Ntvnews.id, Taheran - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menilai proses negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) sudah tidak memiliki arti. Ia menuding setiap perundingan yang dilakukan justru kembali diikuti serangan terhadap Iran.
Dilansir dari AFP, Selasa, 6 Oktober 2026, pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian ketika upaya untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah masih menemui jalan buntu.
"Sejauh ini, mereka telah menyerang kami tiga kali setelah perundingan. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak mencari dialog, melainkan tujuannya adalah menggulingkan Republik Islam Iran," kata Pezeshkian.
Menurut Pezeshkian, dialog tidak dapat berjalan efektif ketika Iran terus menghadapi berbagai tekanan yang berasal dari Washington, mulai dari serangan hingga sanksi dan ancaman.
"Dengan musuh yang setiap hari melakukan pembunuhan, sanksi, tekanan dan ancaman, serta melanggar komitmennya, negosiasi menjadi tidak bermakna," ujarnya.
Baca Juga: Pezeshkian Sebut Iran Hadapi Perang Ekonomi, Militer, dan Keamanan
Konflik di Timur Tengah bermula pada akhir Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan mendadak terhadap Iran. Serangan tersebut berlangsung ketika Washington dan Teheran tengah berunding mengenai program nuklir Iran.
Kedua negara sempat menyepakati memorandum of understanding (MoU) pada Juni yang berisi kerangka penyelesaian permanen konflik. Namun, kondisi kembali memanas setelah Iran melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di kawasan Selat Hormuz.
AS kemudian kembali melakukan operasi militer terhadap Iran. Sejak saat itu, proses perundingan antara kedua negara praktis mengalami kebuntuan.
Pertemuan tidak langsung antara delegasi AS dan Iran yang berlangsung di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) beberapa waktu lalu juga belum menghasilkan kesepakatan baru.
Dalam beberapa pekan terakhir, Washington disebut mengurangi intensitas operasi militernya dan lebih mengandalkan tekanan ekonomi terhadap Teheran. AS tercatat belum melakukan serangan baru terhadap Iran sejak 1 September.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (Antara)