Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pemerintah AS tidak menduga kematian seorang pekerja laboratorium di Rusia berkaitan dengan penggunaan senjata biologis.
“Kami akan segera mengetahuinya, tetapi kami rasa tidak,” kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih, Rabu, 7 Oktober 2026.
Pekerja laboratorium berusia 28 tahun itu meninggal pada pekan sebelumnya. Kasus tersebut menarik perhatian dunia karena korban bekerja di sebuah institut di Siberia yang melakukan penelitian mengenai penyakit pes.
Respons pemerintah Rusia terhadap kasus ini, termasuk pemberlakuan karantina dan terbatasnya informasi yang disampaikan kepada publik, menimbulkan sejumlah pertanyaan. Tindakan tersebut dinilai lebih luas dibandingkan penanganan yang lazim dilakukan terhadap kematian akibat penyakit pes.
Trump mengatakan pejabat Rusia telah memberikan jaminan kepada mitra mereka di AS bahwa kondisi masih dapat dikendalikan.
Baca Juga: Demokrat Gugat Presiden Trump Terkait Penggunaan Anggaran Negara
“Tiongkok tidak banyak mengatakan, dan Rusia juga tidak banyak mengatakan. Tetapi mereka mengatakan bahwa mereka benar-benar mengendalikan situasi,” ujar Trump, sembari merujuk pada pernyataan pejabat Tiongkok pada 2020 mengenai pengendalian Covid-19 sebelum penyakit tersebut berkembang menjadi pandemi global.
Trump berharap pemerintah Rusia membuka lebih banyak informasi mengenai kasus tersebut. Menurutnya, AS menilai tingkat keterbukaan Rusia sejauh ini masih belum memadai.
“Saya baru saja bertemu dengan orang-orang kami. Kami memiliki para ahli yang brilian. Mereka mengetahui semua yang terjadi. Dan semua informasi itu melalui mereka,” katanya, dikutip dari The Washington Post, Kamis, 8 Oktober 2026.
WHO Masih Selidiki Penyebab Kematian
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan telah menerima informasi dari otoritas Rusia bahwa pekerja laboratorium tersebut mengalami pneumonia yang didapat dari komunitas.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pihaknya juga meminta keterangan mengenai laporan yang belum terverifikasi terkait pekerja kedua di laboratorium Siberia yang disebut mengalami pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui.
WHO hingga kini belum mengetahui patogen yang menyebabkan penyakit fatal pada pekerja pertama. Organisasi tersebut juga belum mendapatkan kepastian mengenai patogen yang sedang diteliti laboratorium Rusia maupun alasan sekitar 200 orang harus menjalani karantina atau observasi medis.
Ketiadaan informasi tersebut membuat WHO belum dapat melakukan penilaian menyeluruh terhadap risiko yang mungkin muncul bagi kesehatan masyarakat.
Sebelumnya, badan kesehatan masyarakat Rusia menyebut seorang pekerja di institut penelitian penyakit pes di wilayah Irkutsk meninggal setelah didiagnosis menderita pneumonia dengan penyebab “tidak diketahui”.
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus (Antara)
Dalam laporan terbaru pada Rabu, otoritas Rusia menyatakan situasi berada dalam kondisi “stabil”. Mereka juga menyebut pemeriksaan terhadap ribuan orang di wilayah tersebut tidak menemukan kasus penyakit pes.
“Langkah-langkah pencegahan dan antipidemik telah dilakukan secara menyeluruh, tidak ada risiko epidemi terhadap penduduk Irkutsk dan wilayah Irkutsk,” kata badan tersebut.
Salah satu media Rusia melaporkan pekerja tersebut diduga memecahkan tabung yang berisi patogen pes pneumonik pada 25 September. Setelah itu, ia mengalami sakit dan menjalani perawatan di rumah sakit hingga meninggal pada Jumat. Namun, laporan tersebut belum terverifikasi secara independen.
AS Minta Penjelasan Lebih Lanjut
Pemerintahan Trump pada pekan ini telah menyampaikan komunikasi diplomatik resmi kepada Rusia untuk meminta keterangan tambahan mengenai kematian pekerja laboratorium tersebut.
Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) Erica Schwartz menyatakan ancaman terhadap masyarakat Amerika Serikat “sangat rendah”.
Menurut Schwartz, sekitar 200 penerbangan dari Siberia tiba di AS setiap tahun. Sejumlah lembaga federal juga melakukan pemantauan terhadap para pelaku perjalanan yang datang dari kawasan tersebut.
Saat ini tidak terdapat penerbangan langsung dari Rusia menuju AS akibat sanksi dan penghentian layanan setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Meski demikian, perjalanan dari Rusia ke AS masih dapat dilakukan dengan transit di Istanbul maupun sejumlah pusat penerbangan lainnya.
Schwartz menambahkan bahwa penyakit pes pneumonik “sangat dapat diobati” menggunakan antibiotik apabila penyakit tersebut diketahui dan ditangani sejak tahap awal.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Antara)