Ntvnews.id, Jakarta - Bencana longsor terjadi di Kabupaten Bandung Barat pada Sabtu, 24 Januari 2026. Peristiwa tersebut menyebabkan puluhan warga terdampak, menimbulkan korban jiwa, serta menyisakan puluhan orang yang hingga kini masih dalam pencarian.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) per 26 Januari 2026, kondisi geologi kawasan menjadi salah satu pemicu utama longsor. Struktur batuan yang telah mengalami pelapukan, tanah yang gembur dengan daya ikat lemah, serta curah hujan tinggi membuat material tanah mudah bergerak ke bawah. Situasi ini diperparah oleh perubahan fungsi lahan untuk permukiman dan pertanian, serta pemotongan lereng tanpa sistem drainase memadai.
Data Badan SAR Nasional (Basarnas) per 27 Januari 2026 mencatat sebanyak 155 warga terdampak dalam peristiwa tersebut. Selain itu, sebanyak 48 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 32 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Proses pencarian korban terus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi medan yang sulit dan potensi longsor susulan.
Baca Juga: Evakuasi Korban Longsor di Cisarua Terus Dilanjutkan
Dalam upaya penanganan darurat, tim gabungan memperluas wilayah pencarian, mengerahkan personel lintas instansi beserta anjing pelacak, serta mengoperasikan lima unit pompa air untuk membersihkan lumpur di lokasi longsor. Sebanyak delapan alat berat juga dikerahkan guna menjangkau area sulit, sementara tempat pengungsian dilengkapi dengan pasokan air bersih dan fasilitas sanitasi.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menekankan pentingnya penguatan daya dukung dan daya tampung lingkungan agar fungsi ekologis kawasan tetap terjaga di tengah aktivitas pemanfaatan lahan.
Berikut Infografiknya:
Longsor di Kabupaten Bandung Barat pada Sabtu, 24 Januari 2026, menimbulkan korban jiwa dan puluhan lainnya masih hilang. Kejadian ini disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor mulai dari kondisi alam hingga aktivitas manusia. (Antara)
Longsor di Kabupaten Bandung Barat pada Sabtu, 24 Januari 2026, menimbulkan korban jiwa dan puluhan lainnya masih hilang. Kejadian ini disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor mulai dari kondisi alam hingga aktivitas manusia. (Antara)