Kejar Swasembada Garam, Pemerintah Bangun Kawasan Sentra Industri Garam Nasional di NTT

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Sep 2026, 15:13
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) Muhammad Qodari Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) Muhammad Qodari (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah menargetkan pengembangan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga seluas 2.000 hektare. Pengembangan Tahap I seluas 616 hektare telah diselesaikan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan dilanjutkan Tahap II seluas 751 hektare.

“Pengembangan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional di Rote Ndao juga merupakan bagian dari pemerataan pembangunan di NTT. Program prioritas ini diharapkan memberikan efek pertumbuhan ekonomi, penyediaan lapangan kerja, serta pengentasan kemiskinan di kawasan tersebut,” kata Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) Muhammad Qodari, dalam konferensi pers di Kantor Bakom RI di Jakarta, Rabu, 2 September 2026.

Qodari mengatakan pengembangan kawasan seluas 2.000 hektare tersebut dilaksanakan KKP melalui skema kerja sama pemanfaatan lahan milik masyarakat, sehingga masyarakat memperoleh manfaat ekonomi lewat bagi hasil pemanfaatan lahan.

Saat ini, KKP pun tengah melakukan uji coba produksi pada lahan seluas 616 hektare dengan target panen perdana pada November 2026.

Adapun secara keseluruhan, pengembangan Rote sebagai lokasi Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN) mencakup area sekitar 10.764 hektare. Selain 2.000 hektare yang dikembangkan KKP, sekitar 8.000 hektare kawasan lainnya akan dikembangkan oleh investor.

Baca Juga: Indonesia Sampaikan Duka Cita Atas Wafatnya Raja Harald V dari Norwegia

Qodari menegaskan pengembangan K-SIGN ini merupakan upaya pemerintah dalam mewujudkan swasembada garam. Pemerintah menargetkan peningkatan produksi garam nasional secara bertahap dari baseline sekitar 1 juta ton menjadi 2,5 juta ton pada 2026, 3,5 juta ton pada 2027, dan 5 juta ton pada 2029.

“Sejalan dengan itu, volume impor garam ditargetkan turun dari baseline sekitar 2,6 juta ton menjadi 2 juta ton pada 2026, 1 juta ton pada 2027, hingga mencapai nol pada 2029, sebagai bagian dari upaya mewujudkan swasembada garam nasional,” ucapnya.

Qodari menyebut nilai investasi pengembangan K-SIGN seluas 2.000 hektare di Rote Ndao diperkirakan mencapai Rp2 triliun, mencakup pembangunan tambak garam serta sarana-prasarana pendukung seperti jalan, fasilitas penyimpanan dan pengolahan, pompa, dan infrastruktur lainnya.

Pada tahap awal, KKP menerapkan metode tambak garam terbuka menggunakan geomembran atau _High-Density Polyethylene_ (HDPE) untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas garam. Beriringan dengan itu, KKP menyiapkan rencana modernisasi teknologi secara bertahap melalui kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemanfaatan energi terbarukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

“Pengembangan K-SIGN Rote Ndao diharapkan meningkatkan pendapatan petambak melalui peningkatan produktivitas, kualitas, dan nilai tambah garam, sekaligus memperluas keterlibatan masyarakat setempat dalam rantai usaha garam,” ujar dia.

HIGHLIGHT

x|close