Badan Geologi Temukan Retakan 100 Meter di Kawah Gunung Kelimutu Pascagempa Flores

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Agu 2026, 16:25
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip foto - Wisatawan memandangi kawah Gunung Kelimutu di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Arsip foto - Wisatawan memandangi kawah Gunung Kelimutu di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menemukan retakan sepanjang sekitar 100 meter di area bibir Kawah I atau Tiwu Ata Polo Gunung Kelimutu. Temuan itu muncul setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan temuan tersebut diperoleh dari hasil pengamatan langsung di lapangan serta survei menggunakan wahana udara tanpa awak atau drone untuk memantau perubahan bentuk kawah. Hal itu disampaikan dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 24 Agustus 2026.

"Kondisi retakan tersebut perlu mendapat perhatian karena terdapat potensi perkembangan retakan yang dapat memicu longsoran ke arah Kawah I, terutama apabila terjadi gempa susulan atau hujan dengan intensitas tinggi," kata Lana.

Berdasarkan hasil pemetaan, retakan tersebut berada sekitar enam meter dari bibir Kawah I dan membentang ke arah timur laut mengikuti kemiringan lereng.

Baca JugaBadan Geologi: Asap Gunung Raung Berasal dari Kebakaran Lahan

Selain retakan di Kawah I, tim survei juga menemukan longsoran material endapan lama yang mengarah ke bagian dalam Kawah II atau Tiwu Koofai Nuwamuri. Longsoran itu sebelumnya sempat menimbulkan suara gemuruh yang terdengar cukup keras dari puncak gunung.

Meski ditemukan perubahan tersebut, Lana memastikan status aktivitas vulkanik Gunung Kelimutu masih berada pada Level I atau Normal.

Mengingat kawasan Gunung Kelimutu menjadi tujuan banyak wisatawan, Badan Geologi mengimbau masyarakat dan pengunjung untuk tidak beraktivitas di sekitar retakan Kawah I, terutama dalam radius enam hingga 10 meter dari bibir kawah.

Badan Geologi juga meminta pemerintah daerah dan pengelola kawasan segera memasang garis pembatas di area berbahaya serta papan peringatan di Kawah I dan Kawah II. Koordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api Kelimutu di Kabupaten Ende dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Bandung, Jawa Barat, juga perlu terus dilakukan.

Baca JugaBadan Geologi Sebut Aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki Masih Tinggi

"Perlu dibuat tanda peringatan atau larangan khusus potensi bahaya longsoran di sekitar Kawah I Tiwu Ata Polo dan kawah II Tiwu Koofai Nuwamuri," kata Lana menegaskan.

(Sumber: Antara)

HIGHLIGHT

x|close