Ntvnews.id, Taheran - Otoritas Iran dikabarkan telah menahan sekitar 3.000 orang yang disebut memiliki keterkaitan dengan kelompok-kelompok teroris dan terlibat dalam gelombang aksi protes di negara tersebut.
Dalam beberapa waktu terakhir, Iran diguncang demonstrasi antipemerintah dalam skala besar. Sejumlah pengamat dan saksi mata menilai rangkaian aksi unjuk rasa tersebut telah mencapai titik yang belum pernah terjadi sepanjang 47 tahun berdirinya Republik Islam Iran. Kerusuhan yang menyertai demonstrasi itu dilaporkan menyebabkan ribuan korban jiwa.
Dilansir dari Al Arabiya, Sabtu, 17 Januari 2026, di tengah aksi massa yang meluas di berbagai kota, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman akan "menyerang dengan sangat keras ke titik terlemah" apabila otoritas Iran bertindak represif terhadap para demonstran. Trump juga menyatakan bahwa Amerika Serikat "siap membantu" para pengunjuk rasa.
Menanggapi pernyataan tersebut, pihak berwenang Iran menyatakan akan membalas dengan menyerang sekutu serta kepentingan Amerika Serikat di kawasan. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa aksi demonstrasi itu telah dimanipulasi oleh "musuh-musuh Iran".
Baca Juga: Trump Serukan Warga Iran Terus Demonstrasi, Sebut Bantuan Segera Datang
Hingga Rabu, 14 Januari 2026 Amerika Serikat kembali mengancam akan mengambil langkah militer jika Iran melaksanakan hukuman mati terhadap para tahanan yang ditangkap dalam aksi protes. Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Kamis, 15 Januari 2026 menegaskan bahwa semua opsi masih "di atas meja".
Di sisi lain, kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln beserta sejumlah kapal perang pendampingnya dilaporkan tengah bergerak menuju kawasan Timur Tengah dari Laut China Selatan.
Ilustrasi - Aksi unjuk rasa di Iran. ANTARA/Anadolu/as. (Antara)
Masih dilansir Al Arabiya, harian ternama AS New York Times, yang mengutip dua pejabat anonim, menyebutkan bahwa kapal induk tersebut bersama kapal pengawalnya diperkirakan tiba di wilayah tujuan dalam waktu sekitar satu pekan.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa "sejumlah pesawat tempur, kemungkinan termasuk kombinasi jet tempur, pesawat serang, dan pesawat pengisian bahan bakar, diperkirakan akan segera mulai berdatangan ke wilayah tersebut."
Baca Juga: Mata Uang Iran Terjun Bebas, 1 Dolar AS Kini Setara 1,4 Juta Rial
Selain itu, Pentagon dilaporkan mengirimkan perlengkapan pertahanan udara ke kawasan Timur Tengah, termasuk rudal pencegat, guna melindungi pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Upaya ini difokuskan terutama untuk mengamankan "pangkalan udara al-Udaid di Qatar," sebagaimana ditulis New York Times.
"Dua pejabat AS mengatakan peningkatan persenjataan tersebut bertujuan untuk mencegah otoritas Iran melakukan kekerasan lebih lanjut terhadap para demonstran dan untuk memberi Trump lebih banyak pilihan dalam merencanakan serangan apa pun terhadap Iran," tulis laporan NYT tersebut.
Demo Iran (Anadolu)