Ntvnews.id, Jakarta - Ketegangan antara Iran dan aliansi Amerika Serikat–Israel kembali memanas setelah gelombang serangan militer terbaru mengguncang kawasan Timur Tengah. Perkembangan ini memunculkan tanda tanya besar mengenai sikap China dan Rusia sebagai dua mitra strategis Teheran dalam menghadapi tekanan dari Washington dan Tel Aviv.
Perhatian internasional pun tertuju pada potensi keterlibatan Beijing dan Moskwa, baik dalam bentuk dukungan militer, diplomatik, maupun strategi tidak langsung di balik layar.
Laporan CNN International,menyebutkan bahwa Iran selama ini menegaskan kedekatan hubungan strategisnya dengan Rusia dan China. Teheran diketahui memasok rudal dan drone yang digunakan Rusia dalam konflik di Ukraina. Selain itu, Iran juga sempat mengandalkan sistem pertahanan udara buatan Rusia, meskipun sebagian di antaranya dilaporkan mengalami kerusakan dan belum sepenuhnya diganti.
Di sisi lain, China menjadi tujuan utama ekspor minyak Iran, dengan sekitar 80 persen pasokan dikirim ke negara tersebut. Kepentingan Beijing terhadap stabilitas jalur perdagangan global, terutama melalui Selat Hormuz, turut menjadi faktor penting dalam hubungan bilateral kedua negara.
Meski memiliki kepentingan strategis yang kuat, Moskwa dan Beijing dinilai belum menunjukkan respons konkret terhadap eskalasi terbaru. Percakapan via telepon antara menteri luar negeri Rusia dan China pada Minggu, 28 Februari 2026, hanya berisi kecaman verbal terhadap aksi militer Amerika Serikat dan Israel tanpa penjelasan langkah lanjutan.
Baca Juga: Iran Bombardir Kantor Netanyahu dengan Rudal Mematikan
Hingga kini, belum ada tanda keterlibatan militer langsung dari kedua negara tersebut. Kondisi ini membuat Iran harus menghadapi tekanan eksternal dengan kapasitasnya sendiri di lapangan.
Media Middle East Eye, melaporkan bahwa peluang China dan Rusia mengirim pasukan atau terlibat langsung dalam pertempuran relatif kecil. Pendekatan kedua negara disebut bergerak dalam ranah strategi berbeda yang tidak selalu diwujudkan melalui pengerahan kekuatan militer. Dukungan terhadap Iran lebih banyak disalurkan melalui jalur diplomasi, ekonomi, serta pemberian legitimasi internasional.
China, misalnya, memanfaatkan hak vetonya di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai instrumen politik utama. Dalam rapat darurat bulan lalu, Duta Besar China untuk PBB, Sun Lei, melontarkan kritik terhadap penggunaan kekuatan militer.
“Penggunaan kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Itu hanya akan membuat masalah menjadi lebih kompleks dan sulit diatasi. Petualangan militer apa pun hanya akan mendorong kawasan ini menuju jurang yang tak terduga,” kata Sun Lei.
Arsip - Bendera nasional Rusia terlihat di Kremlin, Moskow, Rusia, 6 Januari 2023. (ANTARA)
Pernyataan tersebut menegaskan posisi Beijing yang mendukung kedaulatan, keamanan, dan integritas teritorial Iran. China juga merujuk pada Piagam PBB dan prinsip hukum internasional sebagai landasan argumennya di forum global. Langkah ini memberikan Teheran dukungan dalam bentuk legitimasi internasional sekaligus narasi tandingan terhadap tekanan negara-negara Barat.
Sementara itu, Rusia dilaporkan mempererat kerja sama pertahanan dengan Iran setelah perang 12 hari melawan Israel pada Juni 2025.
Lembaga pemikir Foundation for Defense of Democracies pada Kamis, 26 Februari 2026 menyebutkan bahwa Iran berharap Moskwa membantu memperkuat sistem pertahanan udaranya yang melemah. Permintaan tersebut muncul di tengah meningkatnya kehadiran militer Amerika Serikat di Timur Tengah, yang disebut sebagai yang terbesar sejak invasi Irak pada 2003.
Harian Financial Times melaporkan adanya kontrak senilai 495 juta euro atau sekitar Rp 9,8 triliun untuk pengiriman sistem pertahanan udara baru “Verba” dari Rusia ke Iran. Kesepakatan ini ditandatangani pada Desember, menyusul permintaan resmi Teheran pada Juli, tak lama setelah konflik 12 hari dengan Israel.
Baca Juga: Iran Nyatakan tak Akan Lagi Berunding dengan AS
Rangkaian konflik tersebut, termasuk dua serangan Israel pada 2024, menyebabkan sejumlah sistem pertahanan udara Iran hancur atau mengalami kerusakan, termasuk baterai rudal permukaan-ke-udara jarak jauh S-300 buatan Rusia.
Sistem 9K333 Verba—dengan kode NATO SA-29 Gizmo—merupakan sistem pertahanan udara portabel (MANPADS) paling mutakhir Rusia yang diproduksi secara massal. Sistem ini mampu menargetkan pesawat hingga jarak sekitar 6 kilometer pada ketinggian hampir 15.000 kaki serta menggunakan pencari multispektral berbasis ultraviolet, inframerah dekat, dan inframerah tengah guna meningkatkan akurasi sasaran.
Dengan pendekatan yang lebih mengedepankan diplomasi dan penguatan pertahanan dibandingkan intervensi langsung, China dan Rusia tampaknya memilih memainkan peran strategis jangka panjang. Sementara itu, Iran tetap menjadi aktor utama di garis depan dalam menghadapi tekanan militer dari aliansi Amerika Serikat dan Israel.
Ilustrasi - pembicaraan nuklir Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu/py (Antara)