Ntvnews.id, Jakarta - Setelah Eropa dilanda gelombang panas ekstrem pada Juni 2026 dan kebakaran hutan besar di wilayah selatan Prancis serta Spanyol, krisis musim panas akibat perubahan iklim masih berlanjut. Kali ini, penurunan debit air sungai terjadi di berbagai wilayah di Benua Eropa.
Dilansir dari DW, Selasa, 11 Agustus 2026, sejumlah titik di Sungai Rhein, Danube, dan Po, yang menjadi jalur penting bagi aktivitas ekonomi, kini mencatatkan ketinggian air pada level terendah sepanjang sejarah. Kondisi tersebut mengancam kelancaran distribusi barang, perekonomian, hingga sektor pertanian. Para petani bahkan memperingatkan potensi kenaikan harga pangan akibat hasil panen yang menurun di tengah kondisi kekeringan.
Di sepanjang Sungai Danube, kapal pengangkut barang dan kapal pesiar sudah tidak dapat melewati sejumlah titik akibat rendahnya permukaan air. Di Hungaria, Rumania, dan Kroasia, sejumlah kendaraan serta kapal yang sebelumnya tenggelam mulai kembali terlihat karena dasar sungai mengalami kekeringan.
Kondisi serupa terjadi di beberapa kota Jerman, seperti Köln dan Düsseldorf. Warga bahkan dapat berjalan kaki di bagian Sungai Rhein yang biasanya dipenuhi arus air deras. Permukaan air sungai diperkirakan masih akan terus menyusut dalam beberapa hari ke depan.
Baca Juga: Perahu Nelayan Terbalik Usai Dihantam Ombak Pangandaran, Satu Orang Hilang
Krisis air tersebut semakin diperburuk oleh pemanasan global yang terjadi akibat pembakaran batu bara, minyak, dan gas. Selain mengganggu aktivitas manusia, rendahnya debit air juga memberikan tekanan besar terhadap ekosistem serta berpotensi meningkatkan biaya penyediaan air minum bersih.
Ekosistem Sungai Terancam
Kekeringan menyebabkan lahan pertanian mengering, jutaan hektare tanaman terancam gagal panen, serta bagian dasar sungai mulai terlihat. Namun, dampaknya tidak hanya dirasakan di daratan. Kehidupan organisme yang berada di bawah permukaan air juga menghadapi ancaman serius.
Ketika permukaan air menyusut, suhu air sungai cenderung meningkat sementara kadar oksigen terlarut mengalami penurunan. Situasi tersebut meningkatkan kemungkinan terjadinya kematian ikan dalam jumlah besar. Hal itu disampaikan Jeanette Völker, ilmuwan dari Badan Lingkungan Hidup Federal Jerman (Umweltbundesamt/UBA).
"Terutama di sepanjang Sungai Rhein, Anda dapat melihat bagaimana tepian kerikil mengering. Tempat ini merupakan habitat bagi kerang dan invertebrata, yang memiliki fungsi sebagai pakan bagi ikan. Hal ini menimbulkan tekanan yang sangat besar pada ekosistem tersebut. Kerang tidak dapat berpindah dengan cukup cepat dan akhirnya mati," kata Völker kepada DW.
Kondisi kering yang disertai paparan sinar matahari intens serta tingginya kandungan nutrisi dari pupuk pertanian juga dapat memicu pertumbuhan alga berbahaya yang mengancam kehidupan ikan.
Orang-orang naik perahu di sungai Danube saat terjadi gelombang panas di Wina, Austria, Jumat (19/6/2026). (Antara)
Peristiwa serupa pernah terjadi pada 2022 di Sungai Oder, wilayah timur Jerman. Kombinasi suhu tinggi, rendahnya permukaan air, serta meningkatnya kadar garam membuat alga invasif beracun berkembang dengan cepat. Sekitar 1.000 metrik ton ikan ditemukan mati di sepanjang sungai yang menjadi perbatasan Jerman dan Polandia tersebut.
Meski demikian, para ahli tidak memprediksi kejadian separah tragedi Sungai Oder akan terjadi di Sungai Rhein pada musim panas 2026. Pasalnya, kadar oksigen di sungai tersebut masih berada pada level yang relatif aman. Kendati demikian, ancaman terhadap keberlangsungan ekosistem air tawar tetap menjadi perhatian.
Kekeringan Mengancam Ketersediaan Air Minum
Sungai Rhein dan Danube mendapatkan pasokan air dari berbagai anak sungai. Namun, debit air di sejumlah anak sungai tersebut juga mengalami penurunan.
Keberadaan anak sungai sangat penting karena bagian tepinya ditumbuhi vegetasi dan alang-alang yang berfungsi sebagai penyaring alami. Air yang meresap secara perlahan melewati lapisan tanah akan mengalami proses penyaringan sebelum masuk ke sumber air bawah tanah.
"Sebagian besar air minum kami berasal dari apa yang dikenal sebagai 'filtrasi tepi sungai,'" kata Hagen Koch, peneliti yang berfokus pada adaptasi dan ketahanan iklim di Institut für Klimafolgenforschung (PIK), di Postdam, Jerman.
Air minum masyarakat Jerman sebagian besar berasal dari sumur yang memperoleh pasokan melalui proses tersebut. Namun, kekeringan dapat mengganggu mekanisme alami itu. Konsentrasi polutan semakin tinggi karena volume air limbah yang dibuang ke sungai relatif tidak banyak berubah, termasuk limbah dari sektor industri dan fasilitas pengolahan air limbah, sementara jumlah air sungai terus menyusut.
"Jika ekosistem rusak, yaitu, hewan dan tumbuhan yang berkontribusi pada pemurnian air, hal ini akan menimbulkan biaya tambahan yang signifikan. Pengolahan tambahan diperlukan untuk memasok air minum bersih kepada jutaan orang," ujar Koch kepada DW.
Kelompok industri Jerman memperkirakan perubahan iklim berpotensi meningkatkan biaya penyediaan air hingga 30 persen. Pada 2035, tambahan investasi hingga €14 miliar atau sekitar Rp242 triliun diperkirakan dibutuhkan. Dana tersebut antara lain digunakan untuk memperkuat sistem pengolahan air, memperdalam saluran air, serta memperbarui waduk yang berfungsi mempertahankan suhu air agar tetap rendah dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme.
Kondisi ini juga memicu perdebatan mengenai pemanfaatan sumber daya air. Masyarakat rumah tangga memang membayar air yang digunakan, tetapi sejumlah sektor industri, termasuk pertambangan dan pertanian, masih mendapatkan pembebasan biaya pengambilan air di berbagai negara bagian Jerman.
Sebagai upaya menghemat persediaan air, pemerintah di sejumlah kota Jerman mulai memberlakukan pembatasan ketat terhadap pengambilan air dari sungai maupun aliran air oleh masyarakat. Di Köln, pelanggar aturan tersebut dapat dikenakan denda hingga €50.000 atau sekitar Rp865 juta.
Aktivitas Ekonomi Ikut Terganggu
Penurunan permukaan air di sungai-sungai Jerman telah memberikan tekanan besar terhadap sektor ekonomi. Sejumlah kapal kini hanya mampu membawa sekitar seperlima dari kapasitas muatan normal. Kondisi tersebut menghambat aktivitas produksi sekaligus berpotensi mendorong kenaikan harga. Industri baja, kimia, dan minyak menjadi beberapa sektor yang paling terdampak.
Sektor energi juga menghadapi persoalan serupa. Perdana Menteri Hungaria Peter Magyar meminta masyarakat dan dunia usaha mengurangi penggunaan listrik. Ia memperingatkan potensi terjadinya krisis energi yang belum pernah dialami sebelumnya setelah rendahnya permukaan Sungai Danube memaksa pembangkit listrik tenaga nuklir Paks menghentikan operasionalnya.
Sejumlah pemerintah mulai mencari langkah darurat untuk mengatasi krisis air yang semakin parah. Di Rumania, militer bahkan melakukan peledakan terhadap formasi batuan di salah satu cabang Sungai Danube. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan ketersediaan air pendingin bagi pembangkit listrik tenaga nuklir Cernavoda sekaligus mencegah penghentian operasionalnya.
Di Jerman, Menteri Perhubungan menggelar pertemuan bersama perwakilan industri, pelabuhan, dan sektor transportasi sungai pada 6 Agustus 2026. Pertemuan tersebut membahas berbagai solusi, baik untuk menghadapi persoalan dalam jangka pendek maupun mengantisipasi krisis serupa dalam jangka panjang.
Salah satu gagasan yang muncul adalah melakukan pengerukan dan memperdalam sejumlah bagian jalur navigasi Sungai Rhein. Dengan cara tersebut, aktivitas pengiriman barang diharapkan tetap dapat berlangsung ketika permukaan air berada pada level rendah.
Namun, rencana itu mendapat kritik dari sejumlah pihak. Pengerukan dan pendalaman jalur pelayaran dinilai dapat mempercepat arus air, menurunkan permukaan air tanah, serta membuat wilayah dataran banjir lebih cepat mengering. Karena itu, langkah tersebut dinilai belum tentu menjadi solusi efektif dalam jangka panjang.
Sebagai alternatif, para pengamat mendorong peningkatan penggunaan kapal dengan draft rendah dan mengalihkan sebagian aktivitas pengangkutan barang dari jalur air menuju kereta api. Hagen Koch mendukung pengembangan kapal yang mampu beroperasi di perairan dangkal, tetapi mengingatkan bahwa perubahan tersebut membutuhkan investasi besar dan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat.
Sementara itu, Jeanette Völker menilai pemulihan kawasan sungai yang selama ini mengalami perubahan besar akibat aktivitas manusia dapat menjadi bagian penting dari solusi. Restorasi dataran banjir, perlindungan lahan basah, dan pemulihan kawasan gambut dinilai dapat membantu lingkungan menyimpan lebih banyak air sekaligus meningkatkan kemampuan menghadapi kekeringan pada masa mendatang.
Waduk dan bendungan juga dapat dimanfaatkan di wilayah yang secara ekologis memungkinkan. Meski begitu, para ahli menekankan bahwa strategi adaptasi saja tidak cukup untuk menghadapi ancaman tersebut.
Tanpa kebijakan perlindungan iklim yang lebih kuat dan pengurangan emisi gas rumah kaca secara cepat, berbagai investasi untuk mengatasi dampak kekeringan dikhawatirkan hanya menjadi solusi sementara di tengah ancaman perubahan iklim yang terus membesar.
Ilustrasi suhu panas (pixabay/ geralt) (Pixabay )