Cerita Oegroseno ada Jenderal Polri Tak Berani Balas WA karena Disadap Kapolri

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Nov 2026, 10:50
thumbnail-author
April
Penulis
thumbnail-author
Adiantoro
Editor
Bagikan
Mantan Wakapolri, Komjen Pol (Purn) Oegroseno saat menjadi narasumber dalam program dialog NTV Prime di Nusantara TV, Rabu (24/7/2024). Mantan Wakapolri, Komjen Pol (Purn) Oegroseno saat menjadi narasumber dalam program dialog NTV Prime di Nusantara TV, Rabu (24/7/2024).

Ntvnews.id, Jakarta - Di tengah sorotan publik terhadap pengusutan kasus hukum yang menyeret sejumlah nama petinggi kepolisian, pernyataan lama dari mantan Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri), Komjen Pol (Purn) Oegroseno, kembali menjadi sorotan.

Oegroseno sebelumnya pernah membeberkan fakta mencengangkan mengenai atmosfer internal institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) pada masa kepemimpinan Kapolri saat itu, Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Dalam podcast Obor Rakyat Reborn, Oegroseno menceritakan bagaimana sejumlah Perwira Tinggi (Pati) Polri merasa tertekan dan tidak berani berkomunikasi dengannya karena khawatir perangkat seluler mereka dimonitor atau disadap.

Ketakutan tersebut membuat para perwira menengah hingga tinggi enggan membalas pesan atau panggilan telepon darinya.

Oegroseno mengenang momen tersebut saat dirinya tidak sengaja mendengarkan pengakuan langsung dari para perwira di lapangan dalam sebuah kesempatan acara resmi, yakni pada saat peringatan Hari Juang Polri.

"Beberapa pejabat juga kalau saya telepon kok enggak balas, gitu kan? Enggak sengaja nih, Mas, pas Hari Juang itu, saya kan hadir. Ada beberapa yang nyampein, 'Mohon izin, Jenderal, kami enggak bisa balas karena HP kami semua dimonitor oleh Kapolri," ujar Oegroseno, 4 November 2026.

Baca Juga: Bukan Hanya Prabowo, Parpol hingga Media Ikut Disadap Listyo Sigit Cs

Mendengar laporan langsung dari para juniornya di korps Bhayangkara itu, Oegroseno mengaku sempat merasa terkejut dan meragukan kebenarannya.

Namun, para perwira tersebut menegaskan bahwa pengawasan ketat terhadap komunikasi internal memang benar-benar dirasakan oleh jajaran internal akibat adanya perbedaan pandangan atau pendapat dalam tubuh institusi.

"'Ah, masa seperti itu?' 'Oh, iya.' Kan berbeda pendapat masalahnya. Kondisi seperti itu sekarang ya alhamdulillah, pergantian Kapolri itu merubah atmosfer seperti itu. 'Masa jenderal bintang tiga, bintang dua, bintang satu, hanya takut disadap-sadap seperti itu, buat apalah?' Itulah, ya," kata Oegroseno.

Lebih lanjut, Oegroseno mengungkapkan bahwa para juniornya tidak berani melakukan kontak secara bebas melalui aplikasi pesan instan WhatsApp dengannya.

Mereka khawatir apabila terbukti menjalin komunikasi dengan pihak-pihak tertentu yang dianggap tidak sejalan, sanksi tegas akan menanti mereka di internal korps. Sanksi tersebut berkisar dari teguran hingga ancaman pencopotan jabatan dari kedudukan struktural mereka.

"Kalau disetrap masih bagus, Pak. Kalau dicopot dan non-jobkan," pungkasnya menggambarkan risiko karier yang menghantui para perwira tinggi jika kedapatan melanggar batas komunikasi yang diawasi.

Pengakuan terbuka dari eks Wakapolri ini memberikan gambaran mengenai dinamika internal dan ketegangan birokrasi di masa lalu, yang kini kembali menjadi bahan perbincangan hangat di tengah berbagai perkembangan penegakan hukum nasional.