PM Prancis Siapkan Pengerahan Besar-besaran Polisi untuk Antisipasi Demo Lanjutan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 22 Okt 2026, 08:26
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Para pelajar berpawai melintasi pusat kota dalam sebuah demonstrasi publik di Nancy, Prancis, pada Sabtu (17/10/2026). Para pelajar turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan mereka terkait kebijakan pendidikan dan kepemudaan sebagai bagian dari rangk Para pelajar berpawai melintasi pusat kota dalam sebuah demonstrasi publik di Nancy, Prancis, pada Sabtu (17/10/2026). Para pelajar turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan mereka terkait kebijakan pendidikan dan kepemudaan sebagai bagian dari rangk

Ntvnews.id, Paris - Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu berencana mengerahkan personel kepolisian dalam jumlah besar untuk mengantisipasi aksi demonstrasi lanjutan yang dijadwalkan berlangsung pada akhir pekan ini. Langkah tersebut diambil setelah unjuk rasa menentang kenaikan biaya hidup berujung kerusuhan beberapa hari sebelumnya.

Diketahui Prancis dilanda kerusuhan yang disertai pembakaran dan penjarahan. Insiden tersebut disebut sebagai salah satu kerusuhan terburuk yang terjadi di negara itu dalam beberapa tahun terakhir. Peristiwa tersebut berlangsung enam bulan sebelum pemilihan presiden untuk menentukan pengganti Emmanuel Macron.

Dikutip dari AFP, Kamis, 22 Oktober 2026, Lecornu mengakui di hadapan anggota parlemen bahwa langkah pengamanan sebelumnya belum berjalan secara memadai. Ia pun berjanji memperkuat pendekatan keamanan untuk menghadapi potensi gelombang demonstrasi berikutnya.

"Pengerahan aparat untuk Sabtu, 24 Oktober 2026 mendatang akan berskala besar," tegas PM Prancis tersebut.

Lecornu juga menuding kelompok-kelompok radikal ultra-kiri telah menyusun "rencana pemberontakan" yang dinilai menjadi pemicu kerusuhan.

Baca Juga: Antisipasi Kerusuhan, Kemlu Keluarkan Peringatan untuk WNI di Prancis dan Italia

Situasi keamanan di Prancis turut menjadi perhatian internasional setelah beredar gambar bentrokan antara demonstran dan polisi, penjarahan sejumlah toko hingga butik mewah, serta pembakaran bangunan selama aksi akhir pekan lalu. Kondisi tersebut mendorong beberapa negara, termasuk Amerika Serikat dan Tiongkok, mengeluarkan imbauan perjalanan bagi warga negaranya yang hendak berkunjung ke Prancis.

Untuk mengantisipasi kerusuhan susulan, otoritas Prancis pada Senin, 29 Oktober 2026 mengumumkan penerapan jam malam secara terbatas di Paris dan sejumlah kota lainnya. Lecornu menyebut pembatasan serupa akan kembali diberlakukan pada Selasa, 20 Oktober 2026 di wilayah yang dinilai membutuhkan pengamanan tambahan.

Di Paris, jam malam mulai berlaku pada pukul 21.00 GMT, Selasa, 20 Oktober 2026. Kebijakan tersebut mencakup kawasan Place de la Republique dan distrik Les Halles yang dikenal sebagai pusat pertokoan.

Selain itu, larangan berkumpul di ruang publik diterapkan di kawasan Champs-Elysees dan sejumlah stasiun kereta api setempat.

Paris Larang Warga Membawa Bensin dan Kembang Api

Polisi terlibat bentrokan dengan para pengunjuk rasa dalam demonstrasi memprotes kenaikan biaya hidup, tingginya harga bahan bakar, serta kondisi dana pendidikan di Paris, Prancis, Minggu (18/10/2026). <b>(Antara)</b> Polisi terlibat bentrokan dengan para pengunjuk rasa dalam demonstrasi memprotes kenaikan biaya hidup, tingginya harga bahan bakar, serta kondisi dana pendidikan di Paris, Prancis, Minggu (18/10/2026). (Antara)

Selain menerapkan jam malam, otoritas Paris memberlakukan pembatasan sementara terhadap kepemilikan dan penggunaan sejumlah barang yang berpotensi digunakan untuk memicu kerusuhan.

Warga dilarang membawa jeriken atau botol berisi bensin maupun bahan bakar lainnya. Larangan juga mencakup kepemilikan dan pembawaan kembang api.

Kebijakan tersebut berlaku di Paris dan wilayah sekitarnya hingga Kamis, 22 Oktober 2026.

Otoritas setempat turut melarang penggunaan perlengkapan pelindung, termasuk helm, di sekitar sekolah menengah dan universitas.

Pembatasan itu diberlakukan setelah terjadi bentrokan antara polisi dan kelompok pemuda yang sebagian menutupi wajah mereka. Sejumlah orang dalam kelompok tersebut dilaporkan mengenakan helm, kacamata pelindung, sarung tangan, hingga masker gas.

Pemerintah Prancis kini berupaya memperketat pengamanan untuk mencegah terulangnya kerusuhan, terutama menjelang rencana demonstrasi berikutnya pada akhir pekan. Pengerahan aparat dalam jumlah besar diharapkan dapat mengantisipasi bentrokan serta melindungi masyarakat dan fasilitas umum.

x|close