Zelenskyy Reshuffle Besar-besaran di Kabinet Ukraina

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 17 Jul 2026, 09:45
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. ANTARA/Anadolu/am. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. ANTARA/Anadolu/am. (Antara)

Ntvnews.id, Kyiv - Parlemen Ukraina pada Selasa, 15 Juli 2026, menyetujui pengunduran diri Perdana Menteri Yulia Svyrydenko, yang sekaligus menandai pembubaran kabinet pemerintahan. Langkah ini menjadi bagian dari perombakan politik yang dipercepat di tengah berbagai tantangan yang dihadapi pemerintahan Presiden Volodymyr Zelenskyy.

Sebelumnya, pada Minggu, 13 Juli 2026 Zelenskyy mengumumkan melalui media sosial bahwa ia telah menawarkan jabatan baru kepada Svyrydenko. Sejumlah media Ukraina melaporkan bahwa ia berpeluang menjadi duta besar Ukraina berikutnya untuk Amerika Serikat.

"Saya berterima kasih kepada Yulia atas kinerjanya yang jelas, konsisten, dan efektif sebagai perdana menteri, serta atas pengabdiannya selama bertahun-tahun sebagai bagian dari Tim Ukraina," tulis Zelenskyy di Telegram, sebagaimana dikutip dari DW, Jumat, 17 Juli 2026.

"Saya telah menawarkannya posisi baru yang penting dalam hubungan dengan salah satu mitra utama kami. Saya berharap, bersama anggota parlemen, kami akan melakukan perubahan yang diperlukan dalam pemerintahan Ukraina." tambahnya.

Bersamaan dengan pengumuman tersebut, Zelenskyy juga mengunggah foto pertemuan dengan sejumlah pejabat tinggi, di antaranya Kepala Naftogaz Sergii Koretskyi, Wakil Perdana Menteri Pertama sekaligus Menteri Energi Denys Shmyhal, Menteri Dalam Negeri Ihor Klymenko, Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov, serta Wali Kota Kharkiv Ihor Terekhov.

Perombakan Dipercepat

Ilmuwan politik dari Universitas Nasional Taras Shevchenko Kyiv, Ihor Reiterovych, mengatakan kepada DW bahwa reshuffle kabinet sebenarnya direncanakan berlangsung pada musim gugur atau musim semi mendatang. Namun, perkembangan politik dalam beberapa waktu terakhir membuat proses tersebut dipercepat.

Salah satu pemicunya adalah situasi Duta Besar Ukraina untuk Amerika Serikat, Olga Stefanishyna, yang tengah diselidiki otoritas antikorupsi atas dugaan aktivitas sebelum menjabat di Washington. Di tengah proses penyelidikan itu, muncul kabar bahwa Stefanishyna mempertimbangkan mundur dari jabatannya.

Baca Juga: Zelenskyy Ungkap Isi Percakapan dengan Trump, Bahas Medan Perang hingga Diplomasi Ukraina

Menurut Reiterovych, Washington kemungkinan memberikan sinyal bahwa skandal yang melibatkan duta besar tersebut merupakan persoalan serius. Karena itu, Zelenskyy dinilai bergerak cepat dengan menyiapkan Svyrydenko sebagai kandidat pengganti, mengingat pengalamannya menjalin kerja sama dengan Amerika Serikat, termasuk dalam kesepakatan terkait bahan baku.

Selain itu, Reiterovych menilai berbagai skandal di tubuh militer juga menjadi faktor yang mendorong percepatan reshuffle. Sejumlah laporan investigasi mengungkap dugaan penyiksaan, perlakuan tidak manusiawi terhadap para rekrutan, hingga upaya menutupi kematian di luar operasi tempur.

Otoritas Ukraina juga sedang menyelidiki dugaan pelanggaran dalam proses wajib militer dan mobilisasi, terutama setelah ditemukan banyak peserta mobilisasi yang ternyata tidak memenuhi syarat kesehatan untuk bertugas.

Menurut Reiterovych, pergantian pejabat dapat membantu mengalihkan perhatian publik dari berbagai persoalan yang sedang membelit institusi militer. Ia juga menilai hubungan komunikasi yang kurang harmonis antara Zelenskyy dengan beberapa anggota kabinet, termasuk Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov, menjadi salah satu alasan di balik pembubaran kabinet.

Upaya Memperkuat Kendali Pemerintahan

Analis dari lembaga riset media DSNews, Vadym Denysenko, menilai Svyrydenko merupakan bagian dari lingkaran dekat Andriy Yermak, mantan Kepala Kantor Kepresidenan Ukraina. Meski Yermak tidak lagi menjabat, Svyrydenko tetap dikenal sebagai sosok yang loyal kepada Zelenskyy.

Sementara itu, ilmuwan politik Oleksiy Haran mengatakan kepada DW bahwa restrukturisasi kabinet juga berkaitan dengan mundurnya Yermak. Menurutnya, kantor kepresidenan ingin memperkuat kendali terhadap cabang eksekutif melalui penyusunan ulang pemerintahan.

Haran menilai Zelenskyy berupaya menunjukkan bahwa dirinya tetap memegang kendali penuh atas proses politik, meskipun secara konstitusi pembentukan kabinet merupakan kewenangan parlemen.

Selain faktor politik, Haran menyebut persoalan sektor energi turut menjadi pertimbangan penting. Karena itu, nama Sergii Koretskyi dan Denys Shmyhal, yang memiliki pengalaman di bidang energi, masuk dalam bursa calon perdana menteri. Bahkan, sejumlah pengamat menyebut Koretskyi sebagai salah satu kandidat terkuat.

Loyalitas Dinilai Jadi Faktor Penentu

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy saat berbincang di Basilika Santo Petrus Vatikan. <b>(Antara)</b> Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy saat berbincang di Basilika Santo Petrus Vatikan. (Antara)

Direktur Penta Center for Applied Political Research, Volodymyr Fesenko, mengatakan Zelenskyy kerap menggabungkan pertimbangan personal dalam setiap perubahan struktur pemerintahan. Ia juga memperkirakan akan ada keputusan lanjutan terkait lembaga penegak hukum dalam waktu dekat.

Denysenko menilai reshuffle kali ini merupakan bagian dari perombakan besar terhadap tim kepemimpinan Zelenskyy.

Sementara itu, Reiterovych menegaskan bahwa loyalitas menjadi pertimbangan utama Presiden Ukraina dalam menentukan sosok perdana menteri yang baru. Meski sistem pemerintahan Ukraina bersifat parlementer, para analis meyakini parlemen kemungkinan besar akan menyetujui kandidat yang diajukan Zelenskyy.

Namun demikian, seluruh calon menteri tetap harus memperoleh persetujuan parlemen. Jika parlemen menolak usulan presiden, langkah tersebut dapat menjadi penegasan atas independensi lembaga legislatif Ukraina.

x|close