Ntvnews.id, Jakarta - Perusahaan Umum Daerah PAM Jaya
Senior Manager Corporate & Customer Communication PAM Jaya, Gatra Vaganza, menjelaskan bahwa metode yang digunakan dalam proyek tersebut adalah metode "jacking" atau pengeboran bawah tanah, bukan metode konvensional open cut yang membongkar badan jalan secara terbuka.
"Karena kita ngedorong pipanya tuh pakai model jacking namanya. Karena kalau saat ini di Jakarta sudah tidak boleh lagi metode open cut, yang dibelah dibuka semua sepanjang jalan," ujar Gatra saat dihubungi di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.
Ia menerangkan, lubang-lubang galian yang terlihat di lokasi bukan menandakan proyek mangkrak, melainkan berfungsi sebagai titik kontrol untuk memastikan jalur pipa yang dipasang di bawah tanah sesuai perencanaan.
"Jadi pit-pit galian itu untuk ngelihat pipa-pipa yang ditusuk lewat bawah tanah itu udah benar jalurnya. Jadi kalau kita lewat situ, kasat mata itu terlihat enggak ada pekerjaan. Ya memang enggak ada pekerjaan di atasnya. Jadi bak itu (lubang), cuman sebagai bak kontrol," tutur Gatra.
Baca Juga: Sosialisasi Perluas Layanan Air Minum, PAM Jaya Dorong Warga Beralih ke Air Perpipaan
Menurutnya, jika metode open cut diterapkan, dampaknya terhadap lalu lintas akan jauh lebih besar karena jalan harus dibongkar sepanjang jalur pemasangan pipa.
"Kalau pakai metode open cut, saya ilustrasikan misalnya ada pemasangan pipa dari Monas ke Bundaran HI. Kalau open cut berarti akan banyak pembongkaran jalan dan itu akan macet parah, mengganggu lalu lintas," kata Gatra.
Dengan metode jacking, pengerjaan hanya membutuhkan titik-titik tertentu untuk mendorong pipa dari satu sisi ke sisi lain di bawah tanah, sehingga gangguan di permukaan dapat diminimalkan. Lubang yang tampak menganga di Jalan Peta Selatan disebutnya murni sebagai bak kontrol, bukan area utama pengerjaan.
"Nah, lubang-lubang itu sebenarnya buat melihat pipanya itu lurus atau enggak, sesuai apa enggak. Nah, makanya kalau orang-orang lewat situ ngelihat, pasti kesannya jadi 'ada lubang doang, tapi enggak ada yang kerja'. Ya memang enggak ada yang kerja di atas karena itu untuk mantau," ujar Gatra.
Baca Juga: PAM Jaya Raih Anugerah Bakti Nusantara 2025 Bidang Kesehatan untuk Lembaga-Korporasi
Meski demikian, ia mengakui bahwa proyek yang dimulai pada November 2025 tersebut mengalami keterlambatan dari target awal. Semula ditargetkan rampung pada Februari 2026, namun kini penyelesaiannya mundur menjadi April 2026 karena adanya hambatan teknis di lapangan.
"Di situ juga kan kebetulan ada pengerjaan utilitas lain. Jadi ketemu di situ. Jadi kondisinya, di titik galian itu memang saat ini sedang terkendala. Jadi di bawahnya galian itu, ternyata ada jaringan utilitas lain, sehingga proses pengerjaannya mundur," ungkap Gatra.
Terkait luapan air got kotor berbau menyengat yang sempat menggenangi badan jalan, Gatra menyatakan bahwa hal tersebut bukan berasal dari pit proyek PAM Jaya.
"Kalau kata petugas di lapangan, itu memang air got yang banyak sampahnya di situ. Tapi memang perlu peninjauan kembali di lapangan. Kita juga selama ini sudah koordinasi dengan Sudin SDA (Sumber Daya Air)," ujarnya.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Senin, 2 Maret 2026 sore, air got terlihat membentuk genangan sekitar 2 x 3 meter di tepi jalan dan meluber hingga membuat badan jalan becek serta berbau tidak sedap.
Sejumlah bagian tepi jalan juga tampak mengalami kerusakan akibat rembesan air, sementara papan pembatas proyek masih menutup satu lajur jalan meski beberapa titik galian telah ditutup kembali menggunakan tanah dan semen.
(Sumber: Antara)
Proyek pemasangan pipa PAM Jaya di kawasan Jalan Satu Maret, Pegadungan, Kalideres, Jakarta Barat, Senin, 2 Maret 2026. ANTARA/Risky Syukur (Antara)