Ntvnews.id, Belgrade - Gerakan rakyat Serbia yang dimotori mahasiswa dan generasi Z, Student List, berhasil mengungguli Partai Progresif Serbia (SNS) yang berkuasa dalam pemilihan parlemen berdasarkan hasil hitung cepat pada Minggu, 25 Oktober 2026.
Hasil tersebut menandai berakhirnya dominasi politik selama 14 tahun partai yang dipimpin mantan Presiden Aleksandar Vucic. Vucic sendiri telah mengundurkan diri dari jabatan presiden pada September lalu.
"Hasil sementara menunjukkan mahasiswa unggul secara meyakinkan di hampir semua tempat pemungutan suara," kata kandidat dari Student List, Radomir Saicic, di markas gerakan tersebut, dikutip AFP.
Saicic kemudian menegaskan bahwa kemenangan itu bukan hanya milik mahasiswa, melainkan juga menjadi harapan baru bagi masyarakat Serbia.
"Mahasiswa menang dan bersama mereka juga harapan Serbia bisa jadi negara yang menjunjung keadilan, kebebasan, dan martabat."
Kemenangan Student List turut disambut antusias oleh kalangan muda. Salah satunya, Mila Martic, yang menganggap hasil pemilihan tersebut membawa harapan baru bagi masa depan negaranya.
"Saya merasa seperti akhirnya saya hidup di negara yang bebas," kata dia.
Baca Juga: Pertamina Siap Jalankan Penugasan Pemerintah untuk Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Pemilihan legislatif kali ini diikuti sekitar 6,4 juta pemilih atau 65 persen dari total penduduk. Kontestasi tersebut menjadi perhatian besar karena berlangsung di tengah gelombang demonstrasi yang telah mengguncang Serbia sejak 2024.
Tak lama setelah hasil hitung cepat diumumkan, Vucic mengakui kekalahan partainya. Pengakuan itu disampaikan hanya dua jam setelah tempat pemungutan suara ditutup. Meski demikian, ia menuduh kemenangan Student List tidak lepas dari campur tangan kekuatan asing.
"Saya ingin orang-orang tahu, ini adalah pengesahan revolusi yang dilakukan dengan dukungan langsung dari berbagai negara Eropa dan 'negara bayangan' AS, yang menentang Presiden Trump," kata dia.
Vucic dikenal sebagai politikus sayap kanan dengan pendekatan nasionalis-populis. Selama berkuasa, ia juga dinilai mengendalikan media secara ketat untuk mempertahankan dominasi partainya.
Sementara itu, ribuan warga turun ke jalan-jalan ibu kota untuk merayakan kemenangan Student List. Suara klakson kendaraan bersahutan dengan teriakan dan yel-yel warga. Sejumlah orang turut memeriahkan perayaan dengan menyalakan kembang api.
Berawal dari Tragedi Stasiun Novi Sad
Pemilu Serbia berlangsung setelah negara tersebut dilanda demonstrasi besar-besaran selama dua tahun. Gelombang protes bermula dari tragedi runtuhnya kanopi di stasiun kereta Novi Sad pada 2024 yang menewaskan 14 orang, beberapa waktu setelah renovasi stasiun selesai.
Pasca-insiden tersebut, masyarakat menggelar aksi solidaritas dan doa bersama untuk para korban. Namun, pemerintah dituding mengerahkan kelompok preman bayaran yang memiliki keterkaitan dengan SNS bersama aparat kepolisian untuk membubarkan demonstrasi. Sejumlah pengunjuk rasa juga dilaporkan mengalami pemukulan.
Tindakan tersebut memicu gelombang protes yang semakin meluas dengan melibatkan mahasiswa dan kalangan dosen. Mereka menggaungkan slogan Corruption Kills atau korupsi membunuh, sembari menuntut keadilan bagi korban, pertanggungjawaban hukum, pengunduran diri pejabat yang dianggap bertanggung jawab, serta pembebasan mahasiswa yang ditahan.
Pada Desember 2024 hingga Januari 2025, para demonstran memperluas aksi dengan menduduki gedung perkuliahan hingga sejumlah gedung pemerintahan. Namun, mereka menilai aksi tersebut belum menghasilkan perubahan berarti di bawah pemerintahan yang berkuasa.
Para pengunjuk rasa kemudian mengubah strategi dengan membentuk gerakan politik yang ikut serta dalam pemilu untuk menyingkirkan Vucic dari kekuasaan.
Di tengah tekanan politik yang semakin besar, Vucic memutuskan mempercepat pelaksanaan pemilu. Pemilihan yang semula dijadwalkan berlangsung pada 2027 itu akhirnya digelar pada Minggu, 25 Oktober 2026.
Anggota DPR di Serbia (Reuters)