Pezeshkian Sebut Iran Hadapi Perang Ekonomi, Militer, dan Keamanan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Agu 2026, 20:00
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjawab pertanyaan wartawan di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjawab pertanyaan wartawan di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta (Antara)

Ntvnews.id, Istanbul - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut negaranya tengah menghadapi "perang skala penuh" di bidang ekonomi, militer, dan keamanan.

Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian dalam pidato yang disiarkan melalui televisi dan dikutip kantor berita pemerintah IRNA pada Minggu.

"Kita berada dalam perang ekonomi, militer, dan keamanan skala penuh," kata Pezeshkian.

Ia mengakui pemerintah masih menghadapi berbagai persoalan ekonomi yang belum terselesaikan. Pezeshkian bahkan mengatakan dirinya merasa malu atas kondisi tersebut.

Pezeshkian juga menyinggung ancaman sanksi dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran. Menurut dia, Teheran tetap bertahan dan berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah situasi yang disebutnya sebagai "perang yang tidak seimbang".

"Trump dengan mudah mengatakan bahwa mereka akan memberlakukan sanksi yang paling menghancurkan atau paling mengerikan terhadap Iran," ujarnya.

Baca juga: DPR Iran Setujui Aturan Larangan Wawancara dengan Media Asing

Ia menegaskan Iran tidak menyerah meski menghadapi tekanan dari pihak lawan. Pezeshkian menyebut negara tersebut justru menunjukkan kekuatan melalui perlawanan, solidaritas, dan persatuan masyarakat.

"Musuh memperkirakan jika Iran jatuh, Iran akan menjadi Venezuela. Hal itu bukan hanya tidak terjadi, tetapi Iran justru menjadi kekuatan yang membuat dunia takjub melalui perlawanan, solidaritas, dan persatuannya," tegasnya.

Pezeshkian mengatakan pemerintah Iran juga terus berupaya mencegah terjadinya perpecahan, konflik, serta sikap mementingkan diri sendiri di tengah situasi yang dihadapi negara tersebut.

Sebelumnya, Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman pada Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar. Kesepakatan tersebut mengakhiri permusuhan yang dimulai pada Februari dan membuka jalan bagi kelanjutan perundingan menuju kesepakatan final.

Namun, proses perundingan kemudian terhenti akibat perselisihan mengenai pelaksanaan nota kesepahaman serta pengaturan navigasi di Selat Hormuz.

Baca juga: Trump Setujui Gagasan Selat Hormuz Jadi Wilayah AS

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama bagi ekspor minyak dan gas dunia.

(Sumber: Antara)

HIGHLIGHT

x|close