Ntvnews.id, Jakarta -Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan bahwa penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu) tidak mungkin dilaksanakan di tengah kondisi negara yang masih dilanda perang. Pernyataan tersebut disampaikan Zelenskyy saat berbicara kepada para wartawan, Minggu (23/8), sebagaimana dilaporkan kantor berita Ukrinform.
Ia menilai, memaksakan pemungutan suara di tengah konflik hanya akan memicu ketidakstabilan politik internal. "Pemilu saat ini akan menjadi tsunami bagi negara kita dan akan memecah belah Ukraina. Oleh karena itu, strategi saya adalah membawa negara ini menuju akhir perang dan mempertahankan negara yang merdeka dan berdaulat," tegas Zelenskyy.
Kendati demikian, Zelenskyy tidak menutup pintu sepenuhnya. Ukraina menyatakan bersedia membahas wacana pemilu dengan syarat para negara mitra mampu memberikan jaminan konkret. Jaminan tersebut mencakup kepastian bahwa proses pemungutan suara dapat berlangsung secara aman, sah, dan demokratis, tanpa diwarnai serangan udara maupun aksi penembakan.
Wacana pelaksanaan pemilu di tengah situasi darurat ini sempat menuai ragam pandangan di tingkat pejabat. Mantan Menteri Pertahanan Ukraina, Mykhailo Fedorov, baru-baru ini menyatakan bahwa negara seharusnya tetap berupaya mencari formula hukum yang sah dan aman agar pemilu tetap bisa digelar meski konflik masih berlangsung.
Secara skedul politik, Pemilihan Presiden Ukraina seharusnya dilangsungkan pada tahun 2024. Namun, agenda demokrasi tersebut terpaksa ditunda lantaran pemerintah masih menerapkan status darurat militer sejak eskalasi konflik pecah di wilayah tersebut.
Arsip foto - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy (Anadolu Ajansı (aa.com.tr))