Ntvnews.id, Washington D.C -Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kecaman terhadap Norwegia setelah gagal meraih Hadiah Nobel Perdamaian. Trump bahkan mengaitkan kekecewaannya tersebut dengan penerimaan imigran asal negara Skandinavia itu di Amerika Serikat.
Dalam kampanye di Port Huron, Michigan, menjelang pemilihan paruh waktu AS, Trump menyebut Norwegia sebagai "shit house country" atau negara brengsek. Ia menyatakan tidak ingin menerima imigran dari Norwegia karena Komite Nobel Norwegia tidak memberikan penghargaan perdamaian kepadanya.
"Terus terang, Norwegia menyebalkan. Norwegia benar-benar telah menjadi negara brengsek," kata Trump dalam pidatonya, dikutip dari AFP, Selasa, 27 Oktober 2026.
Sejak kembali menjabat sebagai Presiden AS pada Januari 2025, Trump secara terbuka berulang kali menyampaikan keinginannya untuk memperoleh Hadiah Nobel Perdamaian.
Namun, penghargaan tahun ini diberikan kepada Navi Pillay, hakim asal Afrika Selatan yang pernah memimpin Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Trump menilai keputusan Komite Nobel Norwegia dalam menentukan penerima penghargaan tersebut sebagai "keputusan yang memalukan dan mencoreng reputasi". Menurutnya, penghargaan bergengsi itu semestinya diberikan kepada dirinya.
Baca Juga: Menkop Dukung Pengembangan Kopi Papua Pegunungan
Dalam pidato yang sama, Trump mengatakan pemerintahannya akan menerima imigran dari sejumlah negara tertentu, tetapi tidak dari Norwegia. Ia menghubungkan pernyataan tersebut dengan kegagalannya memperoleh penghargaan Nobel.
"Karena saya tidak mendapatkan Hadiah Nobel," papar Trump.
"Jadi, saya tidak menginginkan siapa pun dari Norwegia," ujarnya dalam kampanye menjelang pemilihan paruh waktu AS yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November mendatang.
Meski melontarkan ancaman tersebut, hingga kini belum ada indikasi resmi mengenai kebijakan baru pemerintah AS yang secara khusus membatasi imigran asal Norwegia.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Norwegia Espen Barth Eide menanggapi pernyataan Trump mengenai Hadiah Nobel Perdamaian. Dikutip AFP, Eide menegaskan bahwa Komite Nobel bekerja secara independen dalam menentukan penerima penghargaan.
"Ia (Trump) sangat memahami bahwa Komite Nobel bersifat independen. Kami telah mengingatkannya akan hal itu, jika ada yang masih bertanya-tanya, dan prinsip tersebut tetap berlaku hingga sekarang," kata Eide kepada penyiar nasional NRK.
Arsip foto - Presiden AS Donald Trump. (Antara)