Ntvnews.id, Moskow - Sebanyak 189 orang di wilayah Irkutsk, Siberia Timur, Rusia, kini menjalani pemantauan medis setelah seorang peneliti di lembaga penelitian anti-wabah meninggal dunia usai mengalami sakit.
Dilansir dari AFP, Selasa, 6 Oktober 2026, Ratusan orang tersebut berada dalam pengawasan karena diduga sempat terpapar wabah pes. Meski demikian, otoritas Rusia belum memastikan apakah kematian peneliti tersebut berkaitan dengan penyakit pes.
Kepala Republik Buryatia, Alexei Tsydenov, mengungkapkan seorang pegawai perempuan yang bekerja di lembaga penelitian anti-wabah di Irkutsk meninggal setelah mengalami sakit.
Badan pengawas kesehatan masyarakat Rusia, Rospotrebnadzor, menyatakan pegawai tersebut sebelumnya didiagnosis menderita pneumonia dengan etiologi yang belum diketahui.
Rospotrebnadzor juga memastikan kondisi sanitasi dan epidemiologi di wilayah Irkutsk, termasuk Kota Irkutsk dan Shelekhov, masih berada dalam kondisi stabil.
Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan, lembaga tersebut belum menemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan aktivitas pekerjaan pegawai tersebut.
Baca Juga: Kabar Baik, WHO Akhiri Status Wabah Hantavirus Terkait Kapal Pesiar MV Hondius
Kasus ini pertama kali diberitakan media lokal pada Jumat, 2 Oktober 2026. Seorang pegawai lembaga anti-wabah berusia 27 tahun dilaporkan jatuh sakit setelah kembali dari perjalanan dinas ke Buryatia.
Media Rusia, Mash, melaporkan pegawai tersebut diduga mengalami pneumonia yang dikaitkan dengan wabah pes. Sebelumnya, Buryatia memang melaporkan adanya wabah di kawasan yang berada di dekat perbatasan Rusia dan Mongolia.
Perkembangan kasus tersebut juga menjadi perhatian pemerintah Amerika Serikat. Gedung Putih dilaporkan memantau situasi serta langkah karantina yang diberlakukan oleh pemerintah Rusia.
Seorang pejabat pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Axios bahwa pemerintah Amerika Serikat telah mengetahui perkembangan kasus tersebut, memantaunya, dan tengah mempertimbangkan sejumlah opsi.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Rusia, pemerintah Moskow, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), serta Kementerian Luar Negeri AS belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari CNBC.
ilustrasi - Dokter memegang botol ampul kaca yang mengandung sel molekul virus corona. (Antara)