Ntvnews.id, Jakarta - Gagasan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar untuk mengubah dialog antaragama menjadi aksi kemanusiaan nyata mendapat dukungan dari sejumlah pemimpin agama dunia. Gagasan tersebut disampaikan Nasaruddin dalam Pertemuan Internasional untuk Perdamaian Sant’Egidio di Assisi, Italia, Selasa, 27 Oktober 2026.
Dalam forum tersebut, Nasaruddin yang juga menjabat Imam Besar Masjid Istiqlal menekankan pentingnya pendekatan baru dalam diplomasi agama. Menurutnya, upaya membangun perdamaian global tidak cukup dilakukan melalui pertemuan, deklarasi, maupun kesepakatan formal, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan konkret yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Pesan itu disampaikan dalam sidang pembukaan tingkat tinggi bertajuk Opening Assembly-Unarmed and Disarming Peace. Gagasan tersebut mendapat respons positif dari sejumlah tokoh agama internasional yang menilai kolaborasi lintas iman memiliki peran strategis dalam mengurangi konflik dan memperkuat solidaritas kemanusiaan.
Dalam pidatonya, Nasaruddin menyoroti tantangan diplomasi lintas agama yang dinilai masih kerap berpusat pada simbol dan seremoni. Padahal, perdamaian yang berkelanjutan membutuhkan langkah nyata untuk menjawab persoalan kemanusiaan di tengah masyarakat.
Ia menegaskan, dialog antaragama harus menghasilkan program dan gerakan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat, termasuk dalam bidang kemanusiaan dan pelestarian lingkungan.
"Dialog antaragama tidak boleh berhenti pada deklarasi bersama formal, tanda tangan, atau perjanjian di atas kertas," kata Nasaruddin Umar di Assisi, Selasa, 27 Oktober 2026.
Ia melanjutkan, perdamaian sejati harus diwujudkan melalui kolaborasi yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat, terutama kelompok yang menghadapi berbagai persoalan sosial dan kemanusiaan.
"Perdamaian sejati menuntut dialog untuk secara aktif ditransformasikan menjadi aksi nyata dan gerakan pelestarian lingkungan yang langsung meringankan beban masyarakat di akar rumput," imbuhnya.
Menurut Nasaruddin, pendekatan tersebut penting agar diplomasi agama tidak berhenti sebagai wacana, tetapi menjadi kekuatan yang mampu mendorong perubahan positif dan memperkuat solidaritas lintas negara.
Pidato di Italia, Gagasan Diplomasi Agama Menag Nasaruddin Didukung Pemimpin Agama Dunia (Kemenag)
Nasaruddin juga mendorong para pemimpin dunia untuk menjadikan nilai-nilai agama sebagai bagian penting dalam hubungan internasional. Ia menilai pendekatan spiritual dapat membantu mengurangi permusuhan, membangun kepercayaan, dan membuka ruang komunikasi ketika pendekatan politik maupun militer menghadapi kebuntuan.
Dalam konteks tersebut, agama tidak hanya berfungsi sebagai sumber nilai spiritual, tetapi juga dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan berbagai pihak yang memiliki perbedaan pandangan.
Nasaruddin turut memperkenalkan pengalaman Indonesia dalam membangun kehidupan harmonis di tengah keberagaman sebagai contoh penerapan pluralisme. Model *living harmony* atau harmoni dalam kehidupan sehari-hari dinilai menunjukkan bahwa perbedaan dapat dikelola melalui sikap saling menghormati dan kerja sama.
Pengalaman tersebut sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam mendorong moderasi beragama atau Wasaá¹iyyah Islam, serta memperluas kolaborasi lintas iman dalam upaya menjaga perdamaian dunia.
Gagasan diplomasi agama yang disampaikan Nasaruddin memperoleh dukungan dari sejumlah pemimpin agama yang hadir dalam pertemuan tersebut.
Kardinal Matteo Zuppi, Ketua Konferensi Waligereja Italia, mendukung pentingnya meninggalkan pola pikir yang kaku, agresif, dan sarat konflik. Menurut pandangan yang disampaikan dalam forum tersebut, institusi keagamaan perlu berperan aktif dalam meredakan permusuhan serta memperjuangkan martabat manusia melalui kerja sama lintas batas.
Dukungan serupa disampaikan Rabi Agung Prancis, Haïm Korsia. Ia menekankan bahwa kerja sama antarpemimpin agama perlu melampaui kegiatan seremonial dan diwujudkan dalam proyek-proyek kemanusiaan yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung.
Kolaborasi di tingkat lokal dinilai dapat membangun fondasi perdamaian yang lebih kuat karena menghadirkan manfaat nyata, mempererat hubungan antarkomunitas, dan menumbuhkan kepercayaan di tengah masyarakat.
Sementara itu, perwakilan Kristen Ortodoks Timur dan gerakan ekumenis turut menyambut pengalaman Indonesia dalam membangun kerukunan lintas agama. Deklarasi Istiqlal 2024 yang ditandatangani Nasaruddin bersama Paus Fransiskus di Jakarta juga disoroti sebagai contoh bahwa perbedaan teologis tidak harus berujung pada pertentangan.
Sidang pembukaan ini ditutup dengan komitmen bersama seluruh panelis untuk melanjutkan "Semangat Assisi 1986" dari forum dialog menjadi instrumen praktis diplomasi internasional yang berfokus pada aksi kemanusiaan, pelestarian lingkungan, dan perdamaian dunia secara berkelanjutan.
Pidato di Italia, Gagasan Diplomasi Agama Menag Nasaruddin Didukung Pemimpin Agama Dunia (Kemenag)