Ntvnews.id, Wasngington D.C - Serangan militer Amerika Serikat (AS) ke Caracas yang berujung pada tumbangnya Presiden Venezuela Nicolas Maduro menandai pergeseran signifikan dalam sikap Presiden Donald Trump di panggung internasional.
Dilansir dari DW, Kamis, 8 Januari 2026, ancaman yang sebelumnya kerap dipandang sebatas retorika kini diwujudkan dalam tindakan konkret, memberikan makna baru terhadap arah kebijakan luar negeri Washington.
Dalam konteks tersebut, perhatian kembali tertuju pada ambisi lama Trump yang kembali mencuat, yakni keinginannya agar Amerika Serikat mengambil alih Greenland, wilayah otonom strategis di kawasan Arktik yang berada di bawah kedaulatan Denmark.
Pasca demonstrasi kekuatan AS di Venezuela, wacana mengenai Greenland tidak lagi dianggap sekadar provokasi politik, melainkan berpotensi menjadi sumber ketegangan serius dengan negara-negara sekutu di Eropa.
Baca Juga: Trump: Venezuela Tak Akan Gelar Pemilu Baru Dalam 30 Hari
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen pada Senin, 5 Januari 2026, kembali menegaskan penolakan tegas negaranya terhadap gagasan tersebut. Ia menekankan bahwa Greenland secara konsisten menyatakan tidak ingin menjadi bagian dari Amerika Serikat, sekaligus mengingatkan bahwa langkah sepihak Washington dapat mengancam soliditas aliansi NATO.
Pertanyaannya kemudian, apa yang membuat Trump terus memusatkan perhatian pada pulau terpencil dengan jumlah penduduk minim ini, serta mengapa Greenland kini menjadi titik sensitif dalam hubungan Amerika Serikat dan Eropa?
Gambaran Umum Greenland
Greenland merupakan pulau dengan luas sekitar 2,16 juta kilometer persegi yang kaya akan sumber daya alam. Wilayah ini adalah bekas koloni Denmark dan saat ini berstatus sebagai daerah otonom di bawah kedaulatan Kopenhagen. Terletak di kawasan Arktik, Greenland dikenal sebagai wilayah dengan tingkat kepadatan penduduk terendah di dunia.
Greenland (Pixabay)
Dengan populasi sekitar 56 ribu jiwa, mobilitas antarpermukiman di Greenland sangat bergantung pada jalur laut dan udara, seperti kapal, helikopter, serta pesawat berukuran kecil. Permukiman penduduk umumnya terkonsentrasi di sepanjang pesisir barat pulau.
Ibu kota Nuuk mencerminkan kondisi tersebut, dengan deretan rumah berwarna cerah yang berdiri rapat di antara garis pantai berbatu dan kawasan pegunungan di pedalaman.
Di luar pusat-pusat hunian, sebagian besar wilayah Greenland masih berupa bentang alam alami. Sekitar 81 persen permukaannya tertutup lapisan es. Hampir 90 persen penduduknya berasal dari etnis Inuit, sementara selama puluhan tahun kegiatan ekonomi lokal bertumpu pada sektor perikanan sebagai sumber penghidupan utama.
Kepentingan Strategis di Kawasan Arktik
Dari perspektif geopolitik, Greenland menempati posisi strategis di antara Amerika Serikat dan Eropa. Pulau ini berada di jalur penting yang dikenal sebagai celah GIUK, yakni rute maritim yang membentang dari Greenland, Islandia, hingga Inggris, yang menghubungkan kawasan Arktik dengan Samudra Atlantik.
Nilai strategis tersebut semakin meningkat karena kekayaan sumber daya alam yang dimilikinya, mulai dari cadangan minyak dan gas hingga mineral tanah jarang. Komoditas terakhir memiliki arti khusus, terutama di tengah dominasi Tiongkok dalam rantai pasok global mineral tanah jarang yang kerap dimanfaatkan Beijing sebagai alat tekanan geopolitik.
Baca Juga: PM Denmark Peringatkan AS Tak Boleh Caplok Greenland
Mineral-mineral tersebut menjadi komponen vital bagi berbagai industri, mulai dari teknologi energi terbarukan seperti kendaraan listrik dan turbin angin hingga sistem persenjataan modern.
Perubahan iklim turut menambah dimensi baru dalam perhitungan strategis kawasan Arktik. Mencairnya lapisan es berpotensi mempermudah eksploitasi sumber daya alam sekaligus memperpanjang musim pelayaran di rute utara, yang pada akhirnya dapat mengubah peta perdagangan global.
Hal ini terjadi meski Presiden Donald Trump berulang kali meremehkan krisis iklim dengan menyebutnya sebagai “penipuan terbesar.”
Trump sendiri cenderung mengecilkan peran faktor sumber daya alam dalam ketertarikannya terhadap Greenland. Ia mengatakan kepada wartawan bulan lalu bahwa kepentingan Amerika Serikat semata-mata didorong oleh pertimbangan keamanan nasional, “bukan karena mineral.”
Namun pandangan tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan pernyataan orang-orang terdekatnya. Mantan penasihat keamanan nasional Trump, Mike Waltz, pada Januari 2024 menyebut bahwa fokus Washington terhadap Greenland berkaitan erat dengan akses terhadap “mineral kritis” dan kekayaan sumber daya alam lainnya.
Arsip - Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (ANTARA/Anadolu/py) (Antara)