Ntvnews.id, Bangkok - Sebuah derek konstruksi berukuran besar ambruk dan menimpa kereta penumpang yang sedang melaju di Provinsi Nakhon Ratchasima, Thailand, Rabu, 14 Januari 2026. Jumlah korban jiwa akibat insiden ini terus meningkat dan hingga laporan ini diturunkan sedikitnya mencapai 28 orang.
Dilansir dari DW, Kamis, 15 Januari 2026, kereta yang tertimpa crane tersebut mengangkut total 195 penumpang. Akibat kecelakaan ini, sedikitnya 80 orang mengalami luka-luka, dengan korban termuda berusia satu tahun dan yang tertua berumur 65 tahun.
Salah seorang kru kereta yang berhasil selamat mengisahkan bahwa dirinya bersama para penumpang lain sempat terlempar ke udara ketika alat berat itu jatuh menghantam gerbong tempat mereka berada.
Insiden kecelakaan konstruksi semacam ini bukan kali pertama terjadi di Thailand. Sejumlah pengamat menilai peristiwa serupa kerap berulang akibat lemahnya regulasi serta penegakan aturan oleh pemerintah.
Kronologi kejadian
Peristiwa tragis ini terjadi sekitar pukul 09.00 waktu setempat di Distrik Sikhio, Provinsi Nakhon Ratchasima, yang berjarak sekitar 230 kilometer dari Bangkok. Kereta tersebut diketahui berangkat dari ibu kota Bangkok menuju Provinsi Ubon Ratchathani.
Baca Juga: Hanoi Ajukan Penghentian Sementara Kereta di Jalur Kafe Populer
Menurut laporan media lokal The Nation, sesaat sebelum kejadian, derek itu tengah mengangkat segmen beton berukuran besar. Namun, alat berat tersebut kemudian menjatuhkan muatan ke arah kereta yang melintas, sehingga menyebabkan beberapa gerbong keluar dari rel.
Laporan menyebutkan dua gerbong pertama mengalami kerusakan paling parah karena tertimpa segmen beton, sementara gerbong ketiga dan keempat turut rusak serta terlepas. Dampak jatuhnya crane juga membuat rangkaian kereta tergelincir dan sempat terbakar.
Pada saat kejadian, sebagian besar penumpang merupakan pelajar dan pekerja yang sedang bepergian ke distrik lain. Hingga sekitar pukul 12.00 siang, Kementerian Kesehatan Thailand menyatakan seluruh korban telah dievakuasi dari lokasi.
Derek yang roboh tersebut digunakan dalam proyek pembangunan jalur kereta cepat yang direncanakan menghubungkan Provinsi Nong Khai di perbatasan Laos hingga Bangkok. Saat ini, proyek tersebut masih berada pada tahap pertama, yakni lintasan Bangkok–Nakhon Ratchasima, yang telah dimulai sejak 2017.
Perusahaan pelat merah operator kereta api Thailand memastikan terdapat 195 penumpang di dalam kereta saat kecelakaan terjadi.
Kesaksian penyintas
Crane Proyek Kereta Cepat Ambruk Timpa Kereta Penumpang di Thailand. (AP News)
Salah satu kru kereta, Thirasak Wongsoongnern, mengungkapkan bahwa rangkaian kereta terdiri dari tiga gerbong. Ia menjelaskan, gerbong pertama tidak mengalami kerusakan, sementara dua gerbong lainnya tertabrak dan menjadi lokasi utama jatuhnya korban jiwa dan luka-luka.
Thirasak menuturkan kereta melaju dengan kecepatan sekitar 120 kilometer per jam ketika derek jatuh. Benturan keras membuat dirinya dan para penumpang terlempar. Ia sempat membantu evakuasi korban, namun tidak dapat masuk ke gerbong kedua karena kondisi gerbong tersebut terbakar.
Respons pemerintah Thailand
Menteri Perhubungan Thailand Phiphat Ratchakitprakarn menyatakan telah memanggil pimpinan perusahaan kereta api dan memerintahkan penyelidikan menyeluruh guna mengungkap penyebab kecelakaan. Otoritas juga tengah melakukan verifikasi identitas penumpang serta memantau kondisi para korban.
Phiphat menambahkan, keluarga korban meninggal dunia akan menerima kompensasi dari pemerintah, dengan ketentuan korban berstatus sebagai pekerja kereta api.
Proyek kereta cepat dan catatan kecelakaan
Sebagian besar pendanaan proyek jalur kereta cepat ini berasal dari pemerintah Thailand, sementara teknologi dan sarana perkeretaapian akan menggunakan dukungan dari China. Proyek kerja sama Thailand–China ini sempat tertunda setelah pihak Thailand menilai mitranya "menginginkan terlalu banyak hal", termasuk hak pengembangan properti di sekitar jalur rel.
Baca Juga: Libur Nataru, Ribuan Turis Malaysia Padati Kereta Cepat Whoosh
China sendiri memandang proyek ini sebagai penghubung strategis antara Yunnan dan Teluk Thailand. Meski demikian, proyek tersebut telah berulang kali mengalami penundaan dan dinilai berpotensi tidak menghasilkan keuntungan besar.
Rentetan kecelakaan konstruksi mematikan memang kerap terjadi di Thailand. Pada 2023, kecelakaan antara kereta barang dan truk pikap menewaskan delapan orang. Setahun kemudian, runtuhnya lokasi konstruksi gedung tinggi di Bangkok akibat gempa menelan lebih dari 100 korban jiwa.
Sebuah studi Dana Kompensasi Pekerja pada 2022 mencatat, lebih dari 4.500 pekerja tewas atau terluka akibat kecelakaan konstruksi sepanjang 2021, mencerminkan masih lemahnya standar keselamatan di sektor tersebut.
Crane Proyek Kereta Cepat Ambruk Timpa Kereta Penumpang di Thailand. (AP News)