Mensos Ungkap Sekolah Rakyat Rangkul Ribuan Buruh dan Anak Jalanan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 28 Okt 2026, 14:58
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (kiri) dan Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman memberikan keterangan pers selepas acara perayaan satu tahun Sekolah Rakyat di GOR Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (28/10/2026) Menteri Sosial Saifullah Yusuf (kiri) dan Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman memberikan keterangan pers selepas acara perayaan satu tahun Sekolah Rakyat di GOR Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (28/10/2026) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf mengungkapkan bahwa Program Sekolah Rakyat yang telah berjalan selama lebih dari satu tahun sukses menjangkau serta memulihkan ribuan anak dari latar belakang rentan. Kelompok sasaran tersebut meliputi anak jalanan, pengamen, anak putus sekolah yang bekerja sebagai asisten rumah tangga, hingga buruh bangunan.

Pernyataan tersebut disampaikan Saifullah Yusuf di Makassar, Sulawesi Selatan, pada hari Rabu, 28 Oktober 2026, di mana ia mengungkapkan rasa haru dan syukurnya atas progres positif yang ditunjukkan para siswa setelah menjalani pendampingan intensif.

“Ada yang sebelumnya tidak pernah sekolah, di jalanan menjadi pengamen, ada yang sudah putus sekolah dua tahun dan jadi pembantu, ada yang jadi kuli, ada juga yang bekerja di tempat-tempat yang tidak semestinya,” ujar Mensos selepas menghadiri perayaan HUT pertama Sekolah Rakyat yang dipusatkan di GOR Sudiang, Makassar.

Ia memaparkan, pada awal fase penjangkauan, sebagian besar anak-anak tersebut berada dalam kondisi memprihatinkan, baik dari aspek kesehatan fisik seperti masalah gigi dan anemia maupun rendahnya motivasi belajar. Bahkan, ditemukan anak usia 17 hingga 18 tahun yang belum pernah mengenyam pendidikan formal dan belum bisa membaca, sehingga memerlukan tahapan rehabilitasi serta penyetaraan di sentra-sentra kementerian.
 

Melalui penerapan pendekatan multientry-multiexit serta manajemen tata kelola yang terarah, jumlah peserta didik yang bernaung di bawah Sekolah Rakyat secara nasional kini telah menembus angka lebih dari 44.000 anak.

“100 Sekolah Rakyat permanen telah dibangun, 93 di antaranya telah digunakan, dan 7 lainnya dalam proses pembangunan. Sementara Sekolah Rakyat rintisan yang sudah berjalan sebanyak 82 titik, sehingga total jumlah Sekolah Rakyat yang sudah beroperasi sebanyak 182 titik dengan 44 ribu siswa,” jelasnya.

Saifullah menegaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan salah satu program prioritas era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang dirancang khusus untuk menghadirkan akses pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera (Desil 1–4) berdasarkan data dari Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Program ini mengusung skema pengentasan kemiskinan terpadu yang memadukan berbagai layanan kesejahteraan unggulan, mulai dari Makan Bergizi Gratis (MBG), Cek Kesehatan Gratis (CKG), jaminan kesehatan melalui PBI-JK, hingga integrasi dengan Koperasi Merah Putih dan Program 3 Juta Rumah.
 

“Intervensi yang diberikan tidak hanya menyasar anak melalui pendidikan berkualitas, tetapi juga memberdayakan orang tua mereka melalui penyaluran bantuan sosial, kepesertaan PBI Jaminan Kesehatan, hingga perbaikan rumah agar menjadi layak huni,” imbuh Saifullah.

Dalam kesempatan yang sama, Mensos turut menyampaikan apresiasi tinggi kepada jajaran pemerintah daerah, khususnya Gubernur Sulawesi Selatan, atas komitmen luar biasa dalam mendukung program ini. Sulsel tercatat sebagai salah satu daerah paling peduli dengan menyediakan lahan milik pemprov serta memiliki jumlah titik Sekolah Rakyat terbanyak di luar Pulau Jawa, dengan sembilan lokasi yang sudah beroperasi dan empat lokasi baru yang segera dibangun.

“Di Sulsel sekarang sudah ada sembilan dan akan dibangun lagi empat. Luar biasa. Bisa dilihat sekarang kondisinya, dan tentu kami terus berbenah, kami terus memperbaiki, mencukupi seluruh kekurangan-kekurangan itu. Tetapi, sekali lagi pada 28 Oktober ini, sekali lagi kami bersyukur, kami masih sering terharu melihat proses-proses yang terjadi di Sekolah Rakyat ini,” pungkasnya.
 
(Sumber: Antara)