Hadirkan Buku Panduan Inklusif, Kemendukbangga Perluas Akses Kesehatan Reproduksi untuk Penyandang Disabilitas

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Okt 2026, 15:51
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Kemendukbangga/BKKBN meluncurkan buku panduan kesehatan reproduksi bagi disabilitas dan remaja inklusif di Jakarta pada Rabu (7/10/2026). Kemendukbangga/BKKBN meluncurkan buku panduan kesehatan reproduksi bagi disabilitas dan remaja inklusif di Jakarta pada Rabu (7/10/2026). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta -Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN secara resmi meluncurkan buku panduan inklusif guna memperluas akses layanan serta edukasi kesehatan reproduksi bagi para penyandang disabilitas di Indonesia.

"Hari ini kita memberikan akses seluas-seluasnya, kita berikan pedoman dan edukasi, khususnya bagi penyandang disabilitas yang punya hak yang sama sebagai warga negara untuk mendapatkan informasi yang berkenan dengan hal-hal tentang keluarga berencana, terutama kesehatan reproduksi," ujar Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, dalam puncak peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia di Jakarta, Rabu, 7 Oktober 2026.

Buku panduan edukasi kesehatan reproduksi remaja inklusif ini memuat berbagai materi pembinaan penting, di antaranya mencakup pemahaman mengenai nilai, norma, dan relasi; edukasi seputar seksualitas dan perilaku seksual; informasi kesehatan reproduksi beserta berbagai permasalahannya; cara melindungi diri dari tindak kekerasan; hingga informasi mengenai dukungan dan layanan kesehatan reproduksi yang tersedia.

Pada tahap awal peluncuran ini, buku panduan yang didistribusikan oleh Kemendukbangga/BKKBN dirancang khusus dalam format huruf braille guna memfasilitasi kebutuhan akses informasi bagi penyandang disabilitas netra (tunanetra). Kendati demikian, pihak kementerian berkomitmen untuk terus memperluas cakupan materi dan formatnya agar ke depan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh ragam kelompok disabilitas lainnya.
 

"Untuk disabilitas yang tidak bisa melihat, khususnya tunanetra ini tentu butuh akses lain yang bentuknya braille. Kita semaksimal mungkin untuk memberikan ruang dan akses sebesar-besarnya kepada teman-teman disabilitas, khususnya untuk akses kontrasepsi," jelas Wihaji.

Dalam implementasinya di lapangan, Wihaji menjelaskan bahwa pihaknya menggandeng berbagai lintas sektor serta melibatkan para ahli melalui jaringan Tim Pendamping Keluarga (TPK) guna memastikan substansi materi di dalam panduan tersebut dapat tersampaikan secara tepat sasaran.

"Tetapi kita bisa mengundang, tidak harus kita langsung yang memberikan edukasi. Kita bisa mengundang ahlinya, kita pastikan ini ada aksesnya, namanya buku panduan, bentuknya braille, di situ banyak hal, kita sudah cek satu-satu dan bertanya kepada ahli bahwa semangatnya adalah memberikan akses kepada teman-teman penyandang disabilitas," pungkasnya.
 
 
(Sumber: Antara)
 
x|close