Ntvnews.id, Riyadh - Arab Saudi dan milisi Houthi di Yaman kembali terlibat aksi saling serang di tengah memanasnya kembali konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan meningkat setelah Houthi meluncurkan rudal ke wilayah Saudi sebagai respons atas serangan udara yang mereka tuding dilakukan Riyadh terhadap landasan pacu Bandara Internasional Sanaa pada Senin, 13 Juli 2026.
Milisi Houthi yang menguasai sebagian besar wilayah Yaman, termasuk ibu kota Sanaa, mengklaim telah menyerang Bandara Internasional Abha di Arab Saudi, yang berada di wilayah selatan dekat perbatasan Yaman.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan serangan itu dilakukan menggunakan rudal balistik dan pesawat nirawak sebagai balasan atas serangan Saudi.
"Menanggapi agresi kriminal Saudi ini, Angkatan Bersenjata Yaman melakukan operasi militer yang menargetkan Bandara Internasional Abha, menggunakan sejumlah rudal balistik dan kendaraan udara tak berawak," kata Yahya Saree dalam pernyataan video, dikutip dari AFP, Rabu, 15 Juli 2026.
Serangan tersebut menjadi aksi pertama yang diklaim Houthi terhadap Arab Saudi sejak gencatan senjata informal berlaku pada Maret 2022, menyusul serangan sebelumnya terhadap fasilitas energi Saudi.
Baca Juga: Houthi Buka Front Baru Serang Israel, Ancam Jalur Perdagangan Laut Merah
Houthi menyebut serangan terbaru Saudi sebagai bentuk agresi yang mengakhiri periode de-eskalasi. Kelompok itu juga memperingatkan maskapai penerbangan agar tidak melintasi wilayah udara Arab Saudi hingga blokade terhadap Bandara Sanaa dicabut.
Serangan ke Bandara Sanaa telah dikonfirmasi oleh pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan mendapat dukungan dari Arab Saudi.
Di sisi lain, laporan Axios menyebut Putra Mahkota sekaligus pemimpin de facto Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MbS), meminta dukungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melancarkan operasi militer di Yaman. Trump disebut memberikan persetujuan atas permintaan tersebut.
Saat ini, ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah utara Yaman, termasuk kota pelabuhan Hodeidah di pesisir Laut Merah, berada di bawah kendali Houthi yang bersekutu dengan Iran. Sementara itu, pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi serta negara-negara Teluk berkedudukan di Aden, wilayah selatan negara tersebut.
Koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi telah mengintervensi konflik Yaman sejak 2015, setelah Houthi merebut Sanaa dan menggulingkan pemerintahan yang sah. Konflik berkepanjangan itu telah memicu pengungsian besar-besaran, kehancuran infrastruktur, dan krisis pangan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan menyebut situasi di Yaman sebagai salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
Awal Mula Ketegangan Memanas
Kelompok bersenjata yang setia kepada kelompok Houthi berpartisipasi dalam unjuk rasa suku yang mendukung dimulainya kembali serangan terhadap kapal-kapal Israel, di Sanaa, Yaman, pada 11 Maret 2025. (Antara)
Eskalasi terbaru bermula sekitar 10 hari sebelumnya ketika sebuah pesawat milik maskapai Iran, Mahan Air, mendarat di Bandara Sanaa untuk menjemput delegasi Houthi yang menghadiri pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Penerbangan langsung dari Iran ke Sanaa merupakan peristiwa yang tidak lazim karena selama lebih dari satu dekade jalur tersebut diblokir Arab Saudi. Riyadh menilai penerbangan semacam itu berpotensi digunakan untuk mengirimkan persenjataan maupun penasihat militer Iran kepada Houthi.
Seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan, "Mahan Air adalah maskapai yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Maskapai itu telah ditetapkan sebagai entitas yang dikenai sanksi oleh pemerintah Amerika Serikat," seperti dikutip Reuters.
Houthi menuduh jet tempur Arab Saudi sempat berupaya menghalangi pesawat tersebut mendarat, namun gagal. Kelompok itu kemudian mengancam akan menyerang bandara-bandara di Arab Saudi apabila kejadian serupa kembali terjadi.
Baca Juga: Pemimpin Houthi Serukan Solidaritas Penuh untuk Iran
Pada Senin, ketika pesawat Iran itu kembali ke Yaman sambil membawa delegasi Houthi, militer Saudi melancarkan serangan terhadap Bandara Sanaa. Akibatnya, pesawat tersebut mengalihkan pendaratan ke Kota Al Hudaydah di pesisir Laut Merah.
Seorang pejabat AS mengklaim pesawat tersebut membawa senjata, komponen rudal, serta tenaga ahli militer untuk mendukung Houthi. Sebagai respons atas serangan itu, Houthi meluncurkan rudal balistik dan drone ke Bandara Abha serta kembali memperingatkan maskapai penerbangan agar tidak melintasi wilayah udara Arab Saudi hingga blokade terhadap Bandara Sanaa dihentikan.
SANAA, 28 Februari (Xinhua) -- Pemimpin Houthi, Abdulmalik al-Houthi, pada Sabtu, 28 Maret 2026 malam waktu setempat mengatakan kelompoknya menyatakan solidaritas penuh dengan Iran dan (Antara)