AS Minta Sejumlah Personel Tinggalkan Pangkalan Militer Qatar

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 15 Jan 2026, 07:04
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Bendera Amerika Serikat/ist Bendera Amerika Serikat/ist

Ntvnews.id, Washington D.C - Sejumlah personel militer Amerika Serikat (AS) diminta meninggalkan Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar. Dua sumber diplomatik menyebut pemerintah negara Teluk tersebut menjelaskan bahwa meningkatnya ketegangan kawasan menjadi latar belakang kebijakan itu.

Dilansir dari AFP, Kamis, 15 Januar 2026, langkah ini diambil menyusul ancaman Washington untuk merespons keras tindakan pemerintah Iran terhadap gelombang protes. Di sisi lain, Teheran menyatakan akan menyerang aset militer serta kapal-kapal AS apabila terjadi serangan baru.

Kantor Media Internasional Qatar menyatakan keputusan tersebut diambil "sebagai tanggapan terhadap ketegangan regional saat ini."

Pernyataan itu juga menegaskan, "Qatar terus menerapkan semua langkah yang diperlukan untuk menjaga keamanan dan keselamatan, termasuk tindakan yang berkaitan dengan perlindungan infrastruktur penting dan fasilitas militer."

Baca Juga: Menlu Sebut Masih Pantau Situasi Iran, Evakuasi WNI Belum Diputuskan

Sebelumnya, seorang sumber diplomatik mengatakan kepada AFP bahwa sejumlah personel militer diminta meninggalkan pangkalan Al Udeid pada Rabu, 14 Januari 2026 malam. Informasi tersebut kemudian dibenarkan oleh sumber diplomatik kedua yang juga meminta identitasnya dirahasiakan.

Sementara itu, Kedutaan Besar AS di Qatar menolak memberikan komentar terkait pergerakan personel di pangkalan militer tersebut.

Pada Juni lalu, Iran sempat menargetkan Pangkalan Udara Al Udeid milik AS di Qatar sebagai balasan atas serangan Amerika terhadap fasilitas nuklir Iran. Penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Ali Shamkhani, bahkan memperingatkan Presiden AS Donald Trump bahwa serangan tersebut menunjukkan "kemauan dan kemampuan Iran untuk menanggapi serangan apa pun."

Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat. /ANTARA/Anadolu/py/am. <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat. /ANTARA/Anadolu/py/am. (Antara)

Doha disebut berhasil memanfaatkan insiden serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayahnya itu untuk mendorong tercapainya gencatan senjata cepat antara Washington dan Teheran.

Amerika Serikat sendiri berulang kali menyatakan tengah mempertimbangkan opsi serangan udara ke Iran guna menghentikan penindasan terhadap demonstran. Dalam wawancara dengan CBS News, Trump mengatakan AS akan bertindak jika Iran mulai menggantung para pengunjuk rasa.

Namun, otoritas Iran menilai peringatan tersebut sebagai "dalih untuk intervensi militer."

Baca Juga: Iran Tuduh AS Cari Alasan Lakukan Intervensi Militer

Gelombang protes besar di Iran yang berlangsung sejak Kamis lalu menjadi salah satu tantangan terberat bagi kepemimpinan ulama sejak Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan Shah.

Lembaga swadaya masyarakat Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia mengungkap telah mengonfirmasi sedikitnya 734 korban tewas selama unjuk rasa, termasuk sembilan anak di bawah umur. Meski demikian, IHR memperingatkan jumlah korban sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar.

"Jumlah sebenarnya korban tewas kemungkinan mencapai ribuan," kata direktur IHR, Mahmood Amiry-Moghaddam.

x|close