Ntvnews.id, Jakarta - Kekhawatiran para petinggi industri minyak Amerika Serikat (AS) mengenai potensi krisis bahan bakar minyak (BBM) global kini mulai menjadi kenyataan. Gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz ditambah serangkaian serangan terhadap fasilitas energi di Timur Tengah membuat ketersediaan minyak mentah dunia semakin tertekan.
Pasokan BBM untuk kebutuhan komersial global dilaporkan terus mengalami penyusutan selama lebih dari enam bulan. Pada saat yang sama, ruang untuk mengandalkan cadangan minyak mentah strategis juga semakin terbatas.
Kondisi tersebut kembali memburuk setelah kelompok Houthi dari Yaman menyerang dan merusak pipa minyak utama East-West milik Arab Saudi. Jalur tersebut memiliki peran penting karena menghubungkan ladang minyak Abqaiq dengan pelabuhan Yanbu al-Bahr di kawasan Laut Merah.
Sejumlah analis memperkirakan kerusakan jalur alternatif tersebut membuat sekitar 2,5 juta barel minyak per hari tidak dapat masuk ke pasar global. Gangguan pasokan itu kemudian mendorong harga energi melonjak, seperti dilaporkan Wall Street Journal, Senin, 14 September 2026.
Dalam tiga pekan terakhir, harga minyak mentah AS meningkat sekitar 19 persen dan mendekati level 101 dollar AS per barel.
Kenaikan harga juga mulai dirasakan konsumen Amerika Serikat. Harga solar menembus rekor baru sebesar 6,23 dollar AS per galon, sedangkan bensin kembali naik hingga 4,32 dollar AS per galon.
Chief Executive Officer (CEO) Chevron Mike Wirth mengatakan berbagai instrumen yang selama ini digunakan industri untuk mengantisipasi gangguan pasokan dan menekan gejolak harga kini semakin terbatas.
"Semua mekanisme ini sebelumnya membantu memitigasi risiko harga dan pasokan. Namun, opsi-opsi tersebut sebagian besar sudah terpakai, dan kita tidak lagi memiliki penyangga dalam sistem seperti saat krisis ini dimulai," ujar Wirth dalam konferensi energi di Austin, Texas, Jumat, 11 September 2026.
Menurut Wirth, arah pergerakan harga minyak saat ini sulit diperkirakan. Ia juga melihat kemungkinan harga kembali turun dalam waktu dekat relatif kecil.
"Saya berharap bisa mengatakan ada alasan mengapa situasi akan mereda, tetapi saat ini sulit untuk melihat hal itu terjadi," tuturnya.
Tekanan terhadap pasar minyak dunia semakin besar setelah China mulai meningkatkan kembali pembelian dari pasar internasional. Sebagai negara pengimpor minyak terbesar di dunia, China sebelumnya sempat menggunakan cadangan domestiknya untuk memenuhi hampir separuh kebutuhan konsumsi harian selama beberapa bulan.
Namun, sejumlah analis melihat pola tersebut mulai berubah. China kini kembali melakukan pembelian minyak dalam jumlah besar dari pemasok internasional untuk memenuhi kebutuhan energinya.
Konflik Berlarut, Risiko Pasokan Makin Besar
Foto arsip ini menunjukkan Selat Hormuz, Iran, Rabu (19/2/2025 (Antara)
Para penasihat energi menilai risiko krisis akan semakin sulit dikendalikan karena belum terlihat jalan keluar dari konflik dengan Iran.
Di kawasan Selat Hormuz, Iran masih melancarkan serangan terhadap kapal-kapal tanker minyak. Situasi tersebut terjadi meskipun pemerintah AS sebelumnya menyatakan telah berhasil mengawal sejumlah kapal melewati perairan strategis itu tanpa terdeteksi.
Pendiri sekaligus CEO Quantum Capital Group, Wil VanLoh, menilai Iran memiliki kemampuan untuk bertahan dalam konflik yang berlangsung dalam waktu panjang.
"Keuntungan dalam sebagian besar negosiasi biasanya berpihak pada sisi yang memiliki waktu dan bersedia bersabar," kata VanLoh.
Ia menilai masyarakat Iran memiliki tingkat ketahanan yang tinggi dalam menghadapi tekanan karena telah mengalami berbagai penderitaan selama puluhan tahun.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan pemerintahannya akan terus memberikan tekanan ekonomi terhadap Iran. Trump juga menolak opsi mengerahkan pasukan darat dalam konflik tersebut.
Trump bahkan memperkirakan peperangan masih akan berlangsung hingga pemilu sela AS pada November mendatang.
Namun, sejumlah investor memperkirakan krisis energi dapat berlangsung lebih lama dari perkiraan tersebut.
"Itu adalah sinyal bahwa krisis ini bakal berlangsung lama," kata Dan Pickering, pendiri perusahaan keuangan Pickering Energy Partners.
Pickering menyoroti persoalan pasokan solar sebagai salah satu masalah paling mendesak. Gangguan terhadap operasi kilang akibat konflik di Timur Tengah dan Rusia terjadi bersamaan dengan musim panen yang meningkatkan kebutuhan bahan bakar untuk alat-alat berat pertanian.
"Tidak ada solusi mudah untuk masalah solar," tegasnya.
Terkait kondisi tersebut, Trump sebelumnya meminta Ukraina menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia. Menurutnya, serangan semacam itu berpotensi semakin mengganggu pasokan diesel dunia.
Pemerintah Amerika Serikat berulang kali menyampaikan keyakinan bahwa harga BBM di tingkat konsumen dapat kembali turun dan pasokan energi dari Timur Tengah akan meningkat.
Gedung Putih menyiapkan dua langkah utama untuk menghadapi tekanan tersebut. Pertama, mendorong peningkatan produksi minyak Venezuela. Kedua, meningkatkan kapasitas produksi bahan bakar di dalam negeri.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Terus Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU di Sulawesi Selatan
Pejabat senior AS mengatakan pembicaraan untuk meningkatkan produksi minyak Venezuela masih berlangsung. Pemerintah juga telah menggelar pertemuan dengan sejumlah eksekutif perusahaan kilang AS sejak awal September.
Para petinggi industri minyak, termasuk Wirth, juga disebut terus berkoordinasi dengan Menteri Energi AS Chris Wright untuk membahas kondisi pasokan energi.
Meski demikian, Wirth mengatakan dirinya belum kembali berbicara dengan Trump sejak 3 Agustus lalu.
Saat itu, Trump melalui platform Truth Social mengkritik Wirth karena dinilai tidak memberikan apresiasi terhadap kebijakan pemerintah. Trump juga meminta Chevron dan perusahaan minyak lainnya segera menurunkan harga BBM yang dibayarkan konsumen.
Peringatan yang Kini Menjadi Kenyataan
Krisis energi yang terjadi saat ini sebenarnya bukan tanpa tanda-tanda. Para pelaku industri minyak telah memperingatkan pemerintah AS sejak beberapa bulan sebelumnya mengenai kemungkinan kelangkaan produk BBM olahan.
Pada Maret 2026, CEO tiga perusahaan minyak terbesar AS, yakni ExxonMobil, Chevron, dan ConocoPhillips, telah menyampaikan peringatan kepada pejabat pemerintah mengenai risiko kelangkaan produk seperti solar jika Selat Hormuz ditutup dalam jangka panjang.
Sejumlah petinggi industri minyak bahkan sempat menyampaikan kritik secara tertutup mengenai cara pemerintah AS menangani konflik yang berkembang di Timur Tengah.
Kini, kekhawatiran tersebut mulai terwujud. Penutupan jalur distribusi utama, serangan terhadap infrastruktur energi, serta semakin menipisnya cadangan global telah membuat pasar minyak dunia memasuki periode tekanan yang jauh lebih serius.
Bagi industri energi, peringatan yang sebelumnya hanya menjadi skenario terburuk kini berubah menjadi persoalan nyata: bagaimana menjaga pasokan BBM tetap mengalir ketika jalur utama perdagangan minyak dunia semakin rentan terganggu.
Ilustrsi Solar BBM (Istimewa)