Menuju Masa Depan Gemilang, FEB UI, UB, dan PERTUNI Perkuat Kapasitas Disabilitas Netra
NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Okt 2026, 17:35
Naila Fadhilah
Penulis
Editor
Bagikan
Suasana kolaborasi antara Tim Gerakan Sosial FEB UI, Subdirektorat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusif (SLDPI) Universitas Brawijaya, serta PERTUNI dalam kegiatan InklusifWork yang dihelat di Malang, Jawa Timur, Sabtu (24/10).
Ntvnews.id, Malang - Kompetensi, kreativitas, semangat, dan ketersediaan kesempatan untuk berkembang merupakan faktor utama penentu talenta unggul, melampaui batasan fisik pengelihatan. Semangat tersebut melandasi penyelenggaraan kegiatan bertajuk “InklusifWork: Capacity Building untuk Talenta Disabilitas Netra Hebat – Bersiap Menuju Masa Depan Gemilang” yang dihelat melalui kolaborasi Tim Gerakan Sosial Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Subdirektorat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusif (SLDPI) Universitas Brawijaya, serta Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) di Malang, Jawa Timur, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Berbeda dari model pemberdayaan konvensional yang kerap berfokus pada bantuan sosial, inisiatif ini menempatkan penyandang disabilitas netra sebagai talenta produktif, calon profesional, inovator, dan wirausahawan yang berpotensi berkontribusi langsung pada perekonomian nasional. Melalui penguatan kapasitas karier, kewirausahaan digital, dan pemanfaatan teknologi, program ini bertujuan memperluas kesempatan bagi mahasiswa serta lulusan disabilitas netra untuk memasuki dunia kerja maupun membangun usaha secara mandiri.
Salah satu tantangan dalam menciptakan dunia kerja yang inklusif adalah masih adanya kesenjangan antara potensi individu dengan akses terhadap kesempatan kerja, pengembangan keterampilan, dan jejaring profesional. Padahal, talenta disabilitas netra memiliki peluang untuk berkembang di berbagai bidang, mulai dari layanan profesional, pendidikan, administrasi berbasis teknologi, industri kreatif, hingga kewirausahaan digital.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat FEB UI, Dr. Muthia Pramesti, S.E., M.M., menekankan pentingnya perubahan cara pandang masyarakat terhadap potensi penyandang disabilitas netra.
“Kami ingin mengubah cara pandang bahwa penyandang disabilitas netra bukan sekadar kelompok yang membutuhkan bantuan, melainkan talenta hebat yang memiliki kompetensi, kreativitas, dan potensi ekonomi yang luar biasa. Yang mereka butuhkan bukan belas kasihan, tetapi kesempatan yang setara untuk berkembang, berkarya, dan menunjukkan kemampuannya. Melalui program ini, kami ingin membangun kepercayaan diri dan semangat kewirausahaan agar mereka tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha secara mandiri,” ujar Muthia.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat FEB UI, Dr. Muthia Pramesti, S.E., M.M., saat memberikan pembekalan materi bertajuk
Melalui program ini, peserta memperoleh pembekalan mengenai pengenalan potensi diri, pembangunan kepercayaan diri, perencanaan karier, serta entrepreneurial mindset and behavior. Pembekalan tersebut diarahkan untuk membangun pola pikir bahwa tantangan bukanlah akhir dari kesempatan, melainkan ruang untuk menciptakan solusi dan inovasi. Kemandirian ekonomi bukan hanya tentang memperoleh pekerjaan, tetapi juga tentang memiliki pilihan, menghasilkan nilai tambah, dan menentukan masa depan sendiri.
Salah satu gagasan penting yang diperkenalkan dalam kegiatan ini adalah pengembangan platform digital InklusifWork, melalui laman [https://inklusifwork.my.id/](https://inklusifwork.my.id/). Platform tersebut dikembangkan sebagai sarana yang diharapkan mampu mempertemukan talenta penyandang disabilitas dengan peluang kerja, pengembangan kompetensi, serta jejaring dunia usaha. InklusifWork mengusung pendekatan link and match yang menghubungkan kebutuhan dunia kerja dengan keterampilan dan potensi pencari kerja penyandang disabilitas.
Tidak hanya berorientasi pada pencarian pekerjaan, platform ini juga diarahkan untuk menjadi ekosistem pendukung peningkatan keterampilan, kesiapan karier, dan pengembangan kewirausahaan. Menurut Muthia, keberlanjutan program pemberdayaan menjadi salah satu aspek penting yang melatarbelakangi pengembangan InklusifWork.
“Pelatihan tidak boleh berhenti ketika kegiatan selesai. Kami ingin membangun jembatan yang menghubungkan talenta hebat disabilitas dengan dunia industri dan kesempatan berwirausaha. Melalui pengembangan InklusifWork, harapannya semakin banyak penyandang disabilitas yang dapat mengakses informasi pekerjaan, meningkatkan keterampilan, membangun jejaring, dan mengembangkan kemandirian ekonominya. Bagi kami, inklusi yang sesungguhnya adalah ketika potensi seseorang mendapatkan ruang untuk tumbuh dan menghasilkan karya nyata,” jelas Muthia.
Kehadiran InklusifWork mencerminkan perubahan paradigma bahwa inklusi ekonomi tidak cukup diwujudkan melalui pelatihan sesaat. Diperlukan ekosistem berkelanjutan yang mempertemukan talenta, teknologi, institusi pendidikan, dan pelaku industri.
Aspek kewirausahaan mendapat perhatian penting dalam kegiatan ini. Peserta didorong untuk mengenali potensi diri, mengidentifikasi peluang usaha, membangun kepercayaan diri, serta memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana menciptakan nilai ekonomi. Di tengah berkembangnya ekonomi digital dan kecerdasan buatan, berbagai teknologi aksesibilitas membuka peluang baru bagi penyandang disabilitas netra untuk beraktivitas secara produktif.
Pemanfaatan pembaca layar, aplikasi berbasis kecerdasan buatan, pemasaran digital, dan perangkat pendukung aksesibilitas dapat memperluas kesempatan mereka dalam mengembangkan usaha maupun menjalankan pekerjaan profesional. Melalui pendekatan entrepreneurial mindset, peserta diajak untuk tidak hanya mempersiapkan diri sebagai pencari kerja (job seeker), tetapi juga mengembangkan potensi sebagai pencipta peluang usaha (job creator).
Pendidikan inklusif harus membuka jalan menuju dunia profesional disampaikan oleh kepala Subdirektorat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusif Universitas Brawijaya, Zubaidah Ningsih AS., S.Si., M.Phil., Ph.D. Beliau menyatakan bahwa pendidikan inklusif tidak hanya berorientasi pada akses terhadap pendidikan tinggi, tetapi juga harus mendukung kesiapan mahasiswa penyandang disabilitas dalam menghadapi kehidupan profesional.
“Pendidikan inklusif bukan sekadar memastikan mahasiswa penyandang disabilitas dapat mengakses perkuliahan. Lebih jauh, perguruan tinggi juga memiliki tanggung jawab untuk mendukung pengembangan kompetensi, kepercayaan diri, dan kesiapan mereka menghadapi dunia kerja. Kami percaya bahwa mahasiswa dengan disabilitas netra memiliki potensi dan aspirasi yang sama besarnya untuk berhasil. Kolaborasi seperti ini menjadi langkah penting untuk mempertemukan potensi tersebut dengan kesempatan yang nyata,” ungkap Zubaidah.
Melalui dukungan SLDPI Universitas Brawijaya, kegiatan ini juga memperkuat peran perguruan tinggi dalam membangun ekosistem pendidikan yang mampu menjembatani proses pembelajaran, pengembangan keterampilan, dan transisi menuju dunia kerja maupun kewirausahaan.
Dari perspektif komunitas, Dendy Arifiyanto, Pimpinan PERTUNI, menyoroti pentingnya kesempatan yang setara bagi penyandang disabilitas netra untuk membuktikan kompetensi dan kemandiriannya.
“Banyak penyandang disabilitas netra yang memiliki pendidikan, keterampilan, semangat, dan keinginan besar untuk bekerja maupun berwirausaha. Namun, kesempatan yang tersedia belum selalu sebanding dengan potensi yang mereka miliki. Kami berharap dunia usaha dan masyarakat semakin terbuka untuk melihat kemampuan kami, bukan hanya kondisi disabilitasnya. Kami tidak ingin hanya dilihat sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai profesional, pelaku usaha, dan bagian dari sumber daya manusia produktif yang dapat memberikan kontribusi nyata,” kata Dendy.
Dendy juga menyambut positif pengembangan InklusifWork sebagai salah satu upaya memperluas akses informasi dan jejaring bagi komunitas penyandang disabilitas.
“Kami berharap InklusifWork dapat berkembang menjadi jembatan yang mempertemukan talenta penyandang disabilitas dengan perusahaan, pelaku usaha, dan berbagai kesempatan ekonomi. Ketika akses, teknologi, dan kesempatan tersedia, kami yakin semakin banyak talenta disabilitas netra yang mampu menunjukkan prestasi dan kemandiriannya,” tambahnya.
Kegiatan ini menjadi wujud sinergi antara perguruan tinggi dan organisasi penyandang disabilitas dalam menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat. Tim Gerakan Sosial FEB UI berkontribusi melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia, kewirausahaan, serta pemberdayaan ekonomi. SLDPI Universitas Brawijaya mendukung pengembangan lingkungan pendidikan yang inklusif dan aksesibel, sementara PERTUNI menghadirkan perspektif serta kebutuhan nyata komunitas disabilitas netra.
Segenap panitia, perwakilan penyelenggara dari FEB UI, SLDPI Universitas Brawijaya, PERTUNI, serta para peserta berpose bersama usai rangkaian kegiatan Capacity Building dan peluncuran platform InklusifWork di Malang.
Kolaborasi tersebut sekaligus menegaskan bahwa pengembangan talenta disabilitas tidak dapat dilakukan oleh satu pihak. Dukungan institusi pendidikan, dunia industri, pemerintah, dan komunitas diperlukan untuk menciptakan akses yang lebih setara. Inisiatif ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Melalui kegiatan capacity building dan pengembangan InklusifWork, kolaborasi FEB UI, Universitas Brawijaya, dan PERTUNI diharapkan dapat menjadi salah satu model pemberdayaan ekonomi inklusif yang dapat dikembangkan lebih luas.
Sebab masa depan yang inklusif bukan hanya tentang membuka akses bagi penyandang disabilitas, melainkan juga memastikan potensi, kompetensi, dan karya mereka memperoleh kesempatan yang setara untuk diakui dan berkembang. Talenta disabilitas netra bukan sekadar bagian dari agenda inklusi sosial. Mereka adalah bagian dari masa depan sumber daya manusia Indonesia yang memiliki kesempatan untuk berkarya, berinovasi, dan menggerakkan perekonomian.