Warta Ekonomi dan LPS Gelar Seminar Penguatan Literasi Keuangan di Universitas Pamulang

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Okt 2026, 19:28
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
Warta Ekonomi dan LPS Gelar Seminar Penguatan Literasi Keuangan di Universitas Pamulang Warta Ekonomi dan LPS Gelar Seminar Penguatan Literasi Keuangan di Universitas Pamulang (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Warta Ekonomi bekerja sama dengan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menggelar program seminar Campus to Community, dengan menyajikan seminar bertema; Kampus sebagai Penggerak Literasi Keuangan bagi Masyarakat Unbanked. Kegiatan ini diselenggarakan di Universitas Pamulang (Unpam), Kota Tangerang Selatan, Banten, Selasa, 6 Oktober 2026.

Pada kesempatan tersebut, turut hadir CEO & Chief Editor Warta Ekonomi Group Muhamad Ihsan, bersama sejumlah pembicara utama seperti Direktur Group Tata Kelola, Risiko & Kepatuhan II LPS Nicolas Silalahi, Corporate Secretary IFG Life Gatot Haryadi, Independent Financial Planner Andy Nugroho, serta Rektor Universitas Pamulang Nurzaman.

CEO & Chief Editor Warta Ekonomi Group Muhamad Ihsan dalam sesi sambutannya menyampaikan, kegiatan ini penting guna mensosialisasikan pengelolaan keuangan yang terorganisir kepada generasi muda. Karena berdasarkan data World Bank (Bank Dunia) tahun 2021, Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah penduduk unbanked terbesar keempat di dunia.

"Acara ini memang diperuntukan supaya adik-adik semua bisa membawa ilmu ini kepada keluarga, saudara-saudara untuk disampaikan. Karena menurut data yang kami dapat, sebanyak 92,74 juta atau sekitar 48% penduduk Indonesia dewasa belum memiliki rekening bank," kata Ihsan.

Baca Juga: Rosan: Kehadiran Kemenko Hilirisasi Dianggap Mampu Percepat Agenda Transisi Energi

Rektor Universitas Pamulang Nurzaman mengingatkan, pengelolaan keuangan juga jadi instrumen penting yang wajib dikenali sedari dini. Dalam konteks ini, ia mengelompokkan empat pilar dasar literasi keuangan untuk dapat membantu seseorang agar bisa mengelola uang dengan bijak, yakni pendapatan (earning), pengeluaran (spending), tabungan (saving), dan berbagi (sharing).

"Walaupun mahasiswa mungkin sebagian besar belum berpendapatan sendiri, tapi berpendapatan dari orang tua atau wali, bekal sehari-hari itu harus dihitung pendapatannya. Setelah diperoleh, maka spending, bagaimana pengeluarannya, prioritaskan yang diperlukan bukan yang diinginkan, sehingga terjadi balance antara earning dengan spending. Yang ketiga saving untuk masa depan, sekecil apapun harus bisa menabung. Setelah saving jangan lupa ada kewajiban sharing, ada pajak, infaq, sedekah, dan lain-lain," urainya.

Warta Ekonomi dan LPS Gelar Seminar Penguatan Literasi Keuangan di Universitas Pamulang  <b>(Istimewa)</b> Warta Ekonomi dan LPS Gelar Seminar Penguatan Literasi Keuangan di Universitas Pamulang (Istimewa)

Dari sisi regulator, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang diwakili oleh Direktur Group Tata Kelola, Risiko & Kepatuhan II Nicolas Silalahi menilai literasi keuangan di kelompok masyarakat kelahiran 1997-2012 alias Gen Z masih perlu ditingkatkan. Pasalnya, sebagian dari mereka masih kerap bergantung pada judi online (judol) seperti taruhan bola untuk melipatgandakan uangnya ketimbang berinvestasi.

"Dari data kami, jadi memang Gen Z ini paling rentan, bahkan 52% pernah mengalihkan dana investasinya ke sport betting. Jaman saya dulu judi bola, 26% menganggap sports betting sebagai strategi keuangan jangka panjang," ungkap Nicolas.

"Temuan ini menunjukan batas yang kabur antara judi dan investasi. Perbedaannya jelas, judi dilarang, investasi itu ada analisa, ada legal, produknya ada," dia menegaskan.

Senada, Independent Financial Planner Andy Nugroho menekankan bahwa perjudian tidak bisa disamakan dengan investasi sebagai alat untuk melipatgandakan kekayaan. Ia lantas membagikan tips agar perputaran uang seseorang bisa tetap sehat tanpa terjebak instrumen keuangan bodong.

"Ada banyak metode mengelola keuangan. Salah satunya ini, 40% buat pengeluaran sehari hari. Utang maksimal 30%, 20% menabung dan investasi, sisanya 20% buat dana amal," terang dia.

Sebagai penutup, Corporate Secretary IFG Life Gatot Haryadi turut mengingatkan pentingnya asuransi dalam mengatur manajemen risiko perputaran uang. Ia mencontohkan perlindungan yang diberikan oleh asuransi sosial seperti diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan.

"Daripada kita tanggung sendiri risiko itu, misal kalau kita sakit, biaya rumah sakit pasang ring Rp60 juta. Daripada saya menanggung sendiri biaya operasi pasang ring, mending saya pasang premi untuk meng-cover kalau terjadi sesuatu. Kata kuncinya, kalau terjadi risiko," tutur dia.

x|close