DK PBB Gelar Sidang Darurat Bahas Ukraina Usai Serangan Besar-besaran Rusia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 11 Jan 2026, 09:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Ramses Manurung
Editor
Bagikan
Arsip - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres (tampak di layar) berbicara melalui tautan video pada debat terbuka Dewan Keamanan tentang masa depan PBB di Markas Besar PBB di New York, 24 Oktober 2025. (ANTARA/Xinhua/Xie E.) Arsip - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres (tampak di layar) berbicara melalui tautan video pada debat terbuka Dewan Keamanan tentang masa depan PBB di Markas Besar PBB di New York, 24 Oktober 2025. (ANTARA/Xinhua/Xie E.) (Antara)

Ntvnews.id, New York - Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dijadwalkan mengadakan pertemuan pada Senin, 12 Januari 2025 untuk membahas situasi Ukraina, menyusul serangan besar-besaran yang dilancarkan Rusia. Sidang darurat ini digelar setelah Wali Kota Kyiv mengimbau warga agar meninggalkan ibu kota Ukraina tersebut akibat pemadaman pemanas secara massal yang dipicu oleh serangan Rusia.

"Federasi Rusia telah mencapai tingkat kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang mengerikan dengan terornya terhadap warga sipil," ujar Duta Besar Ukraina untuk PBB, Andriy Melnyk, dalam surat yang dikirimkan kepada Dewan Keamanan, sebagaimana dilaporkan AFP, Minggu, 11 Januari 2026.

Wali Kota Kyiv, Vitaliy Klitschko, menyatakan bahwa serangan terbaru Rusia menyebabkan sekitar separuh bangunan tempat tinggal di Kyiv kehilangan akses pemanas, padahal suhu udara berada di bawah titik beku.

Baca Juga: PBB Nilai Penarikan AS dari Kerja Sama Iklim Berpotensi Merugikan Ekonomi

Kremlin juga mengonfirmasi bahwa Rusia kembali meluncurkan rudal balistik Oreshnik ke wilayah Ukraina, menandai penggunaan kedua rudal tersebut sejak perang dimulai pada Februari 2022.

"Rezim Federasi Rusia secara resmi mengklaim bahwa mereka menggunakan rudal balistik jarak menengah, yang disebut 'Oreshnik', terhadap wilayah Lviv," tulis Melnyk dalam suratnya.

Gambar bendera Rusia dan Ukraina di tembok batu bata dengan bayangan tentara. <b>(Antara)</b> Gambar bendera Rusia dan Ukraina di tembok batu bata dengan bayangan tentara. (Antara)

"Serangan semacam itu merupakan ancaman serius dan belum pernah terjadi sebelumnya terhadap keamanan benua Eropa," lanjutnya.

Pemerintah Rusia mengklaim bahwa rudal Oreshnik, yang dapat dipasangi hulu ledak nuklir maupun konvensional, tidak dapat dicegat.

Menurut sumber diplomatik yang dikutip AFP, permintaan Ukraina untuk menggelar sidang darurat DK PBB ini mendapat dukungan dari enam negara anggota, yakni Prancis, Latvia, Denmark, Yunani, Liberia, dan Inggris.

x|close