teheran dalam rangka menghadiri pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Menteri Pertahanan Yaman, Jenderal Taher al-Aqili, mengatakan serangan terhadap landasan pacu Bandara Sanaa dilakukan guna mencegah pesawat Iran yang membawa delegasi Houthi kembali mendarat di ibu kota Yaman.

Sementara itu, juru bicara Koalisi Pemulihan Legitimasi di Yaman pimpinan Arab Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Malki, menyatakan sistem pertahanan udara Saudi berhasil mencegat rudal balistik yang ditembakkan Houthi ke wilayah selatan kerajaan, meski tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai insiden tersebut.

x|close