Ntvnews.id, Bogota - Ratusan warga Kolombia menggelar aksi unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Bogota untuk memprotes penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya. Informasi tersebut disampaikan oleh koresponden RIA Novosti, Jumat.
Demonstrasi yang berlangsung pada Kamis itu diprakarsai oleh serikat guru terbesar di Kolombia, Federasi Pekerja Pendidikan Kolombia (Fecode).
"Ini adalah tindakan perlawanan terhadap pembunuhan brutal 130 orang lebih dan penculikan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya yang juga anggota parlemen, Cilia Flores. Ini adalah tindakan memalukan dari kebiadaban yang mengerikan," kata Juan Fernando Romero, aktivis sekaligus pengacara, kepada RIA Novosti, sebagaimana dikutip dari Sputnik, Sabtu, 17 Januari 2026.
Aksi protes tersebut muncul setelah pada 3 Januari Amerika Serikat melancarkan serangan besar terhadap Venezuela. Dalam operasi itu, Maduro dan istrinya ditangkap dan dibawa ke New York.
Baca Juga: 30.000 Pasukan Kolombia Disiagakan di Perbatasan Venezuela
Presiden AS Donald Trump kemudian menyatakan bahwa Nicolas Maduro dan Cilia Flores akan menjalani proses persidangan dengan tuduhan terlibat dalam "narkoterorisme" serta dianggap menimbulkan ancaman, termasuk bagi Amerika Serikat.
Namun, dalam persidangan yang digelar di New York, keduanya menyatakan tidak bersalah atas seluruh tuduhan yang dialamatkan kepada mereka.
Presiden Kolombia Gustavo Petro. ANTARA/Anadolu/aa. (Antara)
Menanggapi situasi tersebut, Mahkamah Agung Venezuela untuk sementara waktu menyerahkan kewenangan kepala negara kepada Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez.
Selanjutnya, pada 5 Januari, Delcy Rodriguez resmi dilantik sebagai presiden sementara Venezuela dan mengucapkan sumpah jabatan di hadapan Majelis Nasional.
Pengunjuk rasa dari berbagai aliansi membakar bendera AS dan poster bergambar presiden AS Donald Trump saat menggelar aksi solidaritas untuk Venezuela di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta, Selasa (6/1/2026). Dalam aksi solidaritas tersebu (Antara)