Ntvnews.id, Jakarta -Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan kabar duka dari lokasi pengungsian pascabencana gempa bumi yang menerjang sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sedikitnya dua anak dilaporkan meninggal dunia saat berada di lokasi pengungsian.
Anggota KPAI, Diyah Puspitarini, menyampaikan bahwa kedua anak tersebut mengembuskan napas terakhir akibat kondisi kesehatan yang memburuk di area pengungsian. "Pilunya, beberapa anak meninggal di pengungsian.
Sampai hari ini, yang meninggal dunia yang terpantau kami, ada dua anak," ujar Diyah saat dihubungi di Jakarta, Minggu (23/8). Ia menegaskan bahwa penyakit yang diidap korban makin diperparah oleh kondisi lingkungan pengungsian yang terbatas. "Sakit dan diperparah dengan kondisi di pengungsian," tuturnya.
Menanggapi tragedi ini, KPAI mendesak pemerintah pusat maupun daerah beserta seluruh pemangku kepentingan untuk segera memberi perhatian ekstra terhadap kelompok anak dengan kerentanan berlapis. Prioritas ini mencakup anak penyandang disabilitas, anak yang kehilangan orang tua, anak yang terpisah dari keluarga, anak yang sakit, bayi, balita, serta anak yang membutuhkan perlindungan khusus lainnya.
Anggota KPAI Diyah Puspitarini. (Antara) Langkah tersebut dinilai sangat mendesak karena penanganan darurat bencana tidak boleh berhenti pada upaya penyelamatan fisik semata. Lebih dari itu, negara memiliki kewajiban untuk menjamin anak-anak tetap berada dalam pengasuhan yang layak, memperoleh akses layanan dasar, terhindar dari ancaman kekerasan, serta mendapatkan pemulihan fisik maupun psikologis secara memadai.
Atas dasar itu, KPAI mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk segera melangsungkan evaluasi menyeluruh terkait pemenuhan hak-hak anak dalam manajemen bencana di NTT.
"Evaluasi tersebut perlu mencakup pendataan anak, mekanisme pengasuhan, layanan kesehatan dan psikososial, pendidikan, keamanan tempat pengungsian, serta mekanisme pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak," pungkas Diyah.
Warga mengungsi di lokasi pengungsian akibat rumah mereka rusak di Pota, Sambi Rampas, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) (Antara)