Wapres JD Vance Ungkap AS Kontak Langsung Houthi di Tengah Konflik

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 16 Sep 2026, 10:52
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Zaki Islami
Editor
Bagikan
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance. ANTARA/Xinhua/Hu Yousong/aa. Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance. ANTARA/Xinhua/Hu Yousong/aa. (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengungkapkan bahwa Washington tengah berkomunikasi secara langsung dengan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman dan memiliki hubungan dengan Iran.

Dilansir dari Al Arabiya, Rabu, 16 September 2026, Pernyataan tersebut disampaikan Vance kepada wartawan di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, sebelum dirinya bertolak menuju Kansas pada Senin, 14 September 2026 waktu setempat.

Komunikasi tersebut berlangsung ketika situasi di kawasan Laut Merah semakin memanas. Pada pekan sebelumnya, Houthi dilaporkan berhasil menguasai seluruh wilayah pesisir Yaman yang berada di sepanjang Laut Merah serta sejumlah pulau strategis di kawasan Selat Bab al-Mandeb.

Selat tersebut memiliki arti penting bagi jalur pelayaran internasional, terlebih setelah Iran melakukan blokade terhadap Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama perdagangan energi dunia.

Vance kemudian ditanya mengenai kekhawatiran pemerintah AS atas semakin luasnya pengaruh Houthi serta langkah yang akan diambil Washington menghadapi perkembangan tersebut.

Menanggapi pertanyaan itu, Vance mengatakan AS tetap berkomunikasi dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Ia juga menegaskan bahwa pemerintah AS terus memantau perkembangan situasi dan merasa memiliki kendali atas kondisi di kawasan tersebut.

"Kami terus menjalin komunikasi dengan pihak Emirat, Saudi, dan pihak-pihak lainnya yang terdampak di kawasan tersebut. Ini adalah situasi yang sangat dikuasai oleh pemerintah Amerika Serikat," kata Vance dalam pernyataannya.

Tidak hanya berkomunikasi dengan negara-negara sekutu dan mitra di kawasan, Vance mengonfirmasi bahwa Washington juga telah membuka jalur komunikasi langsung dengan Houthi.

"Kami juga telah melakukan pembicaraan langsung dengan pihak Houthi sendiri. Oleh karena itu, kami merasa benar-benar mengendalikan situasi ini," ungkapnya.

Meski demikian, Vance mengakui perkembangan konflik di kawasan tersebut berlangsung cepat dan dapat berubah sewaktu-waktu. Pemerintah AS, kata dia, akan terus mengikuti perkembangan untuk memastikan kepentingan Washington tetap terlindungi.

Baca Juga: BPOM Dukung Percepatan Regulasi untuk Advanced Therapy Medicinal Products

"Situasinya sangat cair dan dinamis, namun kami akan terus memantaunya, memastikan bahwa kepentingan terbaik Amerika tetap terwakili," ucap Wapres AS itu.

Pengakuan mengenai komunikasi langsung tersebut muncul ketika bentrokan antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang mendapat dukungan Arab Saudi semakin meningkat. Dalam beberapa pekan terakhir, Houthi juga dilaporkan memperluas serangan terhadap kapal komersial serta sasaran di wilayah Arab Saudi.

Selain itu, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) bertemu dengan Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), lembaga yang bertanggung jawab mengawasi operasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

Pertemuan yang berlangsung di Jeddah tersebut dilaporkan membahas penguatan koordinasi antara Washington dan Riyadh di tengah meningkatnya ketegangan dengan Houthi.

Pertemuan itu berlangsung setelah media Axios, dengan mengutip dua pejabat AS, melaporkan bahwa MBS telah dua kali menelepon Presiden AS Donald Trump pada Kamis, 10 September 20266. Dalam percakapan tersebut, MBS disebut mendorong Trump agar AS melakukan serangan langsung terhadap Houthi.

Arsip - Kelompok Houthi menggelar unjuk rasa menentang serangan AS dan Israel terhadap Iran saat mereka berkumpul di Al Sabeen Square, Sanaa <b>(Antara)</b> Arsip - Kelompok Houthi menggelar unjuk rasa menentang serangan AS dan Israel terhadap Iran saat mereka berkumpul di Al Sabeen Square, Sanaa (Antara)

Namun, Trump dilaporkan menolak permintaan tersebut. Dalam laporan terpisah, Al Arabiya yang mengutip sejumlah sumber yang memahami situasi menyebut Trump berjanji memberikan dukungan intelijen serta informasi penentuan target kepada Arab Saudi terkait ancaman Houthi.

Sebelumnya, Trump juga telah mengungkapkan bahwa kelompok Houthi meminta AS tidak ikut campur dalam konflik di Yaman. Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat berbicara dengan wartawan dalam kunjungannya ke Dublin, Irlandia.

"Houthi menghubungi kami dan mereka tidak ingin bertempur melawan kami," ungkap Trump saat berbicara kepada wartawan saat berkunjung ke Dublin, Irlandia, seperti dilansir AFP, Sabtu (12/9).

Trump kemudian menegaskan bahwa kelompok tersebut tidak menginginkan serangan langsung dari Washington.

"Mereka tidak ingin kami menyerang mereka," ucap Presiden AS itu.

Pernyataan Trump dan Vance menunjukkan bahwa meski Washington tidak secara terbuka menyatakan akan melancarkan operasi militer langsung terhadap Houthi, komunikasi antara kedua pihak ternyata tetap berlangsung. Di sisi lain, AS juga terus berkoordinasi dengan Arab Saudi dan negara-negara Teluk untuk menghadapi perkembangan konflik yang berpotensi mengganggu stabilitas kawasan serta jalur pelayaran internasional.

x|close