Ntvnews.id, Jakarta - Perjuangan Nenek Saudah (68) mempertahankan lahannya dari tambang emas ilegal berakhir tragis pada awal Januari 2026. Peristiwa itu bermula ketika ia menerima kabar bahwa penambang emas ilegal hendak memasuki lahannya di Jorong Lubuak Aro, Nagari Matinggi Utara, Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.
Mengetahui hal itu, Nenek Saudah bergegas menuju lokasi untuk menegaskan keberatannya. Namun, niatnya yang sederhana itu justru dibalas dengan kekerasan. Dalam perjalanan, ia diserang, dilempari batu, dipukul, dan diseret hingga pingsan.
Warga yang kemudian menemukan korban awalnya mengira ia telah meninggal karena kondisi tubuhnya yang penuh luka lebam dan tergeletak di semak-semak. Anak korban, Iswandi Lubis, menceritakan kronologi serangan itu dengan gamblang.
Baca Juga: Berantas Tambang Ilegal, Negara Berhasil Amankan 70.000 Ton Batu Bara di Kaltim
“Ibu saya hanya minta supaya jangan siang-siang menambang. Tidak melarang, hanya minta dihentikan sementara,” ujarnya, dilansir pada Rabu, 7 Januari 2026.
Menurut Iswandi, ibunya sudah lama menentang penambangan emas ilegal di lahannya. Meskipun sering dibujuk untuk mengizinkan aktivitas tersebut, Nenek Saudah selalu menolak. Penolakan yang konsisten itu memicu insiden penganiayaan yang kini membuatnya harus mendapatkan perawatan intensif.
Saat ini, Nenek Saudah dirawat di RSUD Tuanku Imam Bonjol Lubuk Sikaping. Luka memar di tubuh dan wajahnya menjadi saksi kekerasan yang ia alami demi mempertahankan hak atas lahannya.
Baca Juga: Tolak Tambang Emas Ilegal, Nenek Saudah Dihajar hingga Babak Belur dan Dibuang ke Semak-semak
Keluarga korban telah melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian pada Senin (5/1/2026) dan berharap pelaku segera ditangkap. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang juga mendesak agar kasus penganiayaan ini diusut tuntas, termasuk aktivitas tambang emas ilegal yang telah berlangsung sekitar setahun di lokasi tersebut.
Selain kekerasan terhadap Nenek Saudah, tambang ilegal itu berdampak besar terhadap mata pencaharian warga sekitar. Usaha keramba ikan mereka tidak lagi beroperasi karena air sungai yang menjadi sumber kehidupan berubah keruh pekat.
Kronologi yang menimpa Nenek Saudah menyoroti risiko nyata yang dihadapi warga ketika berupaya melindungi lahan dan lingkungan mereka dari eksploitasi ilegal.
Nenek Saudah di Pasaman yang Babak Belur Gegara Tolak Tambang Emas (Instagram)