Trump Ancam 'Urus' Kuba Usai Perang Iran Selesai

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 25 Okt 2026, 11:01
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Zaki Islami
Editor
Bagikan
Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan sebagai bagian dari KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026 Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan sebagai bagian dari KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026 (Antara)

Ntvnews.id,Florida – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan akan mengambil tindakan terhadap Kuba setelah perang melawan Iran berakhir. Pernyataan tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan intervensi militer Washington terhadap negara Karibia itu.

Trump bahkan mengisyaratkan kapal-kapal perang AS yang kembali dari operasi militer di Iran dapat singgah di dekat pesisir Kuba.

"Kita akan mengurusi Kuba dalam perjalanan pulang dari Iran. Kita akan singgah sebentar di sana," kata Trump saat menghadiri kampanye pemilu sela Partai Republik di Florida, seperti dilansir dari Anadolu Agency, Minggu, 25 Oktober 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Trump menggambarkan skenario ketika armada kapal perang AS melintasi perairan Kuba. Salah satu kapal disebut akan berhenti di dekat garis pantai, sementara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio ditugaskan untuk menyelesaikan kesepakatan dengan pihak Kuba.

"Sebenarnya, yang akan kita lakukan terhadap Kuba adalah saat kita kembali dari Iran, kapal-kapal yang indah itu akan melewati Kuba. Salah satu kapal akan berhenti sekitar 50 yard (45 meter) dari pesisir. Mereka akan mengangkat tangan, kemudian kita akan mengutus Marco Rubio untuk menuntaskan kesepakatannya," ucap Presiden AS itu.

Rubio Dorong Warga Kuba Bekerja Sama dengan CIA

Di tengah meningkatnya tekanan Washington terhadap Havana, Rubio secara terpisah mengajak warga Kuba yang menginginkan perubahan politik untuk menjalin kerja sama dengan Badan Intelijen Pusat AS (CIA) secara rahasia.

"Bagi mereka yang berupaya menciptakan perubahan positif di Kuba -- sekaranglah saatnya," cetus Rubio dalam pernyataan yang diunggah melalui media sosial X.

Baca Juga: Trump Manfaatkan Kerusuhan di Prancis untuk Kampanye Pemilu Sela AS

"Di tengah kekecewaan akibat janji-janji yang tidak ditepati, korupsi, dan kehidupan penuh hak istimewa yang hanya dinikmati segelintir orang; manfaatkan kesempatan ini untuk mewujudkan perubahan yang Anda inginkan melalui kemitraan rahasia dengan CIA," tulis Menlu AS tersebut.

Dalam beberapa bulan terakhir, Trump bersama sejumlah pejabat tinggi pemerintahannya berulang kali melontarkan pernyataan yang mengisyaratkan kemungkinan intervensi militer atau pengambilalihan Kuba. Sikap tersebut berjalan beriringan dengan peningkatan tekanan ekonomi, politik, dan hukum terhadap negara itu.

Seperti dilaporkan First Post, Trump sebelumnya juga menyinggung kemungkinan intervensi AS di Kuba ketika berbicara kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih. Ia menyebut sejumlah presiden AS terdahulu telah mempertimbangkan langkah serupa selama puluhan tahun.

"Sepertinya sayalah yang akan melakukannya," kata Trump.

Sementara itu, Rubio berulang kali menggambarkan Kuba sebagai ancaman terhadap keamanan nasional AS. Ia menyoroti hubungan Havana dengan sejumlah negara yang berseberangan dengan kepentingan Washington.

Ketegangan Memuncak, AS Kejar Raul Castro

Arsip foto - Bendera Kuba. ANTARA/Anadolu Ajensi/pri. <b>(Antara)</b> Arsip foto - Bendera Kuba. ANTARA/Anadolu Ajensi/pri. (Antara)

Hubungan AS dan Kuba semakin memanas setelah jaksa penuntut di Florida mengumumkan surat perintah penangkapan terhadap mantan Presiden Kuba Raul Castro pada pekan ini. Castro dituduh terlibat dalam kasus pembunuhan berdasarkan hukum negara bagian.

Raul Castro yang kini berusia 95 tahun menjadi sasaran penyelidikan terkait insiden penembakan dua pesawat sipil milik organisasi Brothers to the Rescue pada 1996. Organisasi tersebut dikenal membantu warga Kuba melarikan diri ke Florida.

Kasus tersebut kembali menambah ketegangan antara Washington dan Havana, di tengah pernyataan Trump mengenai kemungkinan mengambil tindakan terhadap Kuba setelah konflik dengan Iran berakhir.

Meski Trump telah mengisyaratkan langkah yang akan diambil pemerintahannya, belum ada penjelasan terperinci mengenai bentuk tindakan terhadap Kuba ataupun kesepakatan yang dimaksud dalam pernyataannya.

Situasi ini memperlihatkan meningkatnya tekanan AS terhadap Kuba, baik melalui pernyataan politik, langkah hukum, maupun kemungkinan tindakan militer yang disinggung oleh Trump.

x|close