Ntvnews.id, Teheran - Nilai tukar mata uang rial Iran kembali melemah dan mencatatkan rekor terendah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat pada Rabu, 28 Januari 2026.
Di pasar dalam negeri, dolar AS diperdagangkan di atas level 1.580.000 rial, melanjutkan tren penurunan tajam yang sudah berlangsung sejak akhir pekan sebelumnya, ketika nilai tukar masih berada di kisaran 1.510.000 rial per dolar. Data dari sejumlah situs pemantau mata uang menunjukkan bahwa rial Iran telah kehilangan sekitar lima persen nilainya sejak awal Januari 2026.
Nour News menilai pelemahan tajam tersebut dipicu oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari meningkatnya ketegangan internasional, kebijakan ekonomi dalam negeri, fluktuasi pasar global, hingga melonjaknya permintaan mata uang asing di pasar lokal.
Pemerintah Iran sebelumnya telah berupaya menahan gejolak pasar melalui sejumlah langkah stabilisasi, termasuk menunjuk kembali Abdolnaser Hemmati sebagai gubernur bank sentral pada Desember 2025.
Hemmati menggantikan Mohammad-Reza Farzin yang mengundurkan diri dan dibebani tugas meredam hiperinflasi, menstabilkan nilai tukar, serta membenahi ketidakseimbangan sektor perbankan dan praktik korupsi ekonomi yang telah berlangsung lama.
Baca Juga: Mata Uang Iran Terjun Bebas, 1 Dolar AS Kini Setara 1,4 Juta Rial
Meski demikian, di tengah tekanan nilai tukar yang kian dalam, Hemmati sempat menanggapi situasi tersebut dengan menyatakan bahwa pasar valuta asing sedang berada di “jalur alaminya”. Pernyataan itu disampaikan di tengah kekhawatiran pelaku pasar terhadap keberlanjutan stabilitas ekonomi Iran.
Tekanan ekonomi juga berdampak pada situasi sosial di dalam negeri. Pada Desember 2025, para pedagang di Grand Bazaar Teheran menutup toko mereka sebagai bentuk protes atas anjloknya nilai rial serta rencana pemerintah untuk mencabut subsidi sejumlah bahan pangan dan bahan bakar. Aksi tersebut kemudian meluas ke berbagai wilayah dan berkembang menjadi unjuk rasa bernuansa politik yang diwarnai kekerasan.
Pemerintah Iran berulang kali membantah adanya ketidakstabilan internal yang serius dan menyebut gejolak tersebut sebagai hasil hasutan pihak asing. Otoritas setempat menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai aktor di balik kerusuhan yang terjadi.
Baca Juga: Iran Tak Gentar dengan Gertakan Trump
(Sumber: Antara)
Seorang pejalan kaki berjalan di jalan di Lapangan Enghelab di Teheran, Iran, Kamis, 15 Januari 2026. ANTARA/Xinhua/aa. (Antara)