Trump Tak Paksa Iran Berunding, Serukan Rakyat Iran untuk "Berjuang"

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Sep 2026, 07:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (tengah) dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney (kanan). Presiden Amerika Serikat Donald Trump (tengah) dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney (kanan). (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan dirinya tidak akan memaksa Iran untuk kembali ke meja perundingan. Di tengah meningkatnya konflik antara kedua negara, Trump justru meminta masyarakat Iran untuk "bangkit dan berjuang."

"Saya tidak mencoba memaksa Iran ke meja perundingan," kata Trump dalam unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social.

"Saya tidak peduli jika mereka menandatangani perjanjian yang tidak berharga bagi mereka. Saya lebih menyukai posisi kita sekarang," katanya.

Trump juga mengklaim Amerika Serikat hampir sepenuhnya menguasai Selat Hormuz. Selain itu, dia menyebut kondisi perekonomian Iran saat ini benar-benar kolaps.

"Mereka hanya memainkan hal yang tak terhindarkan. Kapan rakyat Iran akan bangkit dan berjuang?" ujar Trump, dilansir dari AFP, Kamis, 3 September 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika militer AS mengumumkan telah menuntaskan rangkaian serangan terbaru terhadap Iran. Serangan itu menyasar sejumlah target milik Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), di tengah eskalasi konflik setelah bentrokan yang terjadi pada akhir pekan sebelumnya.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan pasukannya menyerang berbagai fasilitas IRGC. Target tersebut "termasuk situs pertahanan udara, sistem radar, aset dan fasilitas maritim, kemampuan pemasangan ranjau, dan situs komunikasi," tulis CENTCOM melalui akun media sosial X.

Baca Juga: Trump Unggah Ranking Presiden AS, Klaim Dirinya Lebih Hebat dari Washington dan Lincoln

Setelah melancarkan serangan, pemerintah AS mengeluarkan peringatan keamanan baru bagi warga negaranya yang berada di kawasan Timur Tengah. Mereka diminta meningkatkan kewaspadaan menyusul situasi keamanan yang semakin tidak menentu.

Peringatan tersebut diterbitkan untuk hampir seluruh Kedutaan Besar AS di kawasan Timur Tengah, termasuk perwakilan diplomatik AS di Israel. Peringatan itu dikeluarkan pada Selasa (1/9) waktu setempat, sebagaimana dilaporkan Al Arabiya dan Middle East Monitor, Rabu (2/9/2026).

"Akibat ketegangan di Timur Tengah, situasi keamanan tetap kompleks dengan potensi eskalasi yang tidak terduga," kata Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dalam peringatan keamanannya.

"Warga Amerika yang saat ini berada di Timur Tengah harus meningkatkan kewaspadaan dan mewaspadai kemungkinan pembatalan penerbangan, penutupan wilayah udara, dan gangguan perjalanan," demikian bunyi imbauan Departemen Luar Negeri AS.

"Warga Amerika yang bepergian dari dan ke kawasan tersebut harus memantau informasi mengenai operasional bandara dan maskapai penerbangan," imbuh imbauan tersebut.

Departemen Luar Negeri AS turut memperingatkan adanya kemungkinan serangan yang menyasar kepentingan Amerika Serikat di berbagai negara. Pemerintah AS menyebut sejumlah fasilitas diplomatiknya, termasuk yang berada di luar kawasan Timur Tengah, berpotensi menjadi sasaran.

"Iran dan kelompok-kelompok pendukungnya dapat menargetkan kepentingan AS di luar negeri atau lokasi-lokasi yang terkait dengan Amerika Serikat dan warga Amerika di seluruh dunia, termasuk bisnis AS dan institusi lainnya," kata Departemen Luar Negeri AS dalam peringatan keamanannya.

HIGHLIGHT

x|close