Mendukbangga Sebut 34,9 Persen Remaja Alami Gangguan Mental, Gawai Jadi Pemicu Utama

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 28 Okt 2026, 12:15
thumbnail-author
April
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Wihaji (Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga) Wihaji (Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga) (NTVNews)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga), Wihaji, mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi kesehatan mental generasi muda Indonesia saat ini. Berdasarkan data yang disorotinya, sebanyak 34,9 persen remaja mengalami gangguan kesehatan mental yang salah satunya dipicu oleh paparan algoritma gawai atau gadget secara masif.

Pernyataan tersebut disampaikan Wihaji dalam acara Pertemuan Nasional Pembinaan Akademik Keluarga Indonesia yang digelar di kantor Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), Jakarta, 28 Oktober 2026.

"34,9 persen remaja kita mengalami gangguan kesehatan mental. Salah satu penyebabnya adalah algoritma yang menghinggap di dalam pikiran kita yang disebabkan oleh gadget," ujar Wihaji, 28 Oktober 2026.

Baca Juga: Mendukbangga Wihaji Tekankan Peran Tim Pendamping Keluarga dalam Percepatan Pencegahan Stunting

Menghadapi pergeseran tatanan sosial akibat perkembangan teknologi ini, Wihaji menegaskan bahwa kementeriannya menginisiasi program Akademi Keluarga. Langkah strategis tersebut dihadirkan untuk membekali para orang tua agar mampu beradaptasi dengan pola asuh di era modern, di mana orientasi pendidikan anak tidak lagi sekadar berfokus pada kesiapan kerja formal.

"Kementerian kita bikin Akademi Keluarga, salah satunya adalah untuk memastikan, ayo, tatanan kita sudah beda loh. Sekarang pertanyaannya bukan lagi siap kerja. Lebih dari itu, yang kita sebut dengan siap hidup. Tidak masalah kerja, tapi siap hidup," tegasnya.

Selain masalah kesehatan mental, Wihaji juga menyoroti karakteristik Generasi Z di dunia kerja saat ini yang dinilai memiliki tingkat kejenuhan yang tinggi dan rentan berubah-ubah. Menurutnya, fenomena ini menuntut adanya penyesuaian pendekatan dalam dunia profesional maupun lingkungan keluarga.

"Gen Z-Gen Z ini rata-rata cepat bosan. Rata-rata cepat bosan. Kalau enggak mau, ya sudah, ditinggalkan. Contoh misalnya, kerja di kementerian kita, ada yang mau kerja? Mau. Habis itu setelah 2 bulan, ah, ternyata begini, bosan, keluar, keluar aja," kata Wihaji menggambarkan dinamika tenaga kerja muda saat ini.

Kendati demikian, Wihaji mengingatkan bahwa masyarakat tidak bisa secara mentah-mentah menolak ataupun menerima seluruh tatanan baru tanpa adanya filter yang jelas. Kontrol sosial dan penguatan fondasi keluarga tetap menjadi benteng utama dalam menghadapi disrupsi zaman.

"Bahwa ini tatanan baru, ini sesuatu yang baru yang menurut saya bukan berarti kita menolak, tapi juga bukan berarti kita menerima semuanya tatanan baru, tapi harus ada kontrol. Yang endingnya, Bapak Ibu sekalian, kita hanya mengharapkan apapun nanti jabatannya, apapun nanti kalian profesinya, ingat, nanti akan kembali yang namanya keluarga," pungkasnya.