Ntvnews.id, Jakarta - Meskipun pengiriman bantuan kemanusiaan dan upaya perluasan layanan terus dilakukan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza masih berada pada tingkat yang sangat memprihatinkan bagi ratusan ribu keluarga yang membutuhkan bantuan.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada Selasa, 27 Januari 2026, melaporkan bahwa bersama para mitranya, PBB telah menyediakan roti setiap hari bagi sekitar 43 persen penduduk Gaza. Bantuan tersebut diberikan secara gratis maupun dijual dengan harga subsidi di bawah 1 dolar AS untuk setiap paket seberat dua kilogram.
Menurut OCHA, distribusi roti ini melengkapi penyaluran tepung terigu bulanan kepada rumah tangga. Sepanjang bulan ini, sekitar 1,2 juta warga Gaza telah menerima tepung sebagai bagian dari paket bantuan pangan rutin.
Selain bantuan pangan, OCHA menyebutkan bahwa lebih dari 7.500 keluarga telah memperoleh dukungan berupa tenda, terpal, perlengkapan penutup darurat, kasur, dan selimut. Sementara itu, mitra perlindungan anak juga telah menyalurkan pakaian musim dingin kepada sekitar 1.400 anak di seluruh wilayah Gaza.
Namun demikian, badan PBB tersebut mengungkapkan bahwa dampak cuaca dingin masih terus menelan korban. Selama akhir pekan lalu, satu anak Gaza dilaporkan meninggal akibat hipotermia, sehingga jumlah kematian anak yang terkait cuaca dingin kini mencapai 10 orang.
Baca juga: PBB Kirim Ribuan Paket Pendidikan ke Gaza
OCHA menegaskan perlunya solusi jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan lebih dari satu juta orang yang memerlukan bantuan tempat tinggal. Kebutuhan tersebut mencakup peralatan perbaikan rumah, material untuk membangun ruang pemanas bersama, serta perlengkapan pembersihan puing dan reruntuhan guna membuka lahan hunian.
Sejak Rabu, 21 Januari, mitra kemanusiaan yang memimpin sektor perlindungan telah menjangkau lebih dari 2.300 keluarga melalui bantuan tunai berbasis voucher dan perlengkapan musim dingin. Selain itu, dukungan kesehatan mental, layanan psikososial, dan pendampingan kasus juga diberikan kepada ratusan warga.
Dalam laporan terpisah yang dirilis pada Jumat, 23 Januari 2026, mitra perlindungan global PBB juga memperingatkan bahwa penggunaan kekuatan berlebihan oleh pasukan Israel di Tepi Barat telah menyebabkan tingginya angka korban jiwa dan luka-luka, khususnya di kalangan pria dan anak laki-laki Palestina.
Laporan tersebut menekankan pentingnya respons yang lebih tegas dengan fokus pada perlindungan warga sipil, serta menyerukan pembebasan warga Palestina yang ditahan secara sewenang-wenang.
(Sumber: Antara)
Sumber Antara
Warga Palestina terlihat setelah mereka kembali ke daerah Sheikh Radwan yang hancur di utara Kota Gaza pada 6 November 2025. (Antara)