Pasokan Bantuan ke Gaza Naik 33 Persen, Namun Pembatasan Masih Berlanjut

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Agu 2026, 12:35
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Adiantoro
Editor
Bagikan
Arsip foto - Warga yang kembali ke rumah mereka disambut dengan kehancuran parah saat mereka mulai kembali ke rumah mereka di Kota Gaza, Gaza, seiring berlakunya gencatan senjata di Jalur Gaza, Palestina, Jumat, 10 Oktober 2025. Arsip foto - Warga yang kembali ke rumah mereka disambut dengan kehancuran parah saat mereka mulai kembali ke rumah mereka di Kota Gaza, Gaza, seiring berlakunya gencatan senjata di Jalur Gaza, Palestina, Jumat, 10 Oktober 2025. (Antara)

Ntvnews.id, Gaza - Badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa volume pasokan penting yang diizinkan masuk ke Jalur Gaza pada Juli tahun ini meningkat 33 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Informasi tersebut disampaikan pada Jumat, 7 Agustus 2026.

Dilansir dari AFP, Sabtu, 8 Agustus 2026, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyebut kenaikan arus pasokan itu masih tergolong terbatas, sementara kebutuhan warga Gaza tetap berada pada tingkat yang sangat tinggi dan ketergantungan terhadap bantuan kemanusiaan masih besar.

Sepanjang Juli, sekitar 55.000 paket bantuan dengan total berat kurang lebih 35.000 metrik ton berhasil masuk ke Jalur Gaza.

"Sekitar 60 persen dari bantuan ini berupa makanan, kemudian disertai perlengkapan tempat tinggal, air, sanitasi, kebersihan, dan kesehatan dalam volume yang lebih kecil," kata OCHA. "Pasokan tambahan dibawa masuk oleh sektor swasta."

Meski terjadi peningkatan pasokan, OCHA menyatakan para mitranya masih menemukan adanya pembatasan terhadap sejumlah jenis barang yang dapat dibawa masuk ke Jalur Gaza.

Baca Juga: Gerakan Langit Biru: AHY Salurkan 80 Ribu Liter Air Bersih di Madura

Persetujuan tambahan juga masih dibutuhkan untuk memasukkan oli mesin dan suku cadang. Kebutuhan tersebut dinilai penting karena kegiatan operasional kemanusiaan sangat bergantung pada kendaraan serta generator cadangan yang membutuhkan pemeliharaan secara berkelanjutan.

Sementara itu, Pusat Satelit PBB memperkirakan jumlah bangunan yang mengalami kehancuran di berbagai wilayah Gaza telah bertambah 9 persen sejak deklarasi gencatan senjata pada Oktober 2025.

Wakil juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Farhan Haq, mengatakan Gaza tetap memiliki peluang untuk dibangun kembali setelah konflik berakhir dan akses bantuan kemanusiaan kembali terbuka.

"Kami di PBB sebenarnya memiliki pengalaman panjang dalam membangun kembali berbagai wilayah yang pernah menjadi zona konflik. Dan Program Pembangunan PBB (UNDP), khususnya, telah melakukan analisis mengenai berapa biaya yang diperlukan, baik untuk menyingkirkan puing-puing maupun melakukan rekonstruksi," kata Haq pada Jumat.

Di Tepi Barat, OCHA melaporkan bahwa mitra-mitra kemanusiaan yang bekerja bersama Perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina (Palestinian Red Crescent Society) mencatat lebih dari 50 orang mengalami luka-luka dalam operasi yang berlangsung selama dua hari dan dilakukan pasukan Israel pada pekan sebelumnya di Kamp Qalandia, dekat Yerusalem.

Menurut OCHA, para mitra kemanusiaan telah mendatangi kamp pengungsi tersebut untuk melakukan penilaian bersama mengenai kebutuhan warga. Langkah itu dilakukan setelah adanya laporan bahwa pasukan Israel mengambil alih sejumlah rumah, memaksa keluarga meninggalkan tempat tinggal mereka, serta memanfaatkan properti tersebut sebagai lokasi interogasi.

HIGHLIGHT

x|close