Pramono Soroti Maulid di Jaksel Ricuh Gegara Petasan hingga Dini Hari

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Okt 2026, 13:49
thumbnail-author
Adiansyah
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Pramono Anung Pramono Anung (NTVNews.id/Adiansyah)

Ntvnews.id

, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyoroti kericuhan yang terjadi dalam kegiatan Maulid Nabi di kawasan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Acara yang berlangsung hingga larut malam itu sempat diprotes warga karena penggunaan petasan dan kembang api dinilai mengganggu ketenangan lingkungan.

Keributan bermula ketika suara dentuman petasan dan kembang api terdengar hingga sekitar tengah malam. Warga yang merasa terganggu kemudian mendatangi panitia untuk menyampaikan keberatan. Namun, teguran tersebut justru berujung perselisihan.

Pramono lantas mengatakan, kegiatan masyarakat memang diperbolehkan, termasuk acara keagamaan. Namun, pelaksana tetap harus memperhatikan ketertiban dan kenyamanan warga di sekitar lokasi.

Menurut orang nomor satu di DKI tersebut, penggunaan petasan hingga dini hari bukanlah hal yang patut dilakukan karena dapat mengganggu masyarakat yang sedang beristirahat.

"Kebetulan saya mengikuti begitu peristiwa terjadi. Masyarakat keluarga Ibu itu juga kebetulan saya lagi, itu kan hampir jam 00.30 malam. Kurang lebih jam 02.00 saya membaca itu, kemudian saya meminta kepada jajaran Pemerintah DKI Jakarta untuk berperan," katanya di Jakarta Selatan, Senin, 5 Oktober 2026.

Pramono menegaskan bahwa kegiatan yang melibatkan suara keras, seperti petasan dan kembang api, sebaiknya tidak dilakukan hingga larut malam. Ia menyebut, kondisi tersebut menjadi semakin tidak elok karena kegiatan berlangsung ketika sebagian besar warga sudah memasuki waktu istirahat.

"Karena bagaimanapun tidak eloklah bahwa sudah jam 01.00 malam masih menyembunyikan petasan dan sebagainya. Kebetulan anaknya Ibu tadi kan memang sensitif terhadap petasan dan sebagainya," ungkapnya.

Pramono juga menyinggung kondisi anak warga yang disebut sensitif terhadap suara petasan. Karena itu, menurutnya, penyelenggara kegiatan harus mempertimbangkan dampak aktivitas mereka terhadap masyarakat sekitar.

"Dan saya minta ini mudah-mudahan tidak terulang kembali. Kebetulan hadir dalam kesempatan ini ada Wali Kota Jakarta Timur dan Wali Kota Jakarta Selatan. Hal yang berkaitan dengan itu kita batasi. Kalau memang jam masih jam sore, monggo saja, tapi jangan kemudian mengganggu ketertiban masyarakat," ungkapnya.

Berujung Kericuhan

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh NTV News (@ntvnews.id)

Sebelumnya, kegiatan pengajian atau Maulid Nabi di kawasan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, menjadi sorotan setelah penggunaan kembang api dan petasan berlangsung hingga tengah malam.

Pesta kembang api disebut berlangsung sejak sekitar pukul 00.00 hingga 01.00 dini hari. Suara dentuman yang cukup keras membuat sejumlah warga sekitar merasa terganggu karena waktu tersebut merupakan jam istirahat.

Seorang ibu yang rumahnya berjarak sekitar 400 meter dari lokasi acara kemudian mendatangi panitia. Ia menyampaikan keberatan lantaran suara petasan membuat anaknya yang masih kecil terganggu dan ketakutan.

Namun, teguran tersebut justru berujung pada respons negatif dari sejumlah pihak di lokasi acara. Situasi kemudian memanas hingga terjadi kontak fisik antara warga dan sejumlah oknum.

Peristiwa tersebut akhirnya menjadi perhatian karena persoalan penggunaan petasan dalam kegiatan masyarakat berkembang menjadi keributan.

x|close