200 Sineas Israel Dukung Film NAZA soal Operasi Militer di Gaza

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 16 Sep 2026, 10:21
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Zaki Islami
Editor
Bagikan
Ilustrasi kerusakan infrastruktur Jalur Gaza. Ilustrasi kerusakan infrastruktur Jalur Gaza. (Antara)

Ntvnews.id, Gaza - Lebih dari 200 pembuat film asal Israel menandatangani petisi sebagai bentuk dukungan terhadap dokumenter NAZA, film yang memuat kesaksian sejumlah anggota militer dan intelijen Israel mengenai operasi militer di Gaza.

Sejumlah nama besar perfilman Israel turut membubuhkan tanda tangan dalam petisi tersebut. Mereka antara lain sutradara Ari Folman, Shlomi Elkabetz, Ran Tal, dan Michal Aviad.

“Peran utama seni dan jurnalisme adalah menjadi cermin bagi masyarakat tempat keduanya berada,” demikian isi petisi tersebut, dikutip dari Anadolu, Rabu, 16 September 2026.

Dukungan dari para sineas tersebut muncul ketika pembuat NAZA, Yuval Abraham dan Rachel Szor, menghadapi tekanan, kritik, hingga ancaman setelah film mereka mendapatkan Penghargaan Juri Khusus dalam Festival Film Internasional Venesia ke-83.

Menteri Kebudayaan dan Olahraga Israel Miki Zohar bahkan mengecam film tersebut dan menyebut karya Abraham serta Szor sebagai tindakan “pengkhianatan”. Ia juga menyatakan akan berupaya mencabut kewarganegaraan kedua pembuat film tersebut.

Namun, Zohar tidak memiliki kewenangan untuk mencabut kewarganegaraan seseorang secara sepihak. Berdasarkan ketentuan hukum Israel, proses pencabutan kewarganegaraan harus melalui prosedur hukum formal yang melibatkan menteri dalam negeri dan pengadilan.

Film NAZA diproduksi oleh surat kabar Inggris The Guardian bersama JW Films. Dokumenter tersebut disusun berdasarkan wawancara dengan 24 sumber dari kalangan militer dan intelijen Israel yang identitasnya dirahasiakan.

Dalam wawancara tersebut, para narasumber mengungkap pengalaman dan kesaksian mereka terkait praktik pengawasan, proses penentuan target, serta operasi serangan militer Israel di Gaza.

Nama NAZA sendiri berasal dari singkatan istilah militer dalam bahasa Ibrani yang berarti “kerusakan tambahan” atau collateral damage. Istilah itu digunakan untuk menggambarkan perkiraan jumlah warga sipil yang diperkirakan menjadi korban dalam sebuah serangan.

Baca Juga: Pengusiran Warga Gaza Dikecam Keras oleh Menlu 8 Negara

Dokumenter tersebut juga menampilkan kesaksian mengenai pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan dan sistem pengawasan berskala besar untuk membantu mengidentifikasi sasaran. Para narasumber menggambarkan sejumlah serangan yang tetap mendapatkan persetujuan meskipun potensi korban sipil telah diperkirakan sebelumnya.

Abraham dan Szor menegaskan bahwa film tersebut tidak ditujukan untuk menyoroti pelanggaran yang dilakukan secara individual oleh prajurit. Fokus dokumenter diarahkan pada kebijakan institusi, instruksi komando, serta praktik operasional yang diterapkan dalam operasi militer.

Di sisi lain, militer Israel membantah tuduhan yang disampaikan dalam film tersebut. Mereka juga mempertanyakan kredibilitas kesaksian para sumber anonim karena identitas, pangkat, maupun posisi dan tanggung jawab mereka tidak dapat diverifikasi secara independen.

Militer Israel turut menyangkal klaim bahwa kecerdasan buatan digunakan untuk menentukan sasaran serangan. Menurut mereka, proses pemilihan target dan pemberian otorisasi serangan tetap dilakukan oleh personel manusia berdasarkan ketentuan serta arahan militer yang berlaku.

Abraham dan Szor bukan nama baru dalam produksi film dokumenter mengenai konflik Israel-Palestina. Keduanya sebelumnya terlibat dalam pembuatan No Other Land, dokumenter yang meraih penghargaan Academy Award, bersama sineas Palestina Basel Adra dan Hamdan Ballal.

x|close