Sekjen PBB Soroti Ketegangan Iran, Desak Perlindungan Kebebasan Berekspresi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 17 Jan 2026, 09:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. Arsip - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. (Antara)

Ntvnews.id, New York - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyampaikan keprihatinan serius atas meningkatnya ketegangan di Iran setelah gelombang protes yang diwarnai bentrokan serta tindakan represif aparat keamanan.

Dilansir dari Anadolu, Sabtu, 17 Januari 2026, Guterres menekankan pentingnya menjaga kebebasan berekspresi dan keberlangsungan ruang sipil. Saat berbicara di hadapan Sidang Umum PBB di New York, ia menegaskan bahwa hak warga untuk menyampaikan pendapat secara damai harus tetap dijamin di tengah situasi yang kian memanas.

“Kita harus melindungi kebebasan berbicara dan ruang sipil,” kata Guterres.

“Dalam konteks itu, saya sangat prihatin dengan apa yang disebut sebagai represi kekerasan yang terjadi di Iran,” ujarnya, merujuk pada laporan mengenai penindakan aparat terhadap para demonstran.

Aksi protes di Iran mulai merebak pada akhir Desember 2025. Gelombang unjuk rasa tersebut dipicu oleh kekhawatiran publik terhadap lonjakan inflasi yang dinilai berkaitan erat dengan melemahnya nilai tukar mata uang nasional, rial Iran, terhadap mata uang asing.

Baca Juga: Iran Minta PBB Kecam AS atas Tuduhan Hasutan Kekerasan

Tekanan ekonomi ini memperburuk kondisi kehidupan masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah, sehingga memicu kemarahan yang kemudian menyebar ke berbagai kota besar.

Sejak 8 Januari, intensitas demonstrasi dilaporkan meningkat setelah adanya seruan dari Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979, yang mengajak masyarakat untuk turun ke jalan.

Ilustrasi - Aksi unjuk rasa di Iran. ANTARA/Anadolu/as. <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Aksi unjuk rasa di Iran. ANTARA/Anadolu/as. (Antara)

Pada hari yang sama, akses internet di Iran dilaporkan mengalami pemblokiran secara luas. Kelompok hak asasi manusia menilai langkah tersebut bertujuan membatasi koordinasi dan arus informasi terkait aksi protes.

Di sejumlah wilayah, termasuk Teheran dan beberapa ibu kota provinsi, demonstrasi berubah menjadi bentrokan dengan aparat keamanan. Massa aksi dilaporkan meneriakkan slogan-slogan yang mengkritik pemerintah serta kebijakan ekonomi negara.

Baca Juga: Rusia: Greenland dan Denmark Bersatu Hadapi Ancaman AS Rebut Pulau

Media dan sumber independen juga melaporkan adanya korban luka hingga meninggal dunia, baik dari kalangan aparat keamanan maupun demonstran, meskipun otoritas Iran belum merilis data resmi secara rinci.

Perkembangan ini memicu perhatian dan kecaman dari komunitas internasional. Guterres pun menyerukan agar seluruh pihak menahan diri, menghormati hak asasi manusia, serta menghindari eskalasi kekerasan yang berpotensi memperdalam krisis di Iran.

TERKINI

Load More
x|close