Yang Digali Bukan Hanya Mineral, tetapi Juga Harapan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Agu 2026, 08:23
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Anak-anak di Asrama Pemali Boarding School Anak-anak di Asrama Pemali Boarding School (MIND ID)

Ntvnews.id, Jakarta - Pagi belum sepenuhnya terang ketika anak-anak di Asrama Pemali Boarding School mulai beraktivitas. Tempat tidur dirapikan, seragam dikenakan, buku-buku disiapkan. Setelah sarapan, mereka bersiap menuju sekolah.

Tidak ada yang istimewa dari rutinitas itu jika dilihat sepintas. Namun, bagi sebagian anak di asrama tersebut, rutinitas sederhana itu adalah bagian dari perjalanan panjang untuk mengubah masa depan keluarga.

Ada yang datang dari keluarga nelayan. Ada anak buruh harian. Ada pula yang tumbuh dari keluarga pekerja serabutan. Bagi mereka, kuliah di perguruan tinggi sebelumnya mungkin hanya sebatas cita-cita yang disimpan dalam hati.

Kini, cita-cita itu terasa lebih dekat.

Di balik perubahan tersebut ada sebuah program pendidikan yang telah berjalan selama lebih dari dua dekade. Pemali Boarding School yang didukung PT Timah Tbk, anggota Grup MIND ID, telah berjalan sejak 2000. Program itu memberikan kesempatan pendidikan bagi anak-anak berprestasi dari keluarga kurang mampu di wilayah Bangka Belitung, Karimun, hingga Meranti. Hingga 2026, sekitar 952 alumni telah merasakan manfaatnya.

Baca Juga: Prabowo Puji PT Timah, Laba Melonjak 805% Usai 1.000 Tambang Ilegal Ditutup

Kepala Asrama Pemali Boarding School, Ulul, melihat sendiri bagaimana anak-anak tersebut perlahan berubah.

“Yang kita bangun bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga kepercayaan diri dan cara mereka melihat masa depan,” ujarnya.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, di sebuah daerah yang kehidupan masyarakatnya bersentuhan erat dengan aktivitas pertambangan, pendidikan menjadi salah satu bentuk investasi yang dampaknya tidak berhenti ketika mineral selesai ditambang.

Mineral yang Tak Berhenti di Tanah

Indonesia memiliki kekayaan mineral yang menjadi fondasi bagi banyak industri. Nikel, timah, tembaga, bauksit, dan batu bara bukan sekadar komoditas yang keluar dari bumi.

Di balik mineral itu ada rantai ekonomi yang panjang: pekerja, pemasok, pelaku usaha lokal, keluarga, sekolah, hingga masyarakat yang hidup di sekitar wilayah operasi.

Karena itu, pertanyaan tentang pertambangan hari ini tidak lagi berhenti pada berapa banyak mineral yang dapat diproduksi. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: sejauh mana kekayaan tersebut kembali menjadi manfaat bagi manusia?

Di situlah gagasan Dari Bumi untuk Kedaulatan Negeri menemukan maknanya.

Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID. <b>(MIND ID)</b> Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID. (MIND ID)

MIND ID menempatkan keberlanjutan sebagai bagian dari strategi pengelolaan sumber daya mineral. Melalui Sustainability Pathway, perusahaan menggunakan enam pilar dan 27 topik ESG sebagai kerangka bagi seluruh anggota grup dalam menjalankan kegiatan usaha.

Salah satu pilarnya adalah Society, sebuah pendekatan yang menempatkan masyarakat bukan sebagai penonton dari aktivitas pertambangan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan pembangunan.

Wujudnya beragam. Mulai dari pendidikan, pemberdayaan ekonomi, pengembangan usaha mikro dan kecil, peningkatan keterampilan, hingga pelestarian lingkungan.

Namun, angka-angka tersebut baru benar-benar memiliki arti ketika diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika Sampah Menjadi Peluang

Di Desa Ciderum, Kabupaten Bogor, cerita itu hadir dalam bentuk yang berbeda.

Desa tersebut dikembangkan sebagai Desa Eduwisata melalui kolaborasi MIND ID dengan masyarakat. Program ini diarahkan agar lingkungan dan ekonomi masyarakat dapat tumbuh secara bersamaan.

Pada 2025, puluhan karyawan MIND ID turun langsung melalui program Senyawa Employee Volunteer Volume 3. Mereka tidak sekadar datang membawa bantuan, kemudian pulang.

Ada kegiatan pengolahan sampah. Ada pengembangan peternakan domba. Ada penebaran benih ikan di kolam.

MIND ID <b>(Dok. Istimewa)</b> MIND ID (Dok. Istimewa)

Ketiganya tampak sederhana. Tetapi justru dari hal-hal sederhana itu sebuah gagasan besar dibangun: sampah dapat dikelola, domba dapat menjadi sumber pendapatan, ikan dapat menjadi sumber pangan sekaligus peluang ekonomi.

Di Desa Ciderum, masyarakat juga mendapatkan dukungan terhadap sarana dan prasarana desa serta kegiatan penyuluhan. Bahkan, 20 pelajar di wilayah tersebut mengikuti penyuluhan kesehatan mental yang merupakan hasil kolaborasi MIND ID dan Srikandi.

Ketua Desa Eduwisata Ciderum, Muhammad Hamdan Zulfa, merasakan manfaat kehadiran program tersebut bagi masyarakat.

“Dengan hadirnya MIND ID kami sangat terbantu serta dapat memberikan dukungan dan kontribusi kepada masyarakat sekitar terutama dalam hal peningkatan kesejahteraan, membuka lapangan pekerjaan serta memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana untuk menunjang pemberdayaan masyarakat terutama para pemuda dengan melalui program yang kami jalankan.”

Di sini, makna keberlanjutan terasa lebih dekat. Bukan istilah yang hanya hidup dalam laporan perusahaan, melainkan sesuatu yang bisa disentuh melalui kolam ikan, kandang domba, pengelolaan sampah, dan anak-anak yang memperoleh ruang untuk berkembang.

Lebih dari Sekadar Angka

Skala kontribusi sosial MIND ID juga terlihat dari besarnya nilai ekonomi yang mengalir kepada masyarakat dan pemangku kepentingan.

Sepanjang 2025, berdasarkan bahan perusahaan, kontribusi kepada masyarakat dan pemangku kepentingan mencapai Rp180,30 triliun. Di dalamnya termasuk pembayaran kepada pemerintah berupa pajak dan dividen sebesar Rp32,82 triliun, serta distribusi nilai ekonomi kepada pemasok, karyawan, dan komunitas.

Tetapi ada satu angka lain yang menarik perhatian: lebih dari 90 persen pemasok Grup MIND ID berasal dari pelaku usaha lokal dan domestik.

Artinya, manfaat pertambangan tidak hanya mengalir ketika mineral dijual. Ia juga bergerak sejak aktivitas eksplorasi dimulai.

MIND ID, konsisten mengedepankan inovasi untuk mendukung optimalisasi produksi. <b>(Dok.Istimewa)</b> MIND ID, konsisten mengedepankan inovasi untuk mendukung optimalisasi produksi. (Dok.Istimewa)

Bahan bakar, alat berat, suku cadang, jasa kontraktor hingga distribusi membuka ruang bagi pelaku usaha nasional untuk terlibat dalam rantai pasok.

“Dari sisi rantai pasok dan aspek sosial, kami melihat keterlibatan pemasok lokal dan domestik sangat penting. TKDN menjadi salah satu ukuran pencapaian operasi dan bisnis kami,” kata Division Head of Sustainability MIND ID, Binahidra Logiardi.

Bagi masyarakat sekitar tambang, rantai pasok itu bukan sekadar istilah ekonomi.

Di dalamnya ada pemilik usaha kecil yang memperoleh pesanan. Ada pekerja yang menerima upah. Ada keluarga yang kemudian memiliki daya beli. Ada anak yang sekolah dari penghasilan orang tuanya.

Dengan kata lain, satu aktivitas industri dapat menciptakan lingkar manfaat yang jauh lebih panjang.

“Sebagai BUMN, kami adalah agent of development sehingga dampak ekonomi menjadi sangat penting. Kami mendukung program pemerintah untuk mendorong kedaulatan ekonomi nasional,” ujar Binahidra.

Membeli Masa Depan dengan Pendidikan

Jika pemberdayaan ekonomi berbicara tentang hari ini, pendidikan berbicara tentang hari esok.

Di Pemali Boarding School, seorang siswi bernama Andara Vista pernah memandang perguruan tinggi sebagai sesuatu yang sulit dijangkau.

Kondisi ekonomi keluarga membuat pendidikan tinggi terasa seperti mimpi yang terlalu mahal.

Kemudian hadir MINDucation.

Program pendampingan belajar yang dijalankan MIND ID bersama PT Timah dan Ruangguru memberikan tambahan pembelajaran bagi siswa, terutama untuk mempersiapkan mereka memasuki perguruan tinggi. MIND ID juga mengembangkan dukungan pendidikan melalui berbagai program di wilayah operasionalnya.

"Sekarang saya mendapatkan bimbingan belajar tambahan melalui MINDucation, dan tinggal di lingkungan asrama yang sangat mendukung pertumbuhan saya. Kini, beban orang tua saya menjadi sangat ringan, dan saya merasa jauh lebih percaya diri serta siap untuk mengejar cita-cita melanjutkan pendidikan untuk membanggakan keluarga dan desa saya," ujar Andara.

Kalimat Andara memperlihatkan bahwa kontribusi sosial tidak selalu dapat dihitung dengan rupiah.

Kadang ukurannya adalah keberanian seorang anak untuk bermimpi.

Kadang ukurannya adalah orang tua yang tidak lagi khawatir memikirkan biaya sekolah.

Dan kadang ukurannya adalah seorang anak dari desa yang kelak kembali sebagai sarjana, profesional, guru, atau pemimpin yang membawa pengetahuan pulang ke kampung halamannya.

Anak-anak di Asrama Pemali Boarding School  <b>(MIND ID)</b> Anak-anak di Asrama Pemali Boarding School (MIND ID)

Dalam tiga tahun terakhir 2022–2024 saja, sebanyak 69 alumni Pemali Boarding School diterima di sejumlah perguruan tinggi ternama, termasuk ITB, UGM, dan Unpad.

MIND ID juga mencatat berbagai investasi sosial di bidang pendidikan. Pada 2025, Grup MIND ID merealisasikan 5.322 beasiswa, pendampingan belajar bagi 13.388 siswa, pelatihan bagi 408 guru, pelatihan vokasi dan keterampilan untuk 1.944 orang, serta peningkatan 389 unit sarana dan prasarana pendidikan.

Di balik setiap angka tersebut terdapat manusia dengan cerita masing-masing.

Bumi yang Dipulihkan

Namun, cerita tentang kontribusi sosial tidak lengkap jika hanya berbicara tentang manusia.

Sebab, masyarakat yang hidup di sekitar wilayah pertambangan juga hidup berdampingan dengan lingkungan.

Karena itu, keberlanjutan memiliki sisi lain: memastikan tanah yang pernah menjadi tempat aktivitas pertambangan dapat dipulihkan.

Secara kumulatif hingga 2025, Grup MIND ID telah mereklamasi lebih dari 8.000 hektare lahan pascatambang dan merehabilitasi lebih dari 37.700 hektare daerah aliran sungai.

Di berbagai wilayah, upaya pemulihan tersebut dilakukan dengan pendekatan yang berbeda. PT Antam mencatat peningkatan indeks biodiversitas di wilayah operasi nikelnya di Maluku Utara. PT Freeport Indonesia menjalankan konservasi mangrove yang secara kumulatif mencapai lebih dari 2.200 hektare. INALUM melakukan rehabilitasi daerah tangkapan air Danau Toba. PT Timah menjalankan reklamasi darat dan laut, sementara PT Vale merealisasikan reklamasi lahan pascatambang dan rehabilitasi DAS.

Semua itu menunjukkan bahwa nilai sebuah mineral tidak hanya diukur dari apa yang diambil dari bumi, tetapi juga dari apa yang dikembalikan kepadanya.

Ketika Bencana Datang, Perusahaan Turun Tangan

MIND ID Bersama Danantara Bantu Wilayah Terdampak MIND ID Bersama Danantara Bantu Wilayah Terdampak

Kepedulian sosial juga diuji ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana.

Ketika bencana melanda sejumlah wilayah di Sumatra dan Jawa Timur, Grup MIND ID menurunkan Emergency Response Group dan menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak.

Bantuan tersebut mencakup pangan, obat-obatan, vitamin, susu bayi, popok, alas tidur, pakaian hingga peralatan kebersihan. Penyalurannya dilakukan ke Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Jawa Timur.

Yang menarik, distribusi tidak hanya mengandalkan jalur korporasi. MIND ID melibatkan pemuda dan relawan lokal agar bantuan dapat bergerak lebih cepat dan tepat sasaran.

“Kami berharap bantuan logistik, kesehatan, dan tim tanggap bencana dapat meringankan saudara-saudara kami di Sumatra. Semoga kondisi segera pulih dan kita dapat bersama-sama membangun masa depan Indonesia yang lebih cerah,” ujar Corporate Secretary MIND ID Pria Utama.

Di tengah situasi darurat, bantuan bukan sekadar paket logistik.

Bantuan adalah pesan bahwa seseorang tidak sendirian menghadapi musibah.

Dari Mineral Menjadi Harapan

Ilustrasi MIND ID Dorong Keterbukaan Informasi untuk Kepercayaan Publik <b>(MIND ID)</b> Ilustrasi MIND ID Dorong Keterbukaan Informasi untuk Kepercayaan Publik (MIND ID)

Pada akhirnya, pembicaraan mengenai hilirisasi dan kekayaan mineral Indonesia sering kali terdengar sangat besar.

Ada angka produksi. Ada investasi. Ada smelter. Ada industri baterai. Ada rantai pasok kendaraan listrik. Ada target penguatan industri nasional.

Semua itu penting.

Tetapi ada wajah manusia yang tidak boleh hilang dari pembicaraan tersebut.

Wajah anak nelayan yang kini berani bercita-cita menjadi sarjana.

Wajah orang tua yang terbantu karena biaya pendidikan anaknya berkurang.

Wajah pelaku usaha lokal yang mendapatkan ruang dalam rantai pasok industri.

Wajah warga desa yang belajar mengelola sampah menjadi sesuatu yang bernilai.

Dan wajah masyarakat yang menerima uluran tangan ketika bencana datang.

Di titik itu, “Dari Bumi untuk Kedaulatan Negeri” bukan sekadar cerita tentang mineral yang digali dari tanah Indonesia.

Ia adalah cerita tentang bagaimana kekayaan bumi diterjemahkan menjadi kesempatan.

Kesempatan untuk belajar. Kesempatan untuk bekerja. Kesempatan untuk membangun usaha. Kesempatan untuk hidup di lingkungan yang lebih baik.

MIND ID menyebut pendekatan tersebut sebagai bagian dari upaya memastikan hilirisasi tidak berhenti pada penciptaan nilai ekonomi, tetapi juga menghasilkan nilai sosial.

"MIND ID proaktif memastikan integrasi dari kegiatan penambangan, pengolahan tidak hanya berhenti pada penciptaan nilai tambah ekonomi, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah sosial yang akan berpengaruh positif bagi kesatuan dan keberlanjutan Indonesia sebagai Bangsa yang besar," kata Pria Utama.

Mungkin inilah cara paling sederhana untuk memahami kedaulatan ekonomi.

Bukan hanya tentang seberapa banyak kekayaan alam yang dimiliki sebuah negara, tetapi tentang seberapa jauh kekayaan itu mampu mengubah kehidupan rakyatnya.

Sebab mineral yang berada di dalam tanah memang milik bumi.

Tetapi ketika dikelola dengan tanggung jawab, manfaatnya semestinya kembali kepada mereka yang hidup di atasnya.

Dan dari sanalah perjalanan dari bumi menuju kedaulatan negeri benar-benar dimulai.

 

TERKINI

AS Perluas Sanksi, Janji Lumpuhkan Ekonomi Iran

Luar Negeri Rabu, 26 Agu 2026 | 09:10 WIB

Belasan Ruko Terbakar di Pontianak

News Rabu, 26 Agu 2026 | 09:00 WIB

Yang Digali Bukan Hanya Mineral, tetapi Juga Harapan

Nasional Rabu, 26 Agu 2026 | 08:23 WIB

Prabowo Bakal Tinjau Langsung Penanganan Gempa NTT Hari Ini

Nasional Rabu, 26 Agu 2026 | 08:19 WIB

AS Coret Suriah dari Daftar Sponsor Terorisme

Luar Negeri Rabu, 26 Agu 2026 | 07:20 WIB
Load More

HIGHLIGHT

x|close