Mentrans Dorong Pemanfaatan Teknologi untuk Tingkatkan Ekonomi Warga Transmigrasi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 31 Okt 2026, 21:05
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara meninjau mesin pengering berkapasitas dua ton yang dikembangkan Tim Ekspedisi Patriot Institut Teknologi Sepuluh Nopember (TEP ITS) untuk petani transmigran di Distrik Oransbari, Kawasan Transmigrasi Momiwaren, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat. Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara meninjau mesin pengering berkapasitas dua ton yang dikembangkan Tim Ekspedisi Patriot Institut Teknologi Sepuluh Nopember (TEP ITS) untuk petani transmigran di Distrik Oransbari, Kawasan Transmigrasi Momiwaren, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Transmigrasi (Mentrans) M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa teknologi yang diterapkan di kawasan transmigrasi harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan.

“Saya ingin menyemangati dan melihat langsung karya-karya nyata yang diberikan oleh para anggota tim ekspedisi patriot dalam gerakan transmigrasi patriot, bahwa hari ini transmigrasi bukan lagi sekedar memindahkan penduduk, tetapi membangun satu kawasan ekonomi,” ujar Iftitah dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu, 31 Oktober 2026.

Penerapan teknologi tersebut terlihat di Distrik Oransbari, Kawasan Transmigrasi Momiwaren, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat. Petani transmigran di wilayah itu kini dapat mengeringkan gabah menggunakan mesin berkapasitas dua ton yang dikembangkan Tim Ekspedisi Patriot Institut Teknologi Sepuluh Nopember (TEP ITS).

Mesin tersebut mampu memangkas waktu pengeringan dari yang sebelumnya membutuhkan tiga hingga tujuh hari menjadi belasan jam. Dengan demikian, petani dapat menangani hasil panen lebih cepat tanpa harus menunggu cuaca cerah selama berhari-hari.

Baca Juga: Mentrans Dorong Penguasaan Teknologi Sampah Jadi Energi, Bidik Kemandirian Industri Nasional

Penggunaan mesin juga mengurangi ketergantungan terhadap penjemuran gabah secara manual di jalan yang selama ini mengganggu lalu lintas. Operasionalnya didukung Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk mengatasi kendala pasokan listrik di kawasan tersebut.

Pengembangan teknologi pascapanen turut mencakup proses pemilahan beras. Upaya ini memberikan kesempatan kepada petani untuk menjual hasil produksi dengan kualitas lebih baik dan harga lebih tinggi.

Menurut Iftitah, beras utuh berkualitas premium hasil pemilahan memiliki harga jual Rp15.000 hingga Rp17.000 per kilogram. Harga tersebut meningkat dibandingkan sebelumnya yang berada di kisaran Rp12.000 per kilogram.

Beras menir juga mendapatkan pemanfaatan baru melalui pengolahan menjadi tepung beras. Sebelumnya, beras menir dijual sebagai pakan ternak dengan harga Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram. Setelah diolah, produk tersebut dapat dipasarkan sekitar Rp18.000 per kilogram. Selisih harga itu merupakan nilai jual sebelum dikurangi biaya pengolahan.

Baca Juga: Mentrans Tekankan SDM dan Riset sebagai Fondasi Industri di Kawasan Transmigrasi

BUMDes setempat mengelola produksi tepung beras untuk memenuhi kebutuhan UMKM, termasuk pelaku usaha pembuat peyek dan kue. Usaha tersebut telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB). Pengolahan ini memungkinkan hasil panen menjadi bahan baku produk pangan lokal sekaligus memberikan peluang usaha bagi warga.

Iftitah berharap berbagai inovasi tersebut dapat meningkatkan kemampuan masyarakat transmigrasi dalam mengembangkan usaha, memperoleh pendapatan lebih baik, dan memperluas kesempatan kerja.

Selain pengolahan padi, TEP ITS juga menghadirkan teknologi untuk mendukung sektor pertanian, perikanan, dan kebutuhan dasar masyarakat. Tim mengembangkan reaktor biogas yang menghasilkan pupuk organik cair hingga 50 liter per hari.

Di sektor perikanan, teknologi pengasapan ikan yang dikembangkan mampu mempercepat proses produksi. Waktu pengolahan yang sebelumnya mencapai dua hari kini dapat dipangkas menjadi maksimal dua jam.

Tim juga membangun instalasi pompa air bersih yang dilengkapi menara tandon untuk memenuhi kebutuhan 35 keluarga. Selain itu, pengembangan situs promosi dan aplikasi administrasi BUMDes dilakukan untuk mendukung pemasaran produk serta pencatatan usaha.

Rektor ITS Bambang Pramujati mengatakan keterlibatan perguruan tinggi dalam program tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa dan dosen untuk menerapkan pengetahuan mereka dalam membantu menyelesaikan persoalan masyarakat.

“Ini ada 100 mahasiswa, 20 tim di tiga distrik dan 20 dosen yang terlibat di sana. Dan mereka mempunyai kesempatan untuk memberi kebermanfaatannya lebih bagi masyarakat dengan ilmu yang mereka miliki,” ujar Bambang.

Ia menyampaikan bahwa ITS siap melanjutkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui skema Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik.

(Sumber: Antara)